<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>~Kumpulan Kisah Shahabiah~</title>
	<atom:link href="http://shahabiah.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://shahabiah.wordpress.com</link>
	<description>__kisah teladan_penuh ilmu dan hikmah__ummahatul mukminin &#38; muslimah teladan_</description>
	<lastBuildDate>Wed, 11 May 2011 01:28:06 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='shahabiah.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://0.gravatar.com/blavatar/a37f986ce0da4461ea7aefe11fe89ecb?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>~Kumpulan Kisah Shahabiah~</title>
		<link>http://shahabiah.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://shahabiah.wordpress.com/osd.xml" title="~Kumpulan Kisah Shahabiah~" />
	<atom:link rel='hub' href='http://shahabiah.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Halimah Sa&#8217;diyah : Wanita yang Menyusui Rasulullah</title>
		<link>http://shahabiah.wordpress.com/2011/05/10/halimah-sadiyah-wanita-yang-menyusui-rasulullah/</link>
		<comments>http://shahabiah.wordpress.com/2011/05/10/halimah-sadiyah-wanita-yang-menyusui-rasulullah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 May 2011 03:01:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Shahabiah Zafaraan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Halimah Sa'diyah]]></category>
		<category><![CDATA[wanita mulia]]></category>
		<category><![CDATA[waniya teladan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://shahabiah.wordpress.com/?p=124</guid>
		<description><![CDATA[Wanita mulia tersebut adalah Halimah bintu Abdullah bin Al-Harits As-Sa’diyah. Suaminya adalah Al-Harits bin Abdul Izzi bin Rifa’ah As-Sa’di. Anak-anaknya adalah Abdullah, Anisah dan Khadzdzamah. Anak-anak Al-Harits ini semuanya bertompel, mereka semua adalah saudara sepersusuan Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam. Halimah juga menyusui Abu Sufyan bin Al-Harits bin Abdul Munthalib, anak paman Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=shahabiah.wordpress.com&amp;blog=15180232&amp;post=124&amp;subd=shahabiah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Wanita mulia tersebut adalah Halimah bintu Abdullah bin Al-Harits As-Sa’diyah. Suaminya adalah Al-Harits bin Abdul Izzi bin Rifa’ah As-Sa’di. Anak-anaknya adalah Abdullah, Anisah dan Khadzdzamah. Anak-anak Al-Harits ini semuanya bertompel, mereka semua adalah saudara sepersusuan Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam. Halimah juga menyusui Abu Sufyan bin Al-Harits bin Abdul Munthalib, anak paman Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam.</p>
<p><strong>MENCARI ANAK SUSUAN</strong></p>
<p>Halimah As-Sa’diyah adalah wanita Arab yang sangat terkenal karena menjadi ibu Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. Halimah menceritakan tentang penyusuannya dengan penjelasan yang panjang lebar dan komprehensif. Ia mengatakan, “Suatu ketika aku keluar bersama para wanita bani Sa’ad untuk mencari anak susuan. Waktu itu adalah tahun yang sangat sulit (paceklik). Kami menegendarai keledai putih dan kurus. Kami membawa serta unta betina yang tidak mengandung air susu setetes pun. Kami semua tidak pernah tidur di malam hari karena bayi kami selalu menangis karena rasa lapar. Puting kami tidak lagi menyediakan apa yang mencukupinya. Unta betina kami tidak pula menyediakan apa-apa yang mengenyangkannya. Kami selalu mengharap hujan dan jalan keluar. Sampai kami sengaja datang ke Mekah. Setiap wanita yang diperlihatakan kepada Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam merasa enggan untuk mengasuhnya, setelah dikatakan bahwa dirinya adalah anak yatim, dikarenakan kami selalu menaruh harapan kebaikan dari ayah si anak asuh. Kami berkata, ” Ia yatim, apa gerangan yang akan diperbuat oleh ibu atau kakeknya? Oleh karena itu, kami tidak tertarik. Tidak ada dari wanita-wanita yang bersamaku mengambilnya, selain diriku. Ketika rombongan kami sepakat untuk pulang, aku berbicara kepada suamiku, “Demi Allah, sungguh aku tidak suka untuk pulang bersama kawan-kawan wanita yang lain, sebelum mendapatkan anak susuan. Demi Allah, aku pergi menuju anak susuan yang yatim itu, dan pasti aku akan mengambilnya. Ia berkata, “Lakukan itu, semoga Allah memberi kita berkah lantaran anak itu.” Aku pergi menuju anak itu dan mengambilnya.</p>
<p><span id="more-124"></span></p>
<p><strong>BERKAH YANG MELIMPAH</strong></p>
<p>Berkah yang melimpah kepada Halimah dan suaminya setelah mengambil Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam. Suatu hari, Halimah dan suaminya merasakan lapar dan haus. Namun, dari mana mereka mendapatkan makanan karena susu unta betinanya tidak berisi. Seketika mereka berdua lupa akan keadaan dirinya. Keadaan telah berubah dalam sekejap. Keadaan ini diriwayatkan sendiri oleh Halimah. Ia berkata, “Suamiku bangkit menuju unta betina milik kami. Ternyata susunya sangat penuh. Ia memerahnya untuk diminum bersamaku hingga kami puas dan kenyang, sehingga kami tertidur di malam yang sangat baik itu. Ketika pagi suamiku berkata, “Demi Allah ketahuilah wahai Halimah! Engkau telah mengambil orang yang penuh dengan berkah.”</p>
<p>Aku mengatakan, “Demi Allah, itulah yang kuharapkan.”</p>
<p>Kemudian kami serombongan bepergian dengan menunggang keledai. Kubawa serta anak itu. Demi Allah, jarak itu kutempuh dengan tungganganku jauh lebih cepat daripada keledai-keledai orang lain sehingga kawank-kawanku berkata kepadaku, “Wahai anak serigala, sial engkau! temani kami! Bukankah ini keledaimu yang dulu kau tunggangi saat bepergian?”</p>
<p>Kukatakan kepada mereka, : Ya, demi Allah benar. Keledai ini adalah keledai yang dulu itu.” Mereka mengatakan, “Demi Allah, sekarang keledaimu tidak seperti dulu!”</p>
<p>Rombongan tiba di daerah pedalaman bani Sa’ad yang terlihat bekas-bekas kekeringan di tahun itu. Halimah telah melihat berkah anak yatim itu. Kebaikan telah memancar kepadanya dari segala penjuru. Keberkahan meliputinya dalam segala hal. Kambing-kambingnya selalu keluar menuju ke tempat-tempat penggembalaan bersama kambing-kambing orang lain. Ketika kembali ke kandang selalu dengan susu yang penuh. Sedangkan kambing-kambing yang lain pulang dengan keadaan sebagaimana ketika pergi, sehingga kaumnya mencerca tukang gembala mereka. Demikianlah hari-hari Halimah hingga berjalan selama 2 tahun.</p>
<p><strong>KEMBALI MENGASUH RASULULLAH</strong></p>
<p>Setelah menyusuinya selam 2 tahun, Halimah harus membawanya kembali pulang ke pangkuan ibu kandungnya, Aminah, di Mekal Al-Mukarramah. Halimah membawanya kepada sang ibu, sekalipun sangat ingin agar anak asuhnya tetap bersamanya karena melihat besaranya berkah pada diri Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam.</p>
<p>Aminah sangat berbahagia dengan anaknya yang mulia. Khususnya ketika melihatnya sedemikina suci dan tumbuh laksana anak berumur 4 tahun, padahal belum lebih dari 2 tahun. Halimah berbicara sangat lembut kepada Aminah, mengharap agar mengizinkan anaknya kembali ke pedalaman lagi. Aminah mengizinkannya. Halimah kembali ke pedalaman dengan anak asuhnya. Demikianlah, Nabi tinggal di tengah-tengah bani Sa’ad sampai berumur 4 atau 5 tahun dari hari lahirnya hingga terjadi peristiwa “pembelahan dada”. Setelah kejadian ini, Halimah merasa takut sehingga mengembalikan kepada ibu kandungnya. Halimah kembali ke daerah pedalaman. Dia tinggal di sana beberapa tahun. Selanjutnya ketika Allah mengutus Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam kepada seluruh manusia, maka Halimah As-Sa’diyah masuk Islam bersama suami dan anak-anaknya.</p>
<p><strong>KEDUDUKAN HALIMAH</strong></p>
<p>Halimah berkedudukan mulia di sisi Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. Tidak ada kehormatan dan kelembutan yang lebih baik daraipada yang diberikan kepada ibu asuhnya, Halimah. Bukti sikap beliau yang sangat menghormati Halimah yaitu ketika menyambut kedatangan Halimah dengan berteriak, “Ibuku, Ibuku.” Lalu beliau membentangkan sorbannya untuk ibu asuhnya itu sebagai bukti bakti dan kebaikan beliau kepadanya.</p>
<p><strong>WAFATNYA</strong></p>
<p>Halimah masuk Isalam dan berhijrah. Ia meninggal di Madinah Munawwarah, lalu dimakamkan di Baqi’. Makam Halimah sangat dikenal di sana. Semoga Allah mengangkat derajatnya bersama pasa sahabat Nabi lainnya.</p>
<p>~~~</p>
<p>Sumber : majalah nikah vol. 5, No. 11, Februaru 2007, Muharram 1428</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/shahabiah.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/shahabiah.wordpress.com/124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/shahabiah.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/shahabiah.wordpress.com/124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/shahabiah.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/shahabiah.wordpress.com/124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/shahabiah.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/shahabiah.wordpress.com/124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/shahabiah.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/shahabiah.wordpress.com/124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/shahabiah.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/shahabiah.wordpress.com/124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/shahabiah.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/shahabiah.wordpress.com/124/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=shahabiah.wordpress.com&amp;blog=15180232&amp;post=124&amp;subd=shahabiah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://shahabiah.wordpress.com/2011/05/10/halimah-sadiyah-wanita-yang-menyusui-rasulullah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/fcef25fed79197e5e90e53a4fbad9e3a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">shahabiah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ummu Fadhl, Bibi Rasulullah</title>
		<link>http://shahabiah.wordpress.com/2010/09/14/ummu-fadhl-bibi-rasulullah/</link>
		<comments>http://shahabiah.wordpress.com/2010/09/14/ummu-fadhl-bibi-rasulullah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Sep 2010 04:04:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Shahabiah Zafaraan</dc:creator>
				<category><![CDATA[shahabiah]]></category>
		<category><![CDATA[Ummu Fadhl]]></category>
		<category><![CDATA[kisah shahabiah]]></category>
		<category><![CDATA[kisah teladan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://shahabiah.wordpress.com/?p=115</guid>
		<description><![CDATA[Nama beliau adalah Lubabah binti al-Haris bin Huzn bin Bajir bin Hilaliyah. Beliau adalah Lubabah al-Kubra, ia dikenal dengan kuniyahnya (Ummu Fadhl) dan juga dengan namanya mereka kenal. Ibu dari Lubabah r.ha adalah Khaulah binti `Auf al-Qurasyiyah. Ummu Fadhl adalah salah satu dari empat wanita yang dinyatakan keimanannya oleh Rasulullah SAW. Keempat wanita tersebut adalah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=shahabiah.wordpress.com&amp;blog=15180232&amp;post=115&amp;subd=shahabiah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://shahabiah.files.wordpress.com/2010/09/imageskui.jpeg"><img class="aligncenter size-full wp-image-118" title="imageskui" src="http://shahabiah.files.wordpress.com/2010/09/imageskui.jpeg?w=500" alt=""   /></a></p>
<p>Nama beliau adalah Lubabah binti al-Haris bin Huzn  bin Bajir bin Hilaliyah. Beliau adalah Lubabah al-Kubra, ia dikenal  dengan kuniyahnya (Ummu Fadhl) dan juga dengan namanya mereka kenal. Ibu  dari Lubabah r.ha adalah Khaulah binti `Auf al-Qurasyiyah. Ummu Fadhl  adalah salah satu dari empat wanita yang dinyatakan keimanannya oleh  Rasulullah SAW. Keempat wanita tersebut adalah Maimunah, Ummu Fadhl,  Asma` dan Salma.</p>
<p><span id="more-115"></span></p>
<p>Adapun Maimunah adalah Ummul Mukminin r.ha saudara  kandung dari Ummu Fadhl. Sedangkan Asma` dan Salma adalah kedua saudari  dari jalan ayahnya sebab keduanya adalah putri dari `Umais.</p>
<p>Ummu  Fadhl r.ha adalah istri dari Abbas, paman Rasulullah SAW., dan ibu dari  enam orang yang mulia, pandai dan belum ada seorang wanitapun yang  melahirkan laki-laki semisal mereka. Mereka adalah Fadhl, Abdullah  al-Faqih, Ubaidullah al-Faqih, Ma`bad, Qatsam dan Abdurrahman. Tentang  Ummu Fadhl ini Abdullah bin Yazid berkata,<br />
Tiada seorangpun yang melahirkan orang-orang yang terkemuka<br />
Yang aku lihat sebagaimana enam putra Ummu Fadhl<br />
Putra dari dua orang tua yang mulia<br />
Pamannya Nabiyul Musthafa yang mulia<br />
Penutup para Rasul dan sebaik-baik rasul</p>
<p>Ummu  Fadhl r.ha masuk Islam sebelum hijrah, beliau adalah wanita pertama  yang masuk Islam setelah Khadijah (Ummul Mukminin r.ha) sebagaimana yang  dituturkan oleh putra beliau Abdullah bin Abbas, &#8220;Aku dan Ibuku adalah  termasuk orang-orang yang tertindas dari wanita dan anak-anak.&#8221;</p>
<p>Ummu  Fadhl termasuk wanita yang berkedudukan tinggi dan mulia di kalangan  para wanita. Rasulullah SAW., terkadang mengunjungi beliau dan terkadang  tidur siang di rumahnya.</p>
<p>Ummu Fadhl adalah  seorang wanita yang pemberani dan beriman, yang memerangi Abu Lahab si  musuh Allah dan membunuhnya. Diriwayatkan oleh Ibnu Ishak dari Ikrimah  berkata, &#8220;Abu Rafi` budak Rasulullah saw berkata, ‘Aku pernah menjadi  budak Abbas, ketika Islam datang maka Abbas masuk Islam disusul oleh  Ummu Fadhl, namun Abbas masih disegani terhadap kaumnya.</p>
<p>Abu  Lahab tidak dapat menyertai perang Badar dan mewakilkannya kepada Ash  bin Hisyam bin Mughirah, begitulah kebiasaan mereka manakala tidak  mengikuti suatu peperangan maka ia mewakilkan kepada orang lain.</p>
<p>Tatkala  datang kabar tentang musibah yang menimpa orang-orang Quraisy pada  perang Badar yang mana Allah telah menghinakan dan merendahkan Abu  Lahab, maka sebaliknya kami merasakan adanya kekuatan dan `izzah pada  diri kami. Aku adalah seorang laki-laki yang lemah, aku bekerja membuat  gelas yang aku pahat di bebatuan sekitar zam-zam, demi Allah suatu  ketika aku duduk sedangkan di dekatku ada Ummu fadhl yang sedang duduk,  sebelumnya kami berjalan, namun tidak ada kebaikan yang sampai kepada  kami, tiba-tiba datanglah Abu Lahab dengan berlari kemudian duduk,  tatkala dia duduk tiba-tiba orang-orang berkata, &#8220;Ini dia Abu Sufyan bin  Harits telah datang dari Badar. Abu Lahab berkata, &#8220;Datanglah kemari  sungguh aku menanti beritamu.</p>
<p>Kemudian duduklah  Abu Jahal dan orang-orang berdiri mengerumuni sekitarnya. Berkatalah Abu  Lahab, &#8220;Wahai putra saudaraku beritakanlah bagaimana keadaan manusia  (dalam perang Badar).?&#8221; Abu Sufyan berkata, &#8220;Demi Allah tatkala kami  menjumpai mereka, tiba-tiba mereka tidak henti-hentinya menyerang  pasukan kami, mereka memerangi kami sesuka mereka dan mereka menawan  kami sesuka hati mereka. Demi Allah sekalipun demikian tatkala aku  menghimpun pasukan, kami melihat ada sekelompok laki-laki yang berkuda  hitam putih berada di tengah-tengah manusia, demi Allah mereka tidak  menginjakkan kakinya di tanah.”</p>
<p>Abu Rafi`  berkata, &#8220;Aku mengangkat batu yang berada di tanganku, kemudian berkata,  ‘Demi Allah itu adalah malaikat. Tiba-tiba Abu Lahab mengepalkan  tangannya dan memukul aku dengan pukulan yang keras, maka aku telah  membuatnya marah, kemudian dia menarikku dan membantingku ke tanah,  selanjutnya dia dudukkan aku dan memukuliku sedangkan aku adalah  laki-laki yang lemah. Tiba-tiba berdirilah Ummu Fadhl mengambil sebuah  tiang dari batu kemudian beliau pukulkan dengan keras mengenai kepala  Abu Lahab sehingga melukainya dengan parah. Ummu Fadhl berkata, ‘Saya  telah melemahkannya sehingga jatuhlah kredibilitasnya.’</p>
<p>Kemudian  bangunlah Abu Lahab dalam keadaan terhina, Demi Allah ia tidak hidup  setelah itu melainkan hanya tujuh malam hingga Allah menimpakan  kepadanya penyakit bisul yang menyebabkan kematiannya.”</p>
<p>Begitulah  perlakuan seorang wanita mukminah yang pemberani terhadap musuh Allah  sehingga menjadi gugurlah kesombongannya dan merosotlah kehormatannya  karena ternoda. Alangkah bangganya sejarah Islam yang telah mencatat  Ummu Fadhl r.ha sebagai teladan bagi para wanita yang dibina oleh Islam.</p>
<p>Ibnu Sa`d menyebutkan di dalam ath-Thabaqat  al-Kubra bahwa Ummu Fadhl suatu hari bermimpi dengan suatu mimpi yang  menakjubkan, sehingga ia bersegera untuk mengadukannya kepada Rasulullah  SAW, ia berkata, &#8220;Wahai Rasulullah saya bermimpi seolah-olah sebagian  dari anggota tubuhmu berada di rumahku.&#8221; Rasulullah SAW., bersabda:,<br />
&#8220;Mimpimu  bagus, kelak Fatimah melahirkan seorang anak laki-laki yang nanti akan  engkau susui dengan susu yang engkau berikan buat anakmu (Qatsam).”</p>
<p>Ummu  Fadhl keluar dengan membawa kegembiraan karena berita tersebut, dan  tidak berselang lama Fatimah melahirkan Hasan bin Ali RA., yang kemudian  diasuh oleh Ummu Fadhl.</p>
<p>Ummu fadhl berkata,  &#8220;Suata ketika aku mendatangi Rasulullah SAW., dengan membawa bayi  tersebut maka Rasulullah SAW., segera menggendong dan mencium bayi  tersebut, namun tiba-tiba bayi tersebut mengencingi Rasulullah SAW.,  lalu beliau bersabda, &#8220;Wahai Ummu Fadhl peganglah anak ini karena dia  telah mengencingiku.&#8221;</p>
<p>Ummu Fadhl berkata, &#8220;Maka  aku ambil bayi tersebut dan aku cubit sehingga dia menangis, aku  berkata, &#8220;Engkau telah menyusahkan Rasulullah karena engkau telah  mengencinginya.&#8221; Tatkala melihat bayi tersebut menangis Rasulullah SAW.,  bersabda, &#8220;Wahai Ummu Fadhl justru engkau yang menyusahkanku karena  telah membuat anakku menangis.&#8221; Kemudian Rasulullah SAW., meminta air  lalu beliau percikkan ke tempat yang terkena air kencing kemudian  bersabd,<br />
&#8220;Jika bayi laki-laki maka percikilah dengan air, akan tetapi apabila bayi wanita maka cucilah.”</p>
<p>Di  dalam riwayat lain, Ummu Fadhl berkata, &#8220;Lepaslah sarung anda dan  pakailah baju yang lain agar aku dapat mencucinya.&#8221; Namun nabi bersabda,<br />
&#8220;Yang dicuci hanyalah air kencing bayi wanita dan cukuplah diperciki dengan air apabila terkena air kencing bayi laki-laki.”</p>
<p>Di  antara peristiwa yang mengesankan Lubabah binti al-Haris r.ha adalah  tatkala banyak orang bertanya kepada beliau ketika hari Arafah apakah  Rasulullah SAW., shaum ataukah tidak.? Maka dengan kebijakannya, beliau  menghilangkan problem yang menimpa kaum muslimin dengan cara beliau  memanggil salah seorang anaknya kemudian menyuruhnya untuk mengirimkan  segelas susu kepada Rasulullah SAW., tatkala beliau berada di Arafah,  kemudian tatkala dia menemukan Rasulullah SAW., dengan dilihat oleh  semua orang beliau menerima segelas susu tersebut kemudian meminumnya.</p>
<p>Di  sisi yang lain Ummu Fadhl r.ha mempelajari Hadits asy-Syarif dari  Rasulullah SAW., dan beliau meriwayatkan sebanyak tiga puluh hadits.  Adapun yang meriwayatkan dari beliau adalah sang putra beliau Abdulllah  bin Abbas RA., Tamam yakni budaknya, Anas bin Malik dan yang lain-lain.</p>
<p>Kemudian  wafatlah Ummu Fadhl r.ha pada masa khalifah Ustman bin Affan r.a  setelah meninggalkan kepada kita contoh yang baik yang patut ditiru  sebagai ibu yang shalihah yang melahirkan tokoh semisal Abdullah bin  Abbas, kyai umat ini dan Turjumanul Qur`an (yang ahli dalam hal tafsir  al-Qur`an), Begitu pula telah memberikan contoh terbaik bagi kita dalam  hal kepahlawanan yang memancar dari akidah yang benar yang muncul  darinya keberanian yang mampu menjatuhkan musuh Allah yang paling keras  permusuhannya.</p>
<p>(Sumber: Mengenal Shahabiah Nabi SAW., karya Mahmud Mahdi al-Istanbuly, et.ali., h.228-233, penerbit at-Tibyan)</p>
<p>assunnah-qatar.com</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/shahabiah.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/shahabiah.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/shahabiah.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/shahabiah.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/shahabiah.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/shahabiah.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/shahabiah.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/shahabiah.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/shahabiah.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/shahabiah.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/shahabiah.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/shahabiah.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/shahabiah.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/shahabiah.wordpress.com/115/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=shahabiah.wordpress.com&amp;blog=15180232&amp;post=115&amp;subd=shahabiah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://shahabiah.wordpress.com/2010/09/14/ummu-fadhl-bibi-rasulullah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/fcef25fed79197e5e90e53a4fbad9e3a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">shahabiah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://shahabiah.files.wordpress.com/2010/09/imageskui.jpeg" medium="image">
			<media:title type="html">imageskui</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Asiyah, Wanita yang Ditampakkan Surga Untuknya</title>
		<link>http://shahabiah.wordpress.com/2010/08/28/asiyah-wanita-yang-ditampakkan-surga-untuknya/</link>
		<comments>http://shahabiah.wordpress.com/2010/08/28/asiyah-wanita-yang-ditampakkan-surga-untuknya/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Aug 2010 08:06:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Shahabiah Zafaraan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asiyah binti Muzahim]]></category>
		<category><![CDATA[kisah]]></category>
		<category><![CDATA[kisah teladan]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah islam]]></category>
		<category><![CDATA[siroh]]></category>
		<category><![CDATA[wanita mulia]]></category>
		<category><![CDATA[wanita teladan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://shahabiah.wordpress.com/?p=109</guid>
		<description><![CDATA[Penulis: Ummu Uwais Herlani Clara Sidi Pratiwi Muraja’ah: ustadz Abu Ukkasyah Aris Munandar Wanita, sosok lemah dan tak berdaya yang terbayangkan. Dengan lemahnya fisik, Allah tidak membebankan tanggung jawab nafkah di pundak wanita, memberi banyak keringanan dalam ibadah dan perkara lainnya. Mereka adalah sosok yang mudah mengeluh dan tidak tahan dengan beban yang menghimpitnya. Dengan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=shahabiah.wordpress.com&amp;blog=15180232&amp;post=109&amp;subd=shahabiah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis: Ummu Uwais Herlani Clara Sidi Pratiwi<br />
Muraja’ah: ustadz Abu Ukkasyah Aris Munandar</p>
<p><a href="http://shahabiah.files.wordpress.com/2010/08/indexnm.jpeg"><img class="alignleft size-full wp-image-120" title="indexnm" src="http://shahabiah.files.wordpress.com/2010/08/indexnm.jpeg?w=500" alt=""   /></a>Wanita, sosok lemah dan tak berdaya yang terbayangkan. Dengan lemahnya fisik, Allah tidak membebankan tanggung jawab nafkah di pundak wanita, memberi banyak keringanan dalam ibadah dan perkara lainnya. Mereka adalah sosok yang mudah mengeluh dan tidak tahan dengan beban yang menghimpitnya. Dengan kebengkokannya sehingga Rasulullah<em> shalallahu ‘alaihi wa sallam</em> memerintahkan untuk bersikap lembut dan banyak mewasiatkan agar bersikap baik kepadanya.  Oleh karena itu, tidak mengherankan kiranya jika Allah Tabaroka wa Ta’ala dengan segala hikmah-Nya mengamanahkan kaum wanita kepada kaum laki-laki.</p>
<p>Namun, kelemahan itu tak harus melunturkan keteguhan iman. Sebagaimana keteguhan salah seorang putri, istri dari seorang suami yang menjadi musuh Allah Rabb alam semesta. Seorang suami yang angkuh atas kekuasaan yang ada di tangannya, yang dusta lagi kufur kepada Rabbnya. Putri yang akhirnya harus disiksa oleh tangan suaminya sendiri, yang disiksa karena keimanannya kepada Allah Dzat Yang Maha Tinggi. Dialah Asiyah binti Muzahim, istri Fir’aun.</p>
<p><span id="more-109"></span></p>
<p>Ketika mengetahui keimanan istrinya kepada Allah, maka murkalah Fir’aun. Dengan keimanan dan keteguhan hati, wanita shalihah tersebut tidak goyah pendiriaannya, meski mendapat ancaman dan siksaan dari suaminya.</p>
<p>Kemudian keluarlah sang suami yang dzalim ini kepada kaumnya dan berkata pada mereka, <em>“Apa yang kalian ketahui tentang Asiyah binti Muzahaim?” </em>Mereka menyanjungnya.Lalu Fir’aun berkata lagi kepada mereka,<em>“Sesungguhnya dia menyembah Tuhan selainku.” </em>Berkatalah mereka kepadanya,<em>“Bunuhlah dia!” </em></p>
<p><em> </em>Alangkah beratnya ujian wanita ini, disiksa oleh suaminya sendiri.</p>
<p>Dimulailah siksaan itu, Fir’aun pun memerintahkan para algojonya untuk memasang tonggak. Diikatlah kedua tangan dan kaki Asiyah pada tonggak tersebut, kemudian dibawanya wanita tersebut di bawah sengatan terik matahari. Belum cukup sampai disitu siksaan yang ditimpakan suaminya. Kedua tangan dan kaki Asiyah dipaku dan di atas punggungnya diletakkan batu yang besar. Subhanallah…saudariku, mampukah kita menghadapi siksaan semacam itu? Siksaan yang lebih layak ditimpakan kepada seorang laki-laki yang lebih kuat secara fisik dan bukan ditimpakan atas diri wanita yang bertubuh lemah tak berdaya. Siksaan yang apabila ditimpakan atas wanita sekarang, mugkin akan lebih memilih menyerah daripada mengalami siksaan semacam itu.</p>
<p>Namun, akankah siksaan itu menggeser keteguhan hati Asiyah walau sekejap? Sungguh siksaan itu tak sedikitpun mampu menggeser keimanan wanita mulia itu. Akan tetapi, siksaan-siksaan itu justru semakin menguatkan keimanannya.</p>
<p>Iman yang berangkat dari hati yang tulus, apapun yang menimpanya tidak sebanding dengan harapan atas apa yang dijanjikan di sisi Allah Tabaroka wa Ta’ala. Maka Allah pun tidak menyia-nyiakan keteguhan iman wanita ini. Ketika Fir’aun dan algojonya meninggalkan Asiyah, para malaikat pun datang menaunginya.</p>
<p>Di tengah beratnya siksaan yang menimpanya, wanita mulia ini senantiasa berdo’a memohon untuk dibuatkan rumah di surga. Allah mengabulkan doa Asiyah, maka disingkaplah hijab dan ia melihat rumahnya yang dibangun di dalam surga. Diabadikanlah doa wanita mulia ini di dalam al-Qur’an,</p>
<p><em>“Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya dan selamatkan aku dari kaum yang dzalim.”</em> (Qs. At-Tahrim:11)</p>
<p>Ketika melihat rumahnya di surga dibangun, maka berbahagialah wanita mulia ini. Semakin hari semakin kuat kerinduan hatinya untuk memasukinya. Ia tak peduli lagi dengan siksaan Fir’aun dan algojonya. Ia malah tersenyum gembira yang membuat Fir’aun bingung dan terheran-heran. Bagaimana mungkin orang yang disiksa akan tetapi malah tertawa riang? Sungguh terasa aneh semua itu baginya. Jika seandainya apa yang dilihat wanita ini ditampakkan juga padanya, maka kekuasaan dan kerajaannya tidak ada apa-apanya.</p>
<p>Maka tibalah saat-saat terakhir di dunia. Allah mencabut jiwa suci wanita shalihah ini dan menaikkannya menuju rahmat dan keridhaan-Nya. Berakhir sudah penderitaan dan siksaan dunia, siksaan dari suami yang tak berperikemanusiaan.</p>
<p>Saudariku..tidakkah kita iri dengan kedudukan wanita mulia ini? Apakah kita tidak menginginkan kedudukan itu? Kedudukan tertinggi di sisi Allah Yang Maha Tinggi. Akan tetapi adakah kita telah berbuat amal untuk meraih kemuliaan itu? Kemuliaan yang hanya bisa diraih dengan amal shalih dan pengorbanan. Tidak ada kemuliaan diraih dengan memanjakan diri dan kemewahan.</p>
<p>Saudariku..tidakkah kita menjadikan Asiyah sebagai teladan hidup kita untuk meraih kemuliaan itu? Apakah kita tidak malu dengannya, dimana dia seorang istri raja, gemerlap dunia mampu diraihnya, istana dan segala kemewahannya dapat dengan mudah dinikmatinya. Namun, apa yang dipilihnya? Ia lebih memilih disiksa dan menderita karena keteguhan hati dan keimanannya. Ia lebih memilih kemuliaan di sisi Allah, bukan di sisi manusia. Jangan sampailah dunia yang tak seberapa ini melenakan kita. Melenakan kita untuk meraih janji Allah Ta’ala, surga dan kenikmatannya.</p>
<p>Saudariku…jangan sampai karena alasan kondisi kita mengorbankan keimanan kita, mengorbankan aqidah kita. Marilah kita teladani Asiyah binti Muzahim dalam mempertahankan iman. Jangan sampai bujuk rayu setan dan bala tentaranya menggoyahkan keyakinana kita. Janganlah penilaian manusia dijadikan ukuran, tapi jadikan penilaian Allah sebagai tujuan. Apapun keadaan yang menghimpit kita, seberat apapun situasinya, hendaknya ridha Allah lebih utama. Mudah-mudahan Allah mengaruniakan surga tertinggi yang penuh kenikmatan.</p>
<p>Maraaji’:<br />
<em>14 Wanita Mulia dalam sejarah Islam</em> (terjemahan dari <em>Nisa’ Lahunna Mawaqif</em>) karya Azhari Ahmad Mahmud</p>
<p>***</p>
<p>sumber artikel: muslimah.or.id</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/shahabiah.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/shahabiah.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/shahabiah.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/shahabiah.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/shahabiah.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/shahabiah.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/shahabiah.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/shahabiah.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/shahabiah.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/shahabiah.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/shahabiah.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/shahabiah.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/shahabiah.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/shahabiah.wordpress.com/109/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=shahabiah.wordpress.com&amp;blog=15180232&amp;post=109&amp;subd=shahabiah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://shahabiah.wordpress.com/2010/08/28/asiyah-wanita-yang-ditampakkan-surga-untuknya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/fcef25fed79197e5e90e53a4fbad9e3a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">shahabiah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://shahabiah.files.wordpress.com/2010/08/indexnm.jpeg" medium="image">
			<media:title type="html">indexnm</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Wanita yang Allah Ta&#8217;ala mendengarkan perkataannya dari langit yang ketujuh:Khaulah binti Tsa’labah radhiyallahu ‘anha</title>
		<link>http://shahabiah.wordpress.com/2010/08/21/wanita-yang-allah-taala-mendengarkan-perkataannya-dari-langit-yang-ketujuhkhaulah-binti-tsa%e2%80%99labah-radhiyallahu-%e2%80%98anha/</link>
		<comments>http://shahabiah.wordpress.com/2010/08/21/wanita-yang-allah-taala-mendengarkan-perkataannya-dari-langit-yang-ketujuhkhaulah-binti-tsa%e2%80%99labah-radhiyallahu-%e2%80%98anha/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Aug 2010 11:56:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Shahabiah Zafaraan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Khaulah binti Tsa’labah radhiyallahu ‘anha]]></category>
		<category><![CDATA[shahabiah]]></category>
		<category><![CDATA[ayat zhihar]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[kafarat zhihar]]></category>
		<category><![CDATA[kisah]]></category>
		<category><![CDATA[kisah teladan]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah islam]]></category>
		<category><![CDATA[siroh]]></category>
		<category><![CDATA[wanita teladan]]></category>
		<category><![CDATA[zhihar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://shahabiah.wordpress.com/?p=99</guid>
		<description><![CDATA[Beliau adalah Khaulah binti Tsa`labah bin Ashram bin Fahar bin Tsa`labah Ghanam bin ‘Auf. Beliau tumbuh sebagai wanita yang fasih dan pandai. Beliau dinikahi oleh Aus bin Shamit bin Qais, saudara dari Ubadah bin Shamit r.a yang beliau menyertai perang Badar dan perang Uhud dan mengikuti seluruh perperangan yang disertai Rasulullah saw. Dengan Aus inilah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=shahabiah.wordpress.com&amp;blog=15180232&amp;post=99&amp;subd=shahabiah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://shahabiah.files.wordpress.com/2010/08/image009.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-101" title="image009" src="http://shahabiah.files.wordpress.com/2010/08/image009.jpg?w=300&#038;h=300" alt="" width="300" height="300" /></a>Beliau adalah Khaulah binti Tsa`labah bin Ashram bin Fahar bin  Tsa`labah Ghanam bin ‘Auf. Beliau tumbuh sebagai wanita yang fasih dan  pandai. Beliau dinikahi oleh Aus bin Shamit bin Qais, saudara dari  Ubadah bin Shamit r.a yang beliau menyertai perang Badar dan perang Uhud  dan mengikuti seluruh perperangan yang disertai Rasulullah saw. Dengan  Aus inilah beliau melahirkan anak laki-laki yang bernama Rabi`.<br />
<span id="more-99"></span><br />
Khaulah binti Tsa`labah mendapati suaminya Aus bin Shamit dalam masalah  yang membuat Aus marah, dia berkata, “Bagiku engkau ini seperti punggung  ibuku.” Kemudian Aus keluar setelah mengatakan kalimat tersebut dan  duduk bersama orang-orang beberapa lama lalu dia masuk dan menginginkan  Khaulah. Akan tetapi kesadaran hati dan kehalusan perasaan Khaulah  membuatnya menolak hingga jelas hukum Allah terhadap kejadian yang baru  pertama kali terjadi dalam sejarah Islam. Khaulah berkata,  “Tidak…jangan! Demi yang jiwa Khaulah berada di tangan-Nya, engkau tidak  boleh menjamahku karena engkau telah mengatakan sesuatu yang telah  engkau ucapkankan terhadapku sehingga Allah dan Rasul-Nya lah yang  memutuskan hukum tentang peristiwa yang menimpa kita.</p>
<p>Kemudian Khaulah keluar menemui Rasulullah saw, lalu dia duduk di  hadapan beliau dan menceritakan peristiwa yang menimpa dirinya dengan  suaminya. Keperluannya adalah untuk meminta fatwa dan berdialog dengan  nabi tentang urusan tersebut. Rasulullah saw bersabda, “Kami belum  pernah mendapatkan perintah berkenaan urusanmu tersebut… aku tidak  melihat melainkan engkau sudah haram baginya.”<br />
Wanita mukminah ini mengulangi perkatannya dan menjelaskan kepada  Rasulullah saw apa yang menimpa dirinya dan anaknya jika dia harus cerai  dengan suaminya, namun rasulullah saw tetap menjawab, “Aku tidak  melihat melainkan engkau telah haram baginya”.</p>
<p>Sesudah itu wanita mukminah ini senantiasa mengangkat kedua tangannya  ke langit sedangkan di hatinya tersimpan kesedihan dan kesusahan. Pada  kedua matanya nampak meneteskan air mata dan semacam ada penyesalan,  maka beliau menghadap kepada Yang tiada akan rugi siapapun yang berdoa  kepada-Nya. Beliau berdo’a, “Ya Allah sesungguhnya aku mengadu kepada-Mu  tentang peristiwa yang menimpa diriku”.</p>
<p>Alangkah bagusnya seorang wanita mukminah semacam Khaulah, beliau  berdiri di hadapan Rasulullah saw dan berdialog untuk meminta fatwa,  adapun istighatsah dan mengadu tidak ditujukan melainkan untuk Allah  Ta`ala. Ini adalah bukti kejernihan iman dan tauhidnya yang telah  dipelajari oleh para sahabat kepada Rasulullah saw.<br />
Tiada henti-hentinya wanita ini berdo`a sehingga suatu ketika Rasulullah  saw pingsan sebagaimana biasanya beliau pingsan tatkala menerima wahyu.  Kemudian setelah Rasulullah saw sadar kembali, beliau bersabda, “Wahai  Khaulah, sungguh Allah telah menurunkan al-Qur`an tentang ditimu dan  suamimu kemudian beliau membaca firman-Nya (artinya), “Sesungguhnya  Allah telah mendengar perkatan wanita yang mengajukan gugatan kepada  kamu tentang suaminya, dan mengadukan [halnya] kepada Allah. Dan Allah  mendengar soal jawab antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha  Mendengar lagi Maha Melihat,…sampai firman Allah: “dan bagi oranr-orang  kafir ada siksaan yang pedih.”(Al-Mujadalah:1-4)<br />
Kemudian Rasulullah saw menjelaskan kepada Khaulah tentang kafarat (tebusan) Zhihar:</p>
<p>Nabi : Perintahkan kepadanya (suami Khansa`) untuk memerdekan seorang budak<br />
Khaulah : Ya Rasulullah dia tidak memiliki seorang budak yang bisa dia merdekakan.<br />
Nabi : Jika demikian perintahkan kepadanya untuk shaum dua bulan berturut-turut<br />
Khaulah : Demi Allah dia adalah laki-laki yang tidak kuat melakukan shaum.<br />
Nabi : Perintahkan kepadanya memberi makan dari kurma sebanyak 60 orang miskin<br />
Khaulah : Demi Allah ya Rasulullah dia tidak memilikinya.<br />
Nabi : Aku bantu dengan separuhnya<br />
Khaulah : Aku bantu separuhnya yang lain wahai Rasulullah.<br />
Nabi : Engkau benar dan baik maka pergilah dan sedekahkanlah kurma itu  sebagai kafarat baginya, kemudian bergaulah dengan anak pamanmu itu  secara baik.” Maka Khaulah pun melaksanakannya.</p>
<p>Inilah kisah seorang wanita yang mengajukan gugatan kepada pemimpin  anak Adam a.s yang mengandung banyak pelajaran di dalamnya dan banyak  hal yang menjadikan seorang wanita yang mengangkat kepalanya  tinggi-tinggi dengan bangga dan perasaan mulia dan besar perhatian Islam  terhadapnya.</p>
<p>Ummul mukminin Aisyah ra berkata tentang hal ini, “Segala puji bagi  Allah yang Maha luas pendengaran-Nya terhadap semua suara, telah datang  seorang wanita yang mengajukan gugatan kepada Rasulullah saw, dia  berbincang-bincang dengan Rasulullah saw sementara aku berada di samping  rumah dan tidak mendengar apa yang dia katakan, maka kemudian Allah  Azza wa Jalla menurunkan ayat, “Sesungguhnya Allah telah mendengar  perkatan wanita yang memajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya dan  mengadukan (halnya) kepada Allah…” (Al-Mujadalah: 1)</p>
<p>Inilah wanita mukminah yang dididik oleh Islam yang menghentikan  Khalifah Umar bin Khaththab r.a saat berjalan untuk memberikan wejangan  dan nasehat kepadanya. Beliau berkata, “Wahai Umar aku telah mengenalmu  sejak namamu dahulu masih Umair (Umar kecil) tatkala engkau berada di  pasar Ukazh engkau mengembala kambing dengan tongkatmu, kemudian  berlalulah hari demi hari sehingga memiliki nama Amirul Mukminin, maka  bertakwalah kepada Allah perihal rakyatmu, ketahuilah barangsiapa yang  takut akan siksa Allah maka yang jauh akan menjadi dekat dengannya dan  barangsiapa yang takut mati maka dia kan takut kehilangan dan  barangsiapa yang yakin akan adanya hisab maka dia takut terhadap Adzab  Allah.” Beliau katakan hal itu sementara Umar Amirul Mukminin berdiri  sambil menundukkan kepalanya dan mendengar perkataannya.<br />
Akan tetapi al-Jarud al-Abdi yang menyertai Umar bin Khaththab tidak  tahan mengatakan kepada Khaulah, “Engkau telah berbicara banyak kepada  Amirul Mukminin wahai wanita.!” Umar kemudian menegurnya, “Biarkan  dia…tahukah kamu siapakah dia? Beliau adalah Khaulah yang Allah  mendengarkan perkataannya dari langit yang ketujuh, maka Umar lebih  berhak untuk mendengarkan perkataannya. “</p>
<p>Dalam riwayat lain Umar bin Khaththab berkata, “Demi Allah seandainya  beliau tidak menyudahi nasehatnya kepadaku hingga malam hari maka aku  tidak akan menyudahinya sehingga beliau selesaikan apa yang dia  kehendaki, kecuali jika telah datang waktu shalat maka aku akan  mengerjakan shalat kemudian kembali mendengarkannya sehingga selesai  keperluannya.”</p>
<p>(SUMBER: buku Mengenal Shahabiah Nabi SAW., karya Mahmud Mahdi  al-Istanbuly dan Musthafa Abu an-Nashar asy-Syalaby, h.242-246, penerbit  AT-TIBYAN)</p>
<p>dari web: alqiyamah.wordpress.com</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/shahabiah.wordpress.com/99/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/shahabiah.wordpress.com/99/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/shahabiah.wordpress.com/99/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/shahabiah.wordpress.com/99/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/shahabiah.wordpress.com/99/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/shahabiah.wordpress.com/99/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/shahabiah.wordpress.com/99/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/shahabiah.wordpress.com/99/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/shahabiah.wordpress.com/99/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/shahabiah.wordpress.com/99/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/shahabiah.wordpress.com/99/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/shahabiah.wordpress.com/99/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/shahabiah.wordpress.com/99/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/shahabiah.wordpress.com/99/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=shahabiah.wordpress.com&amp;blog=15180232&amp;post=99&amp;subd=shahabiah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://shahabiah.wordpress.com/2010/08/21/wanita-yang-allah-taala-mendengarkan-perkataannya-dari-langit-yang-ketujuhkhaulah-binti-tsa%e2%80%99labah-radhiyallahu-%e2%80%98anha/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/fcef25fed79197e5e90e53a4fbad9e3a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">shahabiah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://shahabiah.files.wordpress.com/2010/08/image009.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">image009</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Wanita dengan Mahar Paling Mulia:Ummu Sulaim binti Malhan -radhiallaahu &#8216;anha-</title>
		<link>http://shahabiah.wordpress.com/2010/08/21/wanita-dengan-mahar-paling-muliaummu-sulaim-binti-malhan-radhiallaahu-anha/</link>
		<comments>http://shahabiah.wordpress.com/2010/08/21/wanita-dengan-mahar-paling-muliaummu-sulaim-binti-malhan-radhiallaahu-anha/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Aug 2010 20:39:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Shahabiah Zafaraan</dc:creator>
				<category><![CDATA[shahabiah]]></category>
		<category><![CDATA[Ummu Sulaim binti Malhan -radhiallaahu 'anha-]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[kisah]]></category>
		<category><![CDATA[kisah shahabiah]]></category>
		<category><![CDATA[kisah teladan]]></category>
		<category><![CDATA[wanita teladan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://shahabiah.wordpress.com/?p=87</guid>
		<description><![CDATA[Beliau bernama Rumaisha’, Ummu Sulaim binti Malhan bin Khalid bin Zaid bin Haram bin Jundub bin Amir bin Ghanam bin ‘Ady bin Najjar al-Anshariyyah al-Khazrajiyyah. Beliau adalah seorang wanita yang memiliki sifat keibuan dan cantik, dirinya dihiasi pula dengan ketabahan, kebijaksanan, lurus pemikirannya, dan dihiasi pula dengan kecerdasan berfikir dan kefasihan serta berakhlak mulia, sehingga [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=shahabiah.wordpress.com&amp;blog=15180232&amp;post=87&amp;subd=shahabiah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beliau bernama Rumaisha’, Ummu Sulaim binti Malhan  bin Khalid bin Zaid bin Haram bin Jundub bin Amir bin Ghanam bin ‘Ady  bin Najjar al-Anshariyyah al-Khazrajiyyah.<a href="http://shahabiah.files.wordpress.com/2010/08/imagesbhg.jpeg"><img class="alignright size-full wp-image-92" title="imagesbhg" src="http://shahabiah.files.wordpress.com/2010/08/imagesbhg.jpeg?w=500" alt=""   /></a></p>
<p>Beliau  adalah seorang wanita yang memiliki sifat keibuan dan cantik, dirinya  dihiasi pula dengan ketabahan, kebijaksanan, lurus pemikirannya, dan  dihiasi pula dengan kecerdasan berfikir dan kefasihan serta berakhlak  mulia, sehingga nantinya cerita yang baik ditujukan kepada beliau dan  setiap lisan memuji atasnya. Karena beliau memiliki sifat yang agung  tersebut sehingga mendorong putra pamannya yang bernama Malik bin Nadlar  untuk segera menikahinya. Dari hasil pernikahannya ini lahirlah Anas  bin Malik, salah seorang shahabat yang agung.</p>
<p><span id="more-87"></span></p>
<p>Tatkala  cahaya nubuwwah mulai terbit dan dakwah tauhid muncul sehingga  menyebabkan orang-orang yang berakal sehat dan memiliki fitrah yang  lurus untuk bersegera masuk Islam.</p>
<p>Ummu Sulaim  termasuk golongan pertama yang masuk Islam awal-awal dari golongan  Anshar. Beliau tidak mempedulikan segala kemungkinan yang akan  menimpanya didalam masyarakat jahiliyah penyembah berhala yang telah  beliau buang tanpa ragu.</p>
<p>Adapun halangan pertama  yang harus beliau hadapi adalah kemarahan Malik suaminya yang baru saja  pulang dari bepergian dan mendapati istrinya telah masuk Islam. Malik  berkata dengan kemarahan yang memuncak, “Apakah engkau murtad dari  agamamu?”. Maka dengan penuh yakin dan tegar beliau menjawab: ”Tidak,  bahkan aku telah beriman”.</p>
<p>Suatu ketika beliau  menuntun Anas (putra beliau) sembari mengatakan: “Katakanlah La ilaha  illallah.” (Tidak ada ilah yang haq kecuali Allah). Katakanlah, Asyhadu  anna Muhammadan Rasulullah.” (aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan  Allah) kemudian Anas mau menirukannya. Akan tetapi ayah Anas mengatakan,  “Janganlah engkau merusak anakku”. Maka beliau menjawab: “Aku tidak  merusaknya akan tetapi aku mendidik dan memperbaikinya”.</p>
<p>Perasaan  gengsi dengan dosa-dosa menyebabkan Malik bin Nadlar menentukan sikap  terhadap istrinya yang –menurutnya- keras kepala dan tetap ngotot  berpegang kepada akidah yang baru, maka Malik tidak memiliki alternatif  lain selain memberi khabar kepada istrinya bahwa dia akan pergi dari  rumah dan tidak akan kembali hingga istrinya mau kembali kepada agama  nenek moyangnya.</p>
<p>Manakala Malik mendengar  istrinya dengan tekad yang kuat karena teguh terhadap pendiriannya  mengulang-ulang kalimat “Ashadu an la ilaha illallah wa asyhadu anna  Muhammadan Rasulullah”, maka Malik pergi dari rumah dalam keadaan marah  dan kemudian bertemu dengan musuh sehingga akhirnya dia dibunuh.</p>
<p>Ketika  Ummu Sulaim mengetahui bahwa suaminya telah terbunuh, beliau tetap  tabah mengatakan: “Aku tidak akan menyampih Anas sehingga dia sendiri  yang memutusnya, dan aku tidak akan menikah sehingga Anas menyuruhku”.</p>
<p>Kemudian  Ummu Anas menemui Rasulullah yang dicintai dengan rasa malu kemudian  beliau mengajukan agar buah hatinya, Anas dijadikan pembantu oleh guru  manusia yang mengajarkan segala kebaikan. Rasulullah menerimanya  sehingga sejuklah pandangan Ummu Sulaim karenanya.</p>
<p>Kemudian  orang-orang banyak membicarakan Anas bin Malik dan juga ibunya dengan  penuh takjub dan bangga. Begitu pula Abu Thalhah mendengar kabar  tersebut sehingga menjadikan hatinya cenderung cinta dan takjub.  Kemudian dia beranikan diri melamar Ummu Sulaim dan menyediakan baginya  mahar yang tinggi. Akan tetapi, tiba-tiba saja pikirannya menjadi kacau  dan lisannya menjadi kelu tatkala Ummu Sulaim menolak dengan wibawa dan  penuh percaya diri dengan berkata: “Sesungguhnya tidak pantas bagiku  menikah dengan orang musyrik. Ketahuilah wahai Abu Thalhah bahwa  tuhan-tuhan kalian adalah hasil pahatan orang dari keluarga fulan, dan  sesungguhnya seandainya kalian mau membakarnya maka akan terbakarlah  tuhan kalian”.</p>
<p>Abu Thalhah merasa sesak dadanya,  kemudian dia berpaling sedangkan dirinya seolah-olah tidak percaya  dengan apa yang telah dia lihat dan dia dengar. Akan tetapi cintanya  yang tulus mendorong dia kembali pada hari berikutnya dengan membawa  mahar yang lebih banyak, roti maupun susu dengan harapan Ummu Sulaim  akan luluh dan menerimanya.</p>
<p>Akan tetapi Ummu  Sulaim adalah seorang da`iyah yang cerdik yang tatkala melihat dunia  menari-nari dihadapannya berupa harta, kedudukan dan laki-laki yang  masih muda, dia merasakan bahwa keterikatan hatinya dengan Islam lebih  kuat dari pada seluruh kenikmatan dunia. Beliau berkata dengan sopan:  “Orang seperti anda memang tidak pantas ditolak, wahai Abu Thalhah,  hanya saja engkau adalah orang kafir sedangkan saya adalah seorang  muslimah sehingga tidak baik bagiku menerima lamarnmu”. Abu Thalhah  bertanya: “lantas apa yang anda inginkan?”, beliau balik bertanya: “Apa  yang saya inginkan?”. Abu Thalhah bertanya: “apakah anda menginginkan  emas atau pera?”. Ummu Sulaim berkata: “Sesungguhnya aku tidak  menginginkan emas ataupun perak akan tetapi saya menginginkan agar anda  masuk Islam”. “Kepada siapa saya harus datang untuk masuk Islam?”, tanya  Abu Thalhah. Beliau berkata: “Datanglah kepada Rasulullah untuk itu!”.  Maka pergilah Abu Thalhah untuk menemui Nabi yang tatkala itu sedang  duduk-duduk bersama para sahabat. Demi melihat kedatangan Abu Thalhah,  Rasulullah bersabda:</p>
<p>“Telah datang kepada kaliaan Abu Thalhah sedang sudah tampak cahaya Islam dikedua matanya”.</p>
<p>Selanjutnya  Abu Thalhah menceritakan kepada Nabi tentang apa yang dikatakan oleh  Ummu Sulaim, maka da menikahi Ummu Sulaim dengan mahar keislamannya.</p>
<p>Dalam riwayat lain dikatakan bahwa Ummu sulaim berkata:<br />
“Demi  Allah! orang yang seperti anda tidak pantas untuk ditolak, hannya saja  engkau adalah orang kafir sedangkan aku adalah seorang muslimah sehingga  tidak halal untuk menikah denganmu. Jika kamu mau masuk Islam maka  itulah mahar bagiku dan aku tidak meminta yang selain dari itu”.</p>
<p>Sungguh  ungkapan tersebut mampu menyentuh perasaan yang paling dalam dan  mengisi hati Abu Thalhah, sungguh Ummu Sulaim telah bercokol dihatinya  secara sempurna, dia bukanlah seorang wanita yang suka bermain-main dan  takluk dengan rayuan-rayuan kemewahan, sesungguhnya dia adalah wanita  cerdas, dan apakah dia akan mendapatkan yang lebih baik darinya untuk  diperistri, atau ibu bagi anak-anaknya?”.</p>
<p>Tanpa  terAsa lisan Abu Thalhah mengulang-ulang: “Aku berada diatas apa yang  kamu yakini, aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang haq kecuali Allah  dan aku bersaksi Muhammad adalah utusan Allah”.</p>
<p>Ummu  Sulaim lalu menoleh kepada putranya, Anas dan beliau berkata dengan  suka cita karena hidayah Allah yang diberikan kepada Abu Thalhah melalui  tangannya: “Wahai Anas! Nikahkanlah aku dengan Abu thalhah”. Kemudian  beliaupun dinikahkan dengan Islam sebagai mahar.</p>
<p>Oleh karena itulah Tsabit meriwayatkan hadits dari Anas :<br />
“Aku belum pernah mendengar seorang wanitapun yang paling mulia maharnya dari Ummu Sulaim karena maharnya adalah Islam”.</p>
<p>Ummu  Sulaim hidup bersama Abu Thalhah dengan kehidupan suami-istri yang  diisi dengan nilai-nilai Islam yang menaungi bagi kehidupan suami istri,  dengan kehidupan yang tenang dan penuh kebahagiaan.</p>
<p>Ummu  Sulaim adalah profil seorang istri yang menunaikan hak-hak suami isteri  dengan sebaik-baiknya, sebagaimana juga contoh terbaik sebagai seorang  ibu, seorang pendidik yang utama dan seorang da`iyah.</p>
<p>Begitulah  Abu Thalhah mulai memasuki madrasah imaniyah melalui istrinya yang  utama yakni Ummu Sulaim sehingga pada gilirannya beliau minum dari mata  air nubuwwah hingga menjadi setara dalam hal kemuliaan dengan Ummu  Sulaim.</p>
<p>Marilah kita dengarkan penuturan Anas bin  Malik yang menceritakan kepada kita bagaimana perlakuan Abu Thalhah  terhadap kitabullah dan komitmennya terhadap al-Qur`an sebagai landasan  dan kepribadian. Anas bin Malik berkata :</p>
<p>“Abu  Thalhah adalah orang yang paling kaya di kalangan Anshar Madinah, adapun  harta yang paling disukainya adalah kebun yang berada di masjid, yang  biasanya Rasulullah masuk ke dalamnya dan minum air jernih didalamnya.  Tatkala turun ayat :<br />
“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan  (yang sempurna), sebelum kamu nafkahkan sebagian harta yang kamu  cintai.” (Q,.s. آli’ Imran: 92).</p>
<p>Seketika Abu  Thalhah berdiri menghadap Rasulullah dan berkata: “Sesungguhnya Allah  telah berfirman di dalam kitab-Nya (yang artinya), “Kamu sekali-kali  tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan  sebahagian harta yang kamu cintai.” Dan sesungguhnya harta yang paling  aku sukai adalah kebunku, untuk itu aku sedekahkan ia untuk Allah dengan  harapan mendapatkan kebaikan dan simpanan di sisi Allah, maka  pergunakanlah sesuka kamu, wahai Rasulullah”.</p>
<p>Rasulullah bersabda :<br />
“Bagus  …..bagus.. itulah harta yang menguntungkan…. Itulah harta yang paling  menguntungkan…..aku telah mendengar apa yang kamu katakan dan aku  memutuskan agar engkau sedekahkan kepada kerabat-kerabatmu”.</p>
<p>Maka Abu Thalhah membagi-bagikannya kepada sanak kerabat dan anak-anak dari pamannya.</p>
<p>Allah  memuliakan kedua suami-istri ini dengan seorang anak laki-laki sehingga  keduanya sangat bergembira dan anak tersebut menjadi penyejuk pandangan  bagi keduanya dengan pergaulannya dan tingkah lakunya. Anak tersebut  diberi nama Abu ‘Umair. Suatu ketika anak tersebut bermain-main dengan  seekor burung lalu burung tersebut mati. Hal itu menjadikan anak  tersebut bersedih dan menangis. Pada waktu itu, Rasulullah melewati  dirinya maka beliau berkata kepada anak tersebut untuk menghibur dan  bermain dengannya: “Wahai Abu Umair! Apa yang dilakukan oleh anak burung  pipit itu?”.</p>
<p>Allah berkehendak untuk menguji  keduanya dengan keduanya dengan seorang anak yang cakap dan dicintai,  suatu ketika Abu Umair sakit sehingga kedua orang tuanya disibukkan  olehnya. Sudah menjadi kebiasaan bagi ayahnya apabila kembali dari  pasar, pertama kali yang dia kerjakan setelah mengucapkan salam adalah  bertanya tentang kesehatan anaknya, dan beliau belum merasa tenang  sebelum melihat anaknya.</p>
<p>Suatu ketika Abu Thalhah  keluar ke masjid dan bersamaan dengan itu anaknya meninggal. Maka ibu  Mu`minah yang sabar ini menghadapi musibah tersebut dengan jiwa yang  ridla dan baik. Sang ibu membaringkannya ditempat tidur sambil  senantiasa mengulangi kalimat: “Inna lillahi wa inna ilahi raji`un”.  Beliau berpesan kepada anggota keluarganya: “Janganlah kalian  menceritakan kepada Abu Thalha hingga aku sendiri yang menceritakan  kepadanya”.</p>
<p>Ketika Abu Thalhah kembali, Ummu  Sulaim mengusap air mata kasih sayangnya, kemudian dengan bersemangat  menyambut suaminya dan menjawab pertanyaannya seperti biasanya: “Apa  yang dilakukan oleh anakku?”. Beliau menjawab: “dia dalam keadaan  tenang”.</p>
<p>Abu Thalhah mengira bahwa anaknya sudah  dalam keadaan sehat, sehingga Abu Thalhah bergembira dengan ketenangan  dan kesehatannya, dan dia tidak mau mendekat karena khawatir mengganggu  ketenangannya. Kemudian Ummu Sulaim mendekati beliau dan mempersiapkan  malam baginya, lalu beliau makan dan minum sementara Ummu Sulaim  bersolek dengan dandanan lebih cantik daripada hari-hari sebelumnya,  beliau mengenakan baju yang paling bagus, berdandan dan memakai  wangi-wangian, kemudian keduanyapun berbuat sebagai mana layaknya suami  istri.</p>
<p>Tatkala Ummu Sulaim melihat bahwa suaminya  sudah kenyang dan mencampurinya serta merasa tenang dengan keadaan  anaknya maka beliau memuji Allah karena tidak membuat risau suaminya dan  beliau biarkan suaminya terlelap dalam tidurnya.</p>
<p>Tatkala  diakhir malam beliau berkata kepada suaminya: “Wahai Abu Thalhah!  bagaimana pendapatmu seandainya suatu kaum menitipkan barangnya kepada  suatu keluarga kemudian suatu ketika mereka mengambil titipannya  tersebut, maka bolehkah bagi keluarga tersebut untuk menolaknya?”. Abu  Thalhah menjawab: “Tentu saja tidak boleh”. Kemudian Ummu Sulaim berkata  lagi: “Bagaimana pendapatmu jika keluarga tersebut berkeberatan tatkala  titipannya diambil setelah dia sudah dapat memanfaatkannya?”. Abu  Thalhah berkata: “Berarti mereka tidak adil”. Ummu Sulaim berkata:  ”Sesunggguhnya anakmu titipan dari Allah dan Allah telah mengambilnya,  maka tabahkanlah hatimu dengan meninggalnya anakmu”.</p>
<p>Abu  Thalhah tidak kuasa menahan amarahnya, maka beliau berkata dengan  marah: “kau biarkan aku dalam keadaan seperti ini baru kamu kabari  tentang anakku?”.</p>
<p>Beliau ulang-ulang kata-kata  tersebut hingga beliau mengucapkan kalimat istirja` (Inna lillahi wa  inna ilahi raji`un) lalu bertahmid kepada Allah sehingga  berangsur-angsur jiwanya menjadi tenang.</p>
<p>Keesokan  harinnya beliau pergi menghadap Rasulullah dan mengabarkan kapada  Rasulullah tentang apa yang terjadi, kemudian Rasulullah bersabda:</p>
<p>“Semoga Allah memberkahi malam kalian berdua”.<br />
Mulai  hari itulah Ummu Sulaim mengandung seorang anak yang akhirnya diberi  nama Abdullah. Tatkala Ummu Sulaim melahirkan, beliau utus Anas bin  Malik untuk membawanya kepada Rasulullah selanjutnya Anas berkata:  “Wahai Rasulullah, bahwasanya Ummu Sulaim melahirkan tadi malam”. Maka  Rasulullah mengunyah kurma dan mentahnik bayi tersebut (menggosokan  kurma yang telah dikunyah ke langit-langit mulut si bayi). Anas berkata:  “Berilah nama baginya, wahai Rasulullah!”. Beliau bersabda: “namanya  Abdullah” .</p>
<p>Ubbabah, salah seorang rijal sanad berkata: “Aku melihat dia memiliki tujuh anak yang kesemuanya hafal al-Qur`an”.<br />
Diantara  kejadian yang mengesankan pada diri wanita yang utama dan juga suaminya  yang mukmin adalah bahwa Allah menurunkan ayat tentang mereka berdua  dimana umat manusia dapat beribadah dengan membacanya. Abu Hurairah  berkata:</p>
<p>“Telah datang seorang laki-laki kepada  Rasulullah dan berkata: “Sesungguhnya aku dalam keadaan lapar”. Maka  Rasulullah menanyakan kepada salah satu istrinya tentang makanan yang  ada dirumahnya, namun beliau menjawab: “Demi Dzat Yang mengutusmu dengan  haq, aku tidak memiliki apa-apa kecuali hanya air, kemudian beliau  bertanya kepada istri yang lain, namun jawabannya tidak berbeda.  Seluruhnya menjawab dengan jawaban yang sama. Kemudian Rasulullah  bersabda:</p>
<p>“Siapakah yang akan menjamu tamu ini, semoga Allah merahmatinya”.<br />
Maka  berdirilah salah seorang Anshar yang namanya Abu Thalhah seraya  berkata: “Saya wahai Rasulullah”. Maka dia pergi bersama tamu tadi  menuju rumahnya kemudian sahabat Anshar tersebut bertanya kepada  istrinya (Ummu Sulaim): “Apakah kamu memiliki makanan?”. Istrinya  menjawab: “Tidak punya melainkan makanan untuk anak-anak”. Abu Thalhah  berkata: ”Berikanlah minuman kepada mereka dan tidurkanlah mereka. Nanti  apabila tamu saya masuk maka akan saya perlihatkan bahwa saya ikut  makan, apabila makanan sudah berada di tangan maka berdirilah. Mereka  duduk-duduk dan tamu makan hidangan tersebut sementara kedua sumi-istri  tersebut bermalam dalam keadaan tidak makan. Keesokan harinya keduanya  datang kepada Rasulullah lalu Rasulullah bersabda: “Sungguh Allah takjub  (atau tertawa) terhadap fulan dan fulanah”. Dalam riwayat lain,  Rasulullah bersabda:</p>
<p>“Sungguh Allah takjub terhadap apa yang kalian berdua lakukan terhadap tamu kalian” .</p>
<p>Di akhir hadits disebutkan: “Maka turunlah ayat (artinya):<br />
“Dan  mereka mengutamakan (orang-orang muhajirin) atas diri mereka sendiri.  Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu).” (Q,.s.  al-Hasyr :9).</p>
<p>Abu Thalhah tidak kuasa menahan  rasa gembiranya, maka beliau bersegera memberikan khabar gembira  tersebut kepada istrinya sehingga sejuklah pandangan matanya karena  Allah menurunkan ayat tentang mereka dalam al-Qur`an yang senantiasa  dibaca.</p>
<p>Ummu Sulaim tidak hanya cukup menunaikan  tugasnya untuk mendakwahkan Islam dengan penjelasan saja, bahkan beliau  antusias untuk turut andil dalam berjihad bersama pahlawan kaum  muslimin. Tatkala perang Hunain tampak sekali sikap kepahlawanannya  dalam memompa semangat pada dada mujahidin dan mengobati mereka yang  luka. Bahkan beliau juga mempersiapkan diri untuk melawan dan menghadapi  musuh yang akan menyerangnya. Diriwayatkan oleh Muslim di dalam  shahihnya dan Ibnu Sa`ad di dalam Thabaqat dengan sanad yang shahih  bahwa Ummu Sulaim membawa badik (pisau) pada perang Hunain kemudian Abu  Thalhah berkata: “Wahai Rasulullah! ini Ummu Sulaim berkata: “Wahai  Rasulullah apabila ada orang musyrik yang mendekatiku maka akan robek  perutnya dengan badik ini”.</p>
<p>Anas berkata:  “Rasulullah berperang bersama Ummu Sulaim dan para Wanita dari kalangan  Anshar, apabila berperang, para wanita tersebut memberikan minum kepada  mujahidin dan mengobati yang luka”.</p>
<p>Begitulah  Ummu Sulaim memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Rasulullah, beliau  tidak pernah masuk rumah selain rumah Ummu Sulaim bahkan Rasulullah  telah memberi kabar gembira bahwa beliau termasuk ahli surga. Beliau  bersabda :<br />
“Aku masuk ke surga, tiba-tiba mendengar sebuah suara,  maka aku bertanya: “Siapa itu?”. Mereka berkata: “Dia adalah Rumaisha`  binti Malhan ibu dari Anas bin Malik”.</p>
<p>Selamat  untukmu wahai Ummu Sulaim, karena anda memang sudah layak mendapatkan  itu semua, engkau adalah seorang istri shalihah yang suka menasehati,  seorang da`iyah yang bijaksana, seorang pendidik yang sadar sehingga  memasukkan anaknya ke dalam madrasah nubuwwah tatkala berumur sepuluh  tahun yang pada gilirannya beliau menjadi seorang ulama diantara ulama  Islam, selamat untukmu…..selamat untukmu…</p>
<p>(Diambil  dari buku Mengenal Shahabiah Nabi shallallâhu &#8216;alaihi wa sallam dengan  sedikit perubahan, penerbit Pustaka AT-TIBYAN, Hal. 204)</p>
<p>sumber:</p>
<p><a href="http://assunnah-qatar.com/tokoh-islam-artikel-144/83-golongan-sahabat-rasulullah-saw--ummu-sulaim-binti-malhan-radhiallaahu-anha.html" target="_blank">http://assunnah-qatar.com/tokoh-islam-artikel-144/83-golongan-sahabat-rasulullah-saw&#8211;ummu-sulaim-binti-malhan-radhiallaahu-anha.html</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/shahabiah.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/shahabiah.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/shahabiah.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/shahabiah.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/shahabiah.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/shahabiah.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/shahabiah.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/shahabiah.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/shahabiah.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/shahabiah.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/shahabiah.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/shahabiah.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/shahabiah.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/shahabiah.wordpress.com/87/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=shahabiah.wordpress.com&amp;blog=15180232&amp;post=87&amp;subd=shahabiah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://shahabiah.wordpress.com/2010/08/21/wanita-dengan-mahar-paling-muliaummu-sulaim-binti-malhan-radhiallaahu-anha/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/fcef25fed79197e5e90e53a4fbad9e3a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">shahabiah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://shahabiah.files.wordpress.com/2010/08/imagesbhg.jpeg" medium="image">
			<media:title type="html">imagesbhg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ummu Salamah Radiyallahu&#8217;anha</title>
		<link>http://shahabiah.wordpress.com/2010/08/15/ummu-salamah-radiyallahuanha/</link>
		<comments>http://shahabiah.wordpress.com/2010/08/15/ummu-salamah-radiyallahuanha/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Aug 2010 07:19:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Shahabiah Zafaraan</dc:creator>
				<category><![CDATA[ummahatul mukminin]]></category>
		<category><![CDATA[Ummu Salamah]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[kisah teladan]]></category>
		<category><![CDATA[siroh]]></category>
		<category><![CDATA[wanita teladan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://shahabiah.wordpress.com/?p=62</guid>
		<description><![CDATA[Penulis : Ummu ‘Abdirrahman Anisah bintu ‘Imran Kecantikan dan kemuliaan berpadu dalam dirinya. Cinta, kesetiaan dan ketaatannya pada pendamping hidupnya membawanya untuk memperoleh sebentuk doa. Doa yang berbuah keindahan hidup tiada tara, bersisian dengan hamba Rabb-nya yang paling mulia. Hindun bintu Abi Umayyah bin Al-Mughirah bin ‘Abdillah bin ‘Umar bin Makhzum bin Yaqzhah bin Murrah Al-Qurasyiyyah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=shahabiah.wordpress.com&amp;blog=15180232&amp;post=62&amp;subd=shahabiah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Penulis : Ummu ‘Abdirrahman Anisah bintu ‘Imran</em></p>
<p>Kecantikan dan kemuliaan berpadu dalam dirinya.  Cinta, kesetiaan dan ketaatannya pada pendamping hidupnya membawanya  untuk memperoleh sebentuk doa. Doa yang berbuah keindahan hidup tiada  tara, bersisian dengan hamba Rabb-nya yang paling mulia.</p>
<p>Hindun bintu Abi Umayyah bin Al-Mughirah bin ‘Abdillah bin ‘Umar bin  Makhzum bin Yaqzhah bin Murrah Al-Qurasyiyyah Al-Makhzumiyyah <em>radhiyallahu ‘anha</em>. Dia lebih dikenal dengan kunyahnya, Ummu Salamah.</p>
<p>Dia seorang istri yang penuh cinta bagi suaminya, Abu Salamah  ‘Abdullah bin ‘Abdil Asad bin Hilal bin ‘Abdillah bin ‘Umar bin Makhzum  bin Yaqzhah bin Murrah bin Ka’b Al-Makhzumi <em>radhiyallahu ‘anhu</em>.</p>
<p><a href="http://shahabiah.files.wordpress.com/2010/08/indexgddg.jpeg"><img class="alignright size-full wp-image-63" title="indexgddg" src="http://shahabiah.files.wordpress.com/2010/08/indexgddg.jpeg?w=500" alt=""   /></a></p>
<p><span id="more-62"></span></p>
<p>Dalam beratnya cobaan dan gangguan, mereka meninggalkan negeri Makkah  menuju Habasyah untuk berhijrah, membawa keimanan. Di negeri inilah Ummu  Salamah radhiyallahu ‘anha melahirkan anak-anaknya, Salamah, ‘Umar,  Durrah dan Zainab.</p>
<p>Tatkala terdengar kabar tentang Islamnya penduduk Makkah, mereka pun  kembali bersama kaum muslimin yang lain. Namun, ternyata semua itu  berita hampa semata, hingga mereka pun harus beranjak hijrah untuk kedua  kalinya menuju Madinah. Di sanalah mereka membangun hidup bersama  Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam</em>.</p>
<p>Selang beberapa lama di Madinah, seruan perang Badr bergema. Abu Salamah <em>radhiyallahu ‘anhu</em> masuk dalam barisan para shahabat yang terjun dalam kancah pertempuran. Begitu pula ketika perang Uhud berkobar, Abu Salamah <em>radhiyallahu ‘anhu</em> ada di sana, hingga mendapatkan luka-luka.</p>
<p>Tak lama Ummu Salamah <em>radhiyallahu ‘anha</em> berdampingan dengan  kekasihnya, karena Abu Salamah harus kembali ke hadapan Rabb-nya akibat  luka-luka yang dideritanya. Ummu Salamah melepas kepergian Abu Salamah  pada bulan Jumadits Tsaniyah tahun keempat Hijriyah dengan pilu. Dia  mengatakan, “Siapakah yang lebih baik bagiku daripada Abu Salamah?”</p>
<p>Berulang kali dia berucap demikian, hingga akhirnya diucapkannya doa  yang pernah diajarkan oleh kekasihnya, Abu Salamah, jauh hari sebelum  Abu Salamah tiada. Kala itu, Ummu Salamah berkata kepada suaminya, “Aku  telah mendengar bahwa seorang wanita yang suaminya tiada, dan suaminya  itu termasuk ahli surga, kemudian dia tidak menikah lagi sepeninggalnya,  Allah mengumpulkan mereka berdua di surga. Mari kita saling berjanji  agar engkau tidak menikah lagi sepeninggalku dan aku tidak akan menikah  lagi sepeninggalmu.” Mendengar perkataan istrinya, Abu Salamah  mengatakan, “Apakah engkau mau taat kepadaku?” Kata Ummu Salamah, “Ya.”  Abu Salamah berkata lagi, “Kalau aku kelak tiada, menikahlah! Ya Allah,  berikan pada Ummu Salamah sepeninggalku nanti seseorang yang lebih baik  dariku, yang tak akan membuatnya berduka dan tak akan menyakitinya.”</p>
<p>Waktu terus berjalan. Ummu Salamah pun telah melalui masa ‘iddahnya  sepeninggal Abu Salamah. Datang seorang yang paling mulia setelah  Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam</em>, Abu Bakr Ash-Shiddiq <em>radhiyallahu ‘anhu</em> untuk meminang Ummu Salamah. Namun Ummu Salamah menolaknya. Setelah itu, datang pula Umar ibnul Khaththab <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, menawarkan pinangan pula ke hadapan Ummu Salamah. Kembali Ummu Salamah menyatakan penolakannya.</p>
<p>Ternyata Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> hendak menganugerahkan sesuatu yang lebih besar daripada itu semua. Datanglah Rasulullah <em> Shallallahu ‘alaihi wasallam </em>kepada Ummu Salamah <em>radhiyallahu ‘anha</em>, membuka pintu baginya untuk memasuki rumah tangga nubuwwah. Ummu Salamah  <em>radhiyallahu ‘anha</em> menjawab tawaran itu, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku adalah wanita  yang sudah cukup berumur, dan aku memiliki anak-anak yatim, lagi pula  aku wanita yang sangat pencemburu.” Dari balik tabir, Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam</em> menanggapi, “Adapun masalah umur, sesungguhnya aku lebih tua darimu.  Adapun anak-anak, maka Allah akan mencukupinya. Sedangkan kecemburuanmu,  maka aku akan berdoa kepada Allah agar Allah menghilangkannya.”</p>
<p>Tak ada lagi yang memberatkan langkah Ummu Salamah untuk menyambut uluran tangan Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam</em>. Bulan Syawwal tahun keempat setelah hijrah adalah saat-saat yang indah bagi Ummu Salamah  <em>radhiyallahu ‘anha</em>, mengawali hidupnya di samping seorang yang paling mulia, Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam</em>.</p>
<p>Berita tentang kecantikan Ummu Salamah  <em>radhiyallahu ‘anha</em> sempat meletupkan kecemburuan ‘Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha</em>. Ketika itu ‘Aisyah  <em>radhiyallahu ‘anha</em> sangat bersedih. Dia menahan diri sampai memiliki kesempatan melihat  Ummu Salamah. Tatkala datang kesempatan itu, ‘Aisyah melihat kecantikan  Ummu Salamah berkali lipat daripada gambaran yang sampai padanya. Dia  beritahukan hal itu kepada Hafshah <em>radhiyallahu ‘anha</em>. Hafshah  pun menjawab, “Tidak, demi Allah. Itu tidak lain hanya karena  kecemburuanmu saja. Dia tidaklah seperti yang kaukatakan, namun dia  memang cantik.” ‘Aisyah pun mengisahkan, “Setelah itu, aku sempat  melihatnya lagi dan dia memang seperti yang dikatakan oleh Hafshah.”</p>
<p>Ummu Salamah <em>radhiyallahu ‘anha</em> memulai rangkaian kehidupannya di sisi Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam</em>. Banyak rentetan peristiwa dilaluinya bersama beliau. Satu dialaminya dalam Perjanjian Hudaibiyah.</p>
<p>Kala itu, pada bulan Dzulqa’dah tahun keenam setelah hijrah, Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam </em>bersama  seribu empat ratus orang muslimin ingin menunaikan ‘umrah di Makkah  sembari melihat kembali tanah air mereka yang sekian lama ditinggalkan.  Ummu Salamah <em>radhiyallahu ‘anha</em> turut menyertai perjalanan  beliau ini. Namun setiba beliau dan para shahabat di Dzul Hulaifah untuk  berihram dan memberi tanda hewan sembelihan, kaum musyrikin Quraisy  menghalangi kaum muslimin. Dari peristiwa ini tercetuslah perjanjian  Hudaibiyah. Perjanjian itu di antaranya berisi larangan bagi kaum  muslimin memasuki Makkah hingga tahun depan. Betapa kecewanya para  shahabat saat itu, karena mereka urung memasuki Makkah.</p>
<p>Usai menyelesaikan penulisan perjanjian itu, Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam</em> pun memerintahkan kepada para shahabat, “Bangkitlah, sembelihlah hewan  kalian, kemudian bercukurlah!” Namun tak satu pun dari mereka yang  bangkit. Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam</em> mengulangi perintahnya hingga ketiga kalinya, namun tetap tak ada satu pun yang beranjak. Kemudian Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam</em> menemui Ummu Salamah <em>radhiyallahu ‘anha</em> dan menceritakan apa yang terjadi. Ummu Salamah pun memberikan gagasan  kepada beliau, “Wahai Rasulullah, apakah engkau ingin agar mereka  melakukannya? Bangkitlah, jangan berbicara pada siapa pun hingga engkau  menyembelih hewan dan memanggil seseorang untuk mencukur rambutmu.”</p>
<p>Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam</em> berdiri, kemudian segera melaksanakan usulan Ummu Salamah <em>radhiyallahu ‘anha</em>. Seketika itu juga, para shahabat yang melihat Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam</em>menyembelih  hewannya dan menyuruh seseorang untuk mencukur rambutnya serta merta  bangkit untuk memotong hewan sembelihan mereka dan saling mencukur  rambut, hingga seakan-akan mereka akan saling membunuh karena riuhnya.</p>
<p>Semenjak bersama Abu Salamah <em>radhiallahu ‘anhu</em>, Ummu Salamah <em>radhiyallahu ‘anha</em> meraup banyak ilmu. Terlebih lagi setelah berada dalam naungan Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam</em>, di bawah bimbingan nubuwwah, Ummu Salamah mendulang ilmu. Juga dari putri Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam</em>, Fathimah <em>radhiyallahu ‘anha</em>.  Ummu Salamah menyampaikan apa yang ada pada dirinya hingga  bertaburanlah riwayat dari dirinya. Tercatat deretan panjang nama-nama  ulama besar dari generasi pendahulu yang mengambil ilmu darinya. Dia  termasuk fuqaha dari kalangan shahabiyah.</p>
<p>Ummu Salamah <em>radhiyallahu ‘anha</em> telah melalui rentang  panjang masa hidupnya dengan menebarkan banyak faidah. Masa-masa  kekhalifahan pun dia saksikan hingga masa pemerintahan Yazid bin  Mu’awiyah. Pada masa inilah terjadi pembunuhan cucu Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam</em>, Al-Hasan bin ‘Ali bin Abi Thalib <em>radhiyallahu ‘anhuma</em>. Ummu Salamah sangat berduka mendengar berita itu. Dia benar-benar merasakan kepiluan. Tak lama setelah itu, Ummu Salamah <em>radhiyallahu ‘anha</em> kembali menghadap Rabb-nya. Tergurat peristiwa itu pada tahun keenam puluh satu setelah hijrah.</p>
<p>Terkenang selalu kesetiaan yang pernah dia berikan bagi pendamping  hidupnya. Terngiang selalu sebutan namanya dalam kitab-kitab besar para  ulama. Ummu Salamah, semoga Allah meridhainya…</p>
<p>Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.</p>
<p>Sumber bacaan :<br />
1  Al-Ishabah, Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani, hal. 150-152<br />
2  Shahihus Sirah an-Nabawiyah, Ibrahim Al-‘Aly, hal. 323<br />
3  Siyar A’lamin Nubala’, Al-Imam Adz-Dzahabi, hal. 202-210<br />
4  Tahdzibul Kamal, Al-Imam Al-Mizzi, hal. 317-319</p>
<p>Sumber: http://asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&amp;id_online=119</p>
<p>****</p>
<p><strong><em>Ummu  Salamah </em></strong>adalah   seorang Ummul-Mukminin yang berkepribadian kuat, cantik, dan menawan,  serta  memiliki semangat jihad dan kesabaran dalam menghadapi cobaan,  lebih-lebih  setelah berpisah dengan suami dan anak-anaknya. Berkat  kematangan berpikir dan  ketepatan dalam mengambil keputusan, dia  mendaparkan kedudukan mulia di sisi  Rasulullah Shallallahu Alaihi  Wassalam.. Di dalam sirah Ummahatul Mukminin  dijelaskan tentang  banyaknya sikap mulia dan peristiwa penting darinya yang  dapat  diteladani kaum muslimin, baik sikapnya sebagai istri yang selalu  menjaga  kehormatan keluarga maupun sebagai pejuang di jalan Allah.</p>
<p>Nama  sebenarnya Ummu Salamah adalah Hindun  binti Suhail, dikenal dengan  narna Ummu Salamah. Beliau dibesarkan di lingkungan  bangsawan dari Suku  Quraisy. Ayahnya bernama Suhail bin Mughirah bin Makhzurn.  Di kalangan  kaumnya, Suhail dikenal sebagai seorang dermawan sehingga dijuluki   Dzadur-Rakib (penjamu para musafir) karena dia selalu menjamu setiap  orang yang  menyertainya dalam perjalanan. Dia adalah pemimpin kaumnya,  terkaya, dan  terbesar wibawanya. Ibu dari Ummu Salamah bernama Atikah  binti Amir bin Rabi’ah  bin Malik bin Jazimah bin Alqamah al-Kananiyah  yang berasal dari Bani  Faras.</p>
<p>Demikianlah,  Hindun dibesarkan di dalam  lingkungan bangsawan yang dihormati dan  disegani. Kecantikannya meluluhkan  setiap orang yang melihatnya dan  kebaikan pribadinya telah tertanam sejak  kecil.</p>
<p><strong><em>B. Pernikahan dan  Perjuangannya</em></strong></p>
<p>Banyak  pemuda Mekah yang ingin  mempersunting Hindun, dan yang berhasil  menikahinya adalah Abdullah bin Abdul  Asad bin Hilal bin Abdullah bin  Umar bin Makhzum, seorang penunggang kuda  terkenal dari  pahlawan-pahlawan suku Bani Quraisy yang gagah berani. Ibunya  bernama  Barrah binti Abdul-Muththalib bin Hasyim, bibi Nabi Shallallahu Alaihi   Wassalam. Abdullah adalah saudara sesusuan Nabi dari Tsuwaibah, budak  Abu Lahab.  Mereka hidup bahagia, dan rumah tangga mereka diliputi  kerukunan dan  kesejahteraan.</p>
<p>Tidak  lama setelah itu, dakwah Islam  menarik hati mereka sehingga mereka  memeluk Islam dan menjadi orang-oramg  pertama yang masuk Islam. Begitu  pula dengan Hindun, dia tergolong orang-orang  yang pertama masuk Islam,  dan bersama suaminya memulai perjuangan dalam hidup  mereka.</p>
<p>Orang-orang  Quraisy selalu mengganggu dan  menyiksa kaum muslimin agar mereka  meninggalkan agama Islam dan kembali ke agama  nenek moyang mereka.  Melihat kondisi seperti itu, Rasulullah Shallallahu Alaihi  Wassalam.  mengizinkan mereka untuk hijrah ke Habasyah, sehingga mereka disebut   sebagai kaum muhajirin yang pertama. Mereka menetap di Habasyah, dan di  sana  Hindun melahirkan anak-anaknya: Zainab, Salamah, Umar, dan Durrah.</p>
<p>Setelah  beberapa lama, mereka berniat  kembali ke Mekah, terutama setelah  mendengar keislaman dua tokoh penting  Quraisy, Umar bin Khaththab dan  Hamzah bin Abdul-Muththalib. Akan tetapi,  ternyata penyiksaan masih  terus berlangsung, bahkan bertambah dahsyat. Untuk  menjaga kehormatan  diri dan keluarganya, Abu Salamah meminta perlindungan dari  Abu Thalib  (paman Nabi) dari siksaan kaumnya, yaitu Bani Makhzum, dan Abu Thalib   menyatakan perlindungannya.</p>
<p><strong><em>C. Cobaan Datang</em></strong></p>
<p>Karena  orang-orang Quraisy masih saja  menyiksa kaum muslimin, akhirnya Allah  membuka hati penduduk Madinah untuk  menerima Islam. Kemudian Rasulullah  mengizinkan kaum muslimin untuk hijrah ke  sana, baik secara kelompok  maupun perseorangan. Abu Salamah, istri, dan anaknya  (Salamah) hijrah  ke sana. Di tengah perjalanan mereka dihadang oleh kaum Bani  Makhzum  (kaumnya Ummu Salamah) yang kemudian merampas serta menyandera Ummu   Salamah. Keluarga Abu Salamah (Bani Asad) ikut campur tangan dan mereka  menolak  menyerahkan Salamah, bahkan si anak dirampas dan dijauhkan dari  ibunya.  Sedangkan Bani Makhzum menculik Ummu Salamah dan dipenjara.  Adapun Abu Salamah  dibiarkan ke Yatsrib dengan hati penuh kesedihan  karena harus berpisah dengan  istri dan anaknya.</p>
<p>Keadaan  demikian berjalan kurang lebih  setahun lamanya. Ummu Salamah  terus-menerus menangis karena kecewa atas  perbuatan kaumnya, sehingga  akhirnya ada seorang laki-laki dari kaumnya yang  merasa iba dan  membiarkan Ummu Salamah menyusul suaminya di Madinah. Adapun Bani  Asad  menyerahkan kembali putranya, Salamah, kepadanya. Akan tetapi, banyak   rintangan yang harus dia hadapi, dan berkat keimanan dan keinginan yang  kuat,  dia mampu mengatasi semua itu dan tiba di Madinah.</p>
<p><strong><em>D. Pesan Abu Salamah untuk  Istrinya</em></strong></p>
<p>Dalam  membela Islam, peran Abu Salamah  sangat besar. Dia dikenal berani  dalam berperang. Rasulullah menghargainya  dengan mengangkatnya sebagai  wakil Rasulullah di Madinah ketika beliau pergi  memimpin pasukan dalam  perang Dzil Asyirah pada tahun kedua hijriah. Abu Salamah  ikut dalam  Perang Badar dan Uhud. Ketika dalam perang Uhud, Abu Salamah  mengalami  luka yang cukup parah dan nyaris meninggal, namun beberapa saat   kemudian dia sembuh.</p>
<p>Setelah  Perang Uhud, Rasulullah  Shallallahu Alaihi Wassalam. mencrima berita  bahwa Bani Asad hendak menyerang  kaum muslimin di Madinah. Sebelum  mereka menyerang, Rasulullah Shallallahu  Alaihi Wassalam. berinisiatif  mendahului mereka. Dalam misi ini, beliau menunjuk  Abu Salamah untuk  memimpin pasukan yang berjumlah seratus lima puluh orang dan  di  dalamnya terdapat Saad bin Abi Waqash, Abu Ubaidah bin Jarrah, Amir bin   Jarrah, dan yang lainnya. Pasukan diarahkan ke Bukit Quthn, tempat mata  air Bani  Asad. Kemenangan gemilang diraih oleh pasukan Abu Salamah,  dan mereka kembali ke  Madinah dengan membawa banyak harta rampasan  perang. Di Madinah, luka-luka Abu  Salamah karnbuh sehingga dia harus  beristirahat beberapa waktu. Ketika sakit,  Rasulullah selalu menjenguk  dan mendoakannya.</p>
<p>Ummu  Salamah selalu mendampingi suaminya  yang sedang dalam keadaan sakit  sehingga dia merawat dan menjaganya siang dan  malam. Suatu hari, demam  Abu Salamah menghebat, kemudian Ummu Salamah berkata  kepada suaminya,  “Aku mendapat benita bahwa seorang perempuan yang ditinggal  mati  suaminya, kemudian suaminya masuk surga, istrinya pun akan masuk surga,   jika setelah itu istrinya tidak menikah lagi, dan Allah akan  mengumpulkan mereka  nanti di surga. Demikian pula jika si istri yang  meninggal, dan suaminya tidak  menikah lagi sepeninggalnya. Untuk itu,  mari kita berjanji bahwa engkau tidak  akan menikah lagi sepeninggalku,  dan aku berjanji untukmu untuk tidak menikah  lagi sepeninggalmu.” Abu  Salamah berkata, “Maukah engkau menaati perintahku?”  Dia menjawab,  “Adapun saya bermusyawarah hanya untuk taat.” Abu Salamah berkata,   “Seandainya aku mati, maka menikahlah.” Lalu dia berdoa kepada Allah ”Ya  Allah,  kurniakanlah kepada Ummu Salamah sesudahku seseorang yang lebih  baik dariku,  yang tidak akan menyengsarakan dan menyakitinya.”</p>
<p>Pada  detik-detik akhir hidupnya,  Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam.  selalu berada di samping Abu Salamah dan  senantiasa memohon  kesembuhannya kepada Allah. Akan tetapi, Allah berkehendak  lain.  Beberapa saat kemudian maut datang menjemput. Rasulullah menutupkan  kedua  mata Abu Salamah dengan tangannya yang mulia dan bertakbir  sembilan kali. Di  antara yang hadir ada yang berkata, “Ya Rasulullah,  apakah engkau sedang dalam  keadaan lupa?” Beliau menjawab, “Aku sama  sekali tidak dalam keadaan lupa,  sekalipun bertakbir untuknya seribu  kali, dia berhak atas takbir itu.” Kemudian  beliau menoleh kepada Ummu  Salamah dan bersabda, “Barang siapa yang ditimpa  suatu musibah, maka  ucapkanlah sebagaimana yang telah dperintahkan oleh Allah,   ‘Sesungguhnya kita milik Allah, dan kepada-Nyalah kita akan  dikembalikan. Ya  Allah, karuniakanlah bagiku dalam musibahku dan  berilah aku ganti yang lebih  baik daripadanya, maka Allah akan  melaksanakannya untuknya.”</p>
<p>Setelah  itu Rasulullah Shallallahu Alaihi  Wassalam. berdo’a: “Ya Allah,  berilah ketabahan atas kesedihannya, hiburlah dia  dari musibah yang  menimpanya, dan berilah pengganti yang lebih baik  untuknya.”</p>
<p>Abu  Salamah wafat setelah berjuang  menegakkan Islam, dan dia telah  memperoleh kedudukan yang mulia di sisi  Rasulullah. Sepeninggal Abu  Salamah, Ummu Salarnah diliputi rasa sedih. Dia  menjadi janda dan ibu  bagi anak-anak yatim.</p>
<p>Setelah  wafatnya Abu Salarnah, para pemuka  dari kalangan sahabat bersegera  meminang Ummu Salamah. Hal ini mereka lakukan  sebagai tanda  penghormatan terhadapat suaminya dan untuk. melindungi diri Ummu   Salamah. Maka Abu Bakar ash-Shiddiq dan Umar bin al-Khaththab  meminangnya,  tetapi Ummu Salamah menolaknya.</p>
<p>Pada  saat dirundung kesedihan atas suami  yang benar-benar dicintainya serta  belum mendapatkan orang yang lebih baik  darinya, ia didatangi oleh  Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. dengan maksud  menghiburnya dan  meringankan apa yang dialaminya. Rasulullah berkata kepadanya,   “Mintalah kepada Allah agar Dia memberimu pahala pada musibahmu serta   menggantikan untukmu (suami) yang lebih baik.” Ummu Salamah bertanya,  “Siapa  yang lebih baik dan Abu Salamah, wahai Rasulullah?”</p>
<p><strong><em>E. Di Rumah  Rasulullah.</em></strong></p>
<p>Rasulullah  mulai memikirkan perkara Ummu  Salamah, seorang mukminah mujahidah yang  memiliki kesabaran, dan Ummu Salamah  pun telah menolak lamaran dua  sahabatnya, Abu Bakar dan Umar. Rasulullah pun  berpikir dengan penuh  pertimbangan dan kasih sayang untuk tidak membiarkannya  larut dalam  kesedihan dan kesendirian.</p>
<p>Dalam  keadaan seperti itu Rasulullah  mengutus Hathib bin Abi Balta’ah  menemui Ummu Salarnah dengan maksud meminangnya  untuk beliau. Maka oleh  Ummu Salamah diterimanya pinangan tersebut. Bagaimana  mungkin baginya  untuk tidak menerima pinangan dari orang yang lebih baik dari  Abu  Salamah, bahkan lebih baik dan semua orang di dunia.</p>
<p>Dengan  perkawinan tersebut maka Ummu  Salamah termasuk kalangan Ummahatul-  Mukminin, dan oleh Rasulullah ia  ditempatkan di kamar Zainab binti  Khuzaimah yang digelari Ummul-Masakiin (ibu  bagi orang-orang miskin)  sampai Ummu Salamah meninggal dunia.</p>
<p>Hal  itu diceritakan oleh Ummu Salamah  kepada kami. Ia berkata, “Aku  dipersunting oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi  Wassalam., lalu aku  dipindahkan dan ditempatkan di rumah Zainab (ummul-  masakiin).”</p>
<p>Beberapa  keistimewaan yang dimiliki Ummu  Salamah adalah ketajaman logika,  kematangan berpikir, dan keputusan yang benar  atas banyak perkara.  Karena itu, ia memiliki kedudukan yang agung di sisi  Rasulullah  Shallallahu Alaihi Wassalam., seperti interaksinya dengan para   Ummahatul-Mukminin yang merupakan interaksi yang diliputi rasa kasih  sayang dan  kelemahlembutan.</p>
<p><strong><em>F. Kedudukannya yang  Agung</em></strong></p>
<p>Di  antara perkara yang menunjukkan  kedudukannya yang tinggi di sisi  Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam adalah  apa yang diceritakan  Urwah bin Zubair “Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam.  menyuruh Ummu  Salamah melaksanakan shalat shubuh di Mekah pada hari  penyembelihan  (qurban) — padahal saat itu merupakan hari (giliran)nya. Oleh  sebab  itu, Rasulullah merasa senang atas kesetujuannya.”</p>
<p>Begitu  juga hadits Ummi Kulsum binti Uqbah  yang dimasukkan oleh Ibnu Sa’ad  dalam (kitab) Thabaqat-nya. Ummi Kultsum  berkata, “Tatkala Nabi  Shallallahu Alaihi Wassalam. menikahi Ummu Salamah, belau  berkata  kepadanya, ‘Sesungguhnya aku menghadiahkan untuk Raja Najasyi sejumlah   bejana berisikan minyak wangi dan selimut. Akan tetapi, aku bermimpi  bahwa Raja  Najasyi itu telah meninggal dunia, kemudian hadiah yang  kuberikan kepadanya  dikembalikan kepadaku. Karena dikembalikan  kepadaku, maka barang tersebut  menjadi milikkü.”</p>
<p>Sebagaimana  yang dikatakan Nabi  Shallallahu Alaihi Wassalam., Raja Najasyi  meninggal dunia, dan hadiah tersebut  dikembalikan kepadanya. Lalu  beliau memberikan kepada setiap istrinya  masing-masing satu uqiyah (1/2  liter Mesir) dan beliau memberi (sisa)  keseluruhannya serta selimut  kepada Ummu Salamah.</p>
<p>Setelah  Ummu Salamah menjadi istrinya,  Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam.  memasukkannya dalam kalangan ahlul-bait. Di  antara riwayat tentang  masalah tersebut adalah bahwasanya pernah pada suatu hari  Rasulullah  berada di sisi Ummu Salamah, dan anak perempuan Ummu Salamah ada di   sana. Rasulullah kemudian didatangi anak perempuannya, Fathimah azZahra,   disertai kedua anaknya, Hasan dan Husain r.a., lalu Rasullah memeluk  Fathimah  dan berkata, “Semoga rahmat Allah dan berkah-Nya tercurah pada  kalian wahai  ahlul-bait. Sesungguhnya Dia Maha Terpuji (lagi) Maha  Mulia.”</p>
<p>Lalu  menangislah Ummu Salamah. Maka  Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam.  menanyakan tentang penyebab tangisnya  itu. Ia menjawab, “Wahai  Rasulullah, engkau mengistimewakan mereka sedangkan aku  dan anak  perempuanku engkau tinggalkan. Beliau bersabda, “Sesungguhnya engkau   dan anak perempuanmu termasuk keluargaku.”</p>
<p>Anak  perempuan Ummu Salamah, Zainab,  tumbuh dalam peliharaan Rasulullah  Shallallahu Alaihi Wassalam. ia termasuk di  antara wanita yang memiliki  ilmu yang luas pada masanya.</p>
<p>Sebelum  Rasulullah Shallallahu Alaihi  Wassalam. mempersunting Ummu Salamah,  wahyu pernah turun kepada Rasulullah di  kamar Aisyah, yang dengan hal  itu Aisyah membanggakannya pada istri-stri beliau  yang lain. Maka  setelah Rasulullah menikahi Ummu Salamah, wahyu turun kepadanya  ketika  beliau berada di kamar Ummu Salamah.</p>
<p><strong><em>G. Beberapa Sikap Cemerlang pada Masa  Hidup Ummu Salamah.</em></strong></p>
<p>Di  antara sikap agungnya adalah apa yang  ditunjukkannya pada Rasulullah  Shallallahu Alaihi Wassalam. pada hari  (perjanjian) Hudaibiyah. Pada  waktu itu ia menyertai Rasulullah Shallallahu  Alaihi Wassalam. dalam  perjalanannya menuju Mekah dengan tujuan menunaikan  umrah, tetapi  orang-orang musyrik mencegah mereka untuk memasuki Mekah, dan   terjadilah Perjanjian Hudaibiyah antara kedua belah pihak.</p>
<p>Akan  tetapi, sebagian besar kaum muslimin  merasa dikhianati dan merasa  bahwa orang-orang musyrik menyianyiakan sejumlah  hak-hak kaum muslimin.  Di antara mayonitas yang menaruh dendam itu adalah Umar  bin  al-Khaththab, yang berkata kepada Rasulullah dalam percakapannya dengan   beliau, “Atas perkara apa kita serahkan nyawa di dalam agama kita?”  Rasulullah  Shallallahu Alaihi Wassalam. menjawab, “Saya adalah hamba  Allah dan rasul-Nya.  Aku tidak akan menyalahi perintah-Nya, dan Dia  tidak akan  menyianyiakanku.”</p>
<p>Akan  tetapi, tanda-tanda bahaya semakin  memuncak setelah Rasulullah  Shallallahu Alaihi Wassalam. menyuruh kaum muslimin  melaksanakan  penyembelihan hewan qurban kemudian bercukur, tetapi tidak seorang  pun  dari mereka melaksanakannya. Beliau mengulang seruannya tiga kali tanpa  ada  sambutan.</p>
<p>Beliau  menemui istrinya, Ummu Salamah, dan  menceritakan kepadanya tentang  sikap kaum muslimin. Ummu Salamah berkata, “Wahai  Nabi Allah, apakah  engkau menginginkan perintah Allah ini dilaksanakan oleh kaum  muslimin?  Keluarlah engkau, kemudian janganlah mengajak bicara sepatah kata   seorang pun dari mereka sampai engkau menyembelih qurbanmu serta  memanggil  tukang cukur yang mencukurmu.”</p>
<p>Rasulullah  Shallallahu Alaihi Wassalam.  kagum atas pendapatnya dan bangkit  mengerjakan sebagaimana yang diusulkan Ummu  Salamah. Tatkala kaum  muslimin melihat Rasulullah mengerjakan hal itu tanpa  berkata kepada  mereka, mereka bangkit dan menyembelih serta sebagian dari mereka  mulai  mencukur kepala sebagian yang lain tanpa ada perasaan keluh kesah dan   penyesalan atas tindakan Rasulullah yang mendahului mereka.</p>
<p>Ummu  Salamah telah menyertai Rasulullah  Shallallahu Alaihi Wassalam. di  banyak peperangan, yaitu peperangan Khaibar,  Pembebasan Mekah,  pengepungan Tha’if, peperangan Hawazin, Tsaqif kemudian ikut  bersama  beliau di Haji Wada’.</p>
<p>Kita  tidak melupakan sikapnya terhadap  Umar bin al-Khaththab, tatkala Urnar  datang kepadanya dan mengajak bicara  tentang perkara keperluan  Ummahatul-Mukminin kepada Rasulullah Shallallahu  Alaihi Wassalam. serta  kekasaran mereka terhadap Rasulullah. Maka ia berkata,  “Engkau ini  aneh, wahai anak al-Khaththab. Engkau telah ikut campur di setiap   perkara sehingga ingin mencampuri urusan Rasulullah Shallallahu Alaihi  Wassalam.  beserta istri-istrinya?”</p>
<p>Setelah  Rasulullah Shallallahu Alaihi  Wassalam. meninggal dunia ia senantiasa  mengenang beliau dan sangat berduka cita  atas kewafatannya. Beliau  senantiasa banyak melakukan puasa dan beribadah, tidak  kikir pada ilmu,  serta meriwayatkan hadits yang berasal dan Rasulullah  Shallallahu  Alaihi Wassalam.</p>
<p>Telah  diriwayatkannya sekian banyak hadits  shahih yang bersumber dari  Rasulullah dan suaminya, Abu Salamah, serta dari  Fathimah az-Zahraa  Sedangkan orang yang meriwayatkan darinya banyak sekali, di  antara  mereka adalah anak-anaknya dan para pemuka dan sahabat serta ahli   hadits.</p>
<p>Di  antara beberapa sikapnya yang nyata  adalah pada hari pembebasan kota  Mekah. Waktu itu Nabi keluar dari Madinah  bersarna bala tentaranya  dengan kehebatan dan jumlah yang belum pernah  disaksikan oleh bangsa  Arab, sehingga orang-orang musyrik Quraisy merasa takut,  dan mereka  keluar dari rumah dengan rnaksud menemui Rasulullah untuk bertobat  dan  menyatakan keislaman mereka.</p>
<p>Termasuk  dari mereka, Abu Sufyan bin  al-Harts bin Abdul-Muththalib (anak paman  Rasulullah Shallallahu Alaihi  Wassalam.) dan Abdullah bin Abi Umayyah  bin al-Mughirah (anak bibi [dari ayah]  Rasulullah, saudara Ummu Salamah  sebapak). Ketika mereka berdua meminta izin  masuk menemui Rasulullah  Shallallahu Alaihi Wassalam., beliau enggan memberi  izin masuk bagi  keduanya disebabkan penyiksaan mereka yang keras terhadap kaurn   muslimin menjelang beliau hijrah dari Mekah.</p>
<p>Maka  berkatalah Ummu Salamah kepada  Rasulullah dengan perasaan iba terhadap  keluarganya sendiri dan juga keluarga  Rasulullah, “Wahai Rasulullah,  mereka berdua adalah anak parnanmu dan anak  bibirnu (dan ayah) serta  iparmu.” Rasulullah menjawab, “Tidak ada keperluan  bagiku dengan mereka  berdua. Adapun anak parnanku, aku telah diperlakukan  olehnya dengan  tidak baik. Adapun anak bibiku (dari ayah) serta iparku telah  berkata  di Mekah dengan apa yang ia katakan.”</p>
<p>Pernyataan  itu telah sampai kepada Abu  Sufyan, anak paman Rasulullah. Maka ia  berkata, “Demi Allah, ia harus  mengizinkanku atau aku mengambil anak  ini dengan kedua tanganku -pada saat itu  ia bersama anaknya, Ja’far-  kemudian karni harus berkelana di dunia sehingga  mati kehausan dan  kelaparan.”</p>
<p>Lalu  Ummu Salamah memberitahukan perkataan  Abu Sufyan tersebut kepada  Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. dengan  kembali memohon rasa  belas kasih. Akhirnya hati beliau menjadi luluh, lalu  mengizinkan  keduanya masuk. Maka masuklah keduanya dan menyatakan keislaman  serta  bertobat di hadapan Rasulullah.</p>
<p><strong><em>H. Sikapnya terhadap  Fitnah</em></strong></p>
<p>Ummu  Salamah selalu berada di rumahnya,  senantiasa ikhlas beribadah kepada  Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan menjaga Sunnah  suaminya tercinta pada  masa (khilafah) Abu Bakar ash-Shiddiq dan Umar bin  al-Khaththab..</p>
<p>Pada  masa khilafah Utsman bin Affan ia  melihat kegoncangan situasi serta  perpecahan kaum muslimin di seputar khalifah.  Bahaya fitnah sernakin  memuncak di langit kaum muslirnin. Maka ia pergi menernui  Utsman dan  menasihatinya supaya tetap berpegang teguh pada petunjuk Rasulullah   Shallallahu Alaihi Wassalam. serta petunjuk Abu Bakar dan Umar bin  al-Khaththab,  tidak menyimpang dan petunjuk tersebut selama-lamanya.</p>
<p>Apa  yang dikhawatirkan Ummu Salamah  terjadi juga, yaitu peristiwa  terbunuhnya Utsman yang saat itu tengah membaca  Al-Qur’an dan angin  fitnah tengah bertiup kencang terhadap kaurn muslimin. Pada  saat itu  Aisyah telah membulatkan tekad untuk keluar menuju Bashrah disertai   Thalhah bin Ubaidillah dan Zubair bin al-’Awwam dengan tujuan  mernobilisasi  massa untuk melawan Ali bin Abi Thalib. Maka Ummu Salamah  mengirim surat yang  memiliki sastra indah kepada Aisyah.</p>
<p><em>“Dari Ummu  Salamah, Istri Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam., untuk Aisyah Ummul-Mu’  minin.<br />
Sesungguhnya aku memuji Allah yang tidak ada ilah (Tuhan) melainkan  Dia.<br />
Amma ba’du.<br />
Engkau sungguh telah merobek pembatas antara Rasulullah  Shallallahu  Alaihi Wassalam. dan umatnya yang merupakan hijab yang telah  ditetapkan  keharamannya.<br />
Sungguh Al-Qur’an telah memberimu kemuliaan, maka  jangan engkau  lepaskan. Dan Allah telah menahan suaramu, maka janganlah engkau   niengeluarkannya Serta Allah telah tegaskan bagi umat ini seandainya  Rasulullah  Shallallahu Alaihi Wassalam. mengetahui bahwa kaum wanita  memiliki kewajiban  jihad (berperang) niscaya beliau berpesan kepadamu  untuk menjaganya.<br />
Tidakkah  engkau tahu bahwasanya beliau melarangmu melampaui batas dalam  agama, karena  sesungguhnya tiang agama tidak bisa kokoh dengan campur  tangan wanita apabila  tiang itu telah miring, dan tidak bisa diperbaiki  oleh wanita apabila telah  hancur. Jihad wanita adalah tunduk kepada  segala ketentuan, mengasuh anak, dan  mencurahkan kasih sayangnya.”</em></p>
<p>Ummu  Salamah berada di pihak Ali bin Abi  Thalib karena beliau menggikuti  kesepakatan kaum muslimin atas terpilihnya  beliau sebagai khalifah  mereka. Karena itu, Ummu Salamah mengirim/mengutus  anaknya, Umar, untuk  ikut berperang dalan barisan Ali .</p>
<p><strong><em>I. Saat Wafatnya</em></strong></p>
<p>Pada  tahun ke-59 hijriah, usia Ummu  Salamah telah mencapai 84 tahun. Usia  tua dan pikun merambah di pertambahan  umurnya. Allah ta’ala mengangkat  rohnya yang suci naik ke atas menuju  hadirat-Nya. Ia meninggal dunia  setelah hidup dengan aktivitas yang dipenuhi  oleh pengorbanan, jihad,  dan kesabaran di jalan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan  Rasul-Nya. Beliau  dishalatkan oleh Abu Hurairah r.a. dan dikuburkan di al-Baqi’  di  samping kuburan Ummahatul-Mukminin lainnya.</p>
<p>Semoga  rahmat Allah senantiasa menyertai  Sayyidah Ummu Salamah. dan semoga  Allah memberinya tempat yang layak di  sisi-Nya. Amin.</p>
<p>Sumber: Buku Dzaujatur-Rasulullah , Karya  Amru Yusuf, Penerbit Darus-Sa’abu, Riyadh</p>
<p>***</p>
<p>Beliau adalah Hindun binti Abi  Umayyah bin Mughirah al-Makhzumiyah al-Qursyiyah. Bapaknya adalah putra  dari salah seorang Quraisy yang diperhitungkan (disegani) dan terkenal  dengan kedermawanannya.</p>
<p>Ayahnya dijuluki sebagai “Zaad  ar-Rakbi ” yakni seorang pengembara yang berbekal. Dijuluki demikian  karena apabila dia melakukan safar (perjalanan) tidak pernah lupa  mengajak teman dan juga membawa bekal bahkan ia mencukupi bekal milik  temannya. Adapun ibu beliau bernama ‘Atikah binti Amir bin Rabi’ah  al-Kinaniyah dari Bani Farras yang terhormat.</p>
<p>Disamping beliau memiliki nasab  yang terhormat ini beliau juga seorang wanita yang berparas cantik,  berkedudukan dan seorang wanita yang cerdas.Pada mulanya dinikahi oleh  Abu Salamah Abdullah bin Abdil Asad al-Makhzumi, seorang shahabat yang  agung dengan mengikuti dua kali hijrah. Baginya Ummu Salamah adalah  sebaik-baik istri baik dari segi kesetiaan, kata’atan dan dalam  menunaikan hak-hak suaminya. Dia telah memberikan pelayanan kepada  suaminya di dalam rumah dengan pelayanan yang menggembirakan. Beliau  senantiasa mendampingi suaminya dan bersama-sama memikul beban ujian dan  kerasnya siksaan orang-orang Quraisy. Kemudian beliau hijrah bersama  suaminya ke Habasyah untuk menyelamatkan diennya dengan meninggalkan  harta, keluarga, kampung halaman dan membuang rasa ketundukan kepada  orang-orang zhalim dan para thagut. Di bumi hijrah inilah Ummu Salamah  melahirkan putranya yang bernama Salamah.</p>
<p>Bersamaan dengan disobeknya naskah pemboikotan (terhadap kaum muslimin  dan kaumnya Abu Thalib) dan setelah masuk Islamnya Hamzah bin Abdul  Muthallib dan Umar bin Khaththab radhiallaahu ‘anhuma , kembalilah  sepasang suami-isteri ini ke Mekkah bersama shahabat-shahabat yang  lainnya.</p>
<p>Kemudian manakala Nabi  Shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengizinkan bagi para shahabatnya untuk  hijrah ke Madinah setelah peristiwa Bai’atul Aqabah al-Kubra, Abu  Salamah bertekad untuk mengajak anggota keluarganya berhijrah. Kisah  hijrahnya mereka ke Madinah sungguh mengesankan, maka marilah kita  mendengar penuturan Ummu Salamah yang menceritakan dengan lisannya  tentang perjalanan mereka tatkala menempuh jalan hijrah. Berkata Ummu  Salamah:</p>
<p>“Tatkala Abu Salamah tetap  bersikeras untuk berhijrah ke Madinah, dia menuntun untanya kemudian  menaikkan aku ke atas punggung unta dan membawa anakku Salamah.  Selanjutnya kami keluar dengan menuggang unta, tatkala orang-orang dari  Bani Mughirah melihat kami segera mereka mencegatnya dan berkata: ‘Jika  dirimu saja yang berangkat maka kami tidak kuasa untuk mencegahnya namun  bagaimana dengan saudara kami (Ummu Salamah yang berasal dari Bani  Mughirah) ini?’. Kemudian mereka merenggut tali kendali unta dari  tangannya dan mencegahku untuk pergi bersamanya. Ketika Bani Abdul Asad  dari kaum Abi Salamah melihat hal itu, mereka marah dan saling  memperebutkan Salamah hingga berhasil mengambilnya dari paman-pamannya,  mereka mengatakan:’Tidak! demi Allah kami tidak akan membiarkan anak  laki-laki kami bersamanya jika kalian memisahkan istri dari keluarga  laki-laki kami’. Mereka memperebutkan anakku, Salamah lalu melepaskan  tangannya, kemudian anakku dibawa pergi bergabung dengan kaum bapaknya,  sedangkan aku tertahan oleh Bani Mughirah.</p>
<p>Maka berangkatlah suamiku  seorang diri hingga sampai ke Madinah untuk menyelamatkan dien dan  nyawanya. Selama beberapa waktu lamanya, aku merasakan hatiku hancur  dalam keadaan sendiri karena telah dipisahkan dari suami dan anakku.  Sejak hari itu, setiap hari aku pergi keluar ke pinggir sebuah sungai,  kemudian aku duduk disuatu tempat yang menjadi saksi akan kesedihanku.  Terkenang olehku saat-saat dimana aku berpisah dengan suami dan anakku  sehingga menyebabkan aku menangis sampai menjelang malam. Kebiasaan  tersebut aku lakukan kurang lebih selama satu tahun hingga ada seorang  laki-laki dari kaum pamanku yang melewatiku. Tatkala melihat kondisiku,  ia menjadi iba kemudian berkata kepada orang-orang dari kaumku: ‘Apakah  kalian tidak membiarkan wanita yang miskin ini untuk keluar? Sungguh  kalian telah memisahkannya dengan suami dan anaknya’. Hal itu dikatakan  secara berulangkali sehingga menjadi lunaklah hati mereka, kemudian  mereka berkata kepadaku: ‘Susullah suamimu jika kamu ingin’. Kala itu  anakku juga dikembalikan oleh Bani Abdul Asad kepadaku. Selanjutnya aku  mengambil untaku dan meletakkan anakku dipangkuannya. Aku keluar untuk  menyusul suamiku di Madinah dan tak ada seorangpun yang bersamaku dari  makhluk Allah.</p>
<p>Manakala aku sampai di at-Tan’im  aku bertemu dengan Utsman bin Thalhah. Dia bertanya kepadaku:’Hendak  kemana anda wahai putri Zaad ar-Rakbi?’. ‘Aku hendak menyusul suamiku di  Madinah”, jawabku. Utsman berkata: ‘apakah ada seseorang yang  menemanimu?. Aku menjawab: ‘Tidak! demi Allah! melainkan hanya Allah  kemudian anakku ini’. Dia menyahut: ‘Demi Allah engkau tidak boleh  ditinggalkan sendirian’. Selanjutnya dia memegang tali kekang untaku dan  menuntunnya untuk menyertaiku. Demi Allah tiada aku kenal seorang  laki-laki Arab yang lebih baik dan lebih mulia dari Ustman bin Thalhah.  Apabila kami singgah di suatu tempat, dia mempersilahkan aku berhenti  dan kemudian dia menjauh dariku menuju sebuah pohon dan dia berbaring  dibawahnya. Apabila kami hendak melanjutkan perjalanan, dia mendekati  untaku untuk mempersiapkan dan memasang pelananya kemudian menjauh  dariku seraya berkata: ‘Naiklah!’. Apabila aku sudah naik ke atas unta  dia mendatangiku dan menuntun untaku kembali. Demikian seterusnya yang  dia lakukan hingga kami sampai di Madinah. Tatkala dia melihat desa Bani  Umar bin Auf di Quba’ yang merupakan tempat dimana suamiku, Abu Salamah  berada di tempat hijrahnya. Dia berkata:’Sesungguhnya suamimu berada di  desa ini, maka masuklah ke desa ini dengan barokah Allah’. Sementara  Ustman bin Thalhah langsung kembali ke Makka”.</p>
<p>Begitulah, Ummu Salamah adalah  wanita pertama yang memasuki Madinah dengan sekedup unta sebagaimana  beliau juga pernah mengikuti rombongan pertama yang hijrah ke Habasyah.  Selama di Madinah beliau sibuk mendidik anaknya – inilah tugas pokok  bagi wanita – dan mempersiapkan sesuatu sebagai bekal suaminya untuk  berjihad dan mengibarkan bendera Islam. Abu Salamah mengikuti perang  Badar dan perang Uhud. Pada Perang Uhud inilah beliau terkena luka yang  parah. Beliau terkena panah pada begian lengan dan tinggal untuk  mengobati lukanya hingga merasa sudah sembuh.</p>
<p>Selang dua bulan setelah perang  Uhud, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam mendapat laporan bahwa  Bani Asad merencanakan hendak menyerang kaum muslimin. Kemudian beliau  memanggil Abu Salamah dan mempercayakan kepadanya untuk membawa bendera  pasukan menuju “Qathn”, yakni sebuah gunung yang berpuncak tinggi  disertai pasukan sebanyak 150 orang. Di antara mereka adalah ‘Ubaidullah  bin al-Jarrah dan Sa’ad bin Abi Waqqash.</p>
<p>Abu Salamah melaksanakan  perintah Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam untuk menghadapi musuh  dengan antusias. Beliau menggerakkan pasukannya pada gelapnya subuh saat  musuh lengah. Maka usailah peperangan dengan kemenangan kaum muslimin  sehingga mereka kembali dalam keadaan selamat dan membawa ghanimah.  Disamping itu, mereka dapat mengembalikan sesuatu yang hilang yakni  kewibawaan kaum muslimin tatkala perang Uhud.</p>
<p>Pada pengiriman pasukan inilah  luka yang diderita oleh Abu Salamah pada hari Uhud kembali kambuh  sehingga mengharuskan beliau terbaring ditempat tidur. Di saat-saat dia  mengobati lukanya, beliau berkata kepada istrinya: “Wahai Ummu Salamah,  aku mendengar Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p>“Tiada seorang muslimpun yang  ditimpa musibah kemudian dia mengucapkan kalimat istirja’ (inna lillahi  wa inna ilaihi raji’un), dilanjutkan dengan berdo’a:’Ya Allah berilah  aku pahala dalam musibah ini dan gantilah untukku dengan yang lebih baik  darinya’ melainkan Allah akan menggantikan yang lebih baik darinya”.</p>
<p>Pada suatu pagi Rasulullah  Shallallaahu ‘alaihi wa sallam datang untuk menengoknya dan beliau terus  menunggunya hingga Abu Salamah berpisah dengan dunia. Maka Rasulullah  Shallallaahu ‘alaihi wa sallam memejamkan kedua mata Abu Salamah dengan  kedua tangannya yang mulia, beliau mengarahkan pandangannya ke langit  seraya berdo’a:</p>
<p>“Ya Allah ampunilah Abu Salamah,  tinggikanlah derajatnya dalam golongan Al-Muqarrabin dan gantikanlah  dia dengan kesudahan yang baik pada masa yang telah lampau dan ampunilah  kami dan dia Ya Rabbal’Alamin”.</p>
<p>Ummu Salamah menghadapi ujian  tersebut dengan hati yang dipenuhi dengan keimanan dan jiwa yang diisi  dengan kesabaran beliau pasrah dengan ketetapan Allah dan  qadar-Nya.Beliau ingat do’a Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam  yang diriwayatkan oleh Abu Salamah yakni:</p>
<p>“Ya Allah berilah aku pahala dalam musibah ini…”</p>
<p>Sebenarnya ada rasa tidak enak  pada jiwanya manakala dia membaca do’a: “Wakhluflii khairan minha” (dan  gantilah untukku dengan yang lebih baik darinya) karena hatinya  bertanya-tanya: ‘Lantas siapakah gerangan yang lebih baik daripada Abu  Salamah?’. Akan tetapi beliau tetap menyempurnakan do’anya agar bernilai  ibadah kepada Allah.</p>
<p>Ketika telah habis masa  iddahnya, ada beberapa shahabat-shahabat utama yang bermaksud untuk  melamar beliau. Inilah kebiasaan kaum muslimin dalam menghormati  saudaranya, yakni mereka manjaga istrinya apabila mereka terbunuh di  medan jihad. Akan tetapi Ummu Salamah menolaknya.</p>
<p>Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi  wa sallam turut memikirkan nasib wanita yang mulia ini; seorang wanita  mukminah, jujur, setia dan sabar. Beliau melihat tidak bijaksana rasanya  apabila dia dibiarkan menyendiri tanpa seorang pendamping. Pada suatu  hari, pada saat Ummu Salamah sedang menyamak kulit, Rasulullah  Shallallaahu ‘alaihi wa sallam datang dan meminta izin kepada Ummu  Salamah untuk menemuinya. Ummu Salamah mengizinkan beliau. Beliau  ambilkan sebuah bantal yang terbuat dari kulit dan diisi dengan ijuk  sebagai tempat duduk bagi Nabi. Maka Nabi pun duduk dan melamar Ummu  Salamah. Tatkala Rasulullah selesai berbicara, Ummu Salamah  hampir-hampir tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Tiba-tiba beliau  ingat hadits yang diriwayatkan oleh Abu Salamah, yakni; “Wakhlufli  khairan minha” (dan gantilah untukku dengan yang lebih baik darinya),  maka hatinya berbisik:’Dia lebih baik daripada Abu salamah’. Hanya saja  ketulusan dan keimanannya menjadikan beliau ragu, beliau hendak  mengungkapkan kekurangan yang ada pada dirinya kepada Rasulullah. Dia  berkata:”Marhaban ya Rasulullah, bagaimana mungkin aku tidak  mengharapkan anda ya Rasulullah…hanya saja saya adalah seorang wanita  yang pencemburu, maka aku takut jika engkau melihat sesuatu yang tidak  anda senangi dariku maka Allah akan mengadzabku, lagi pula saya adalah  seorang wanita yang telah lanjut usia dan saya memiliki tanggungan  keluarga. Maka Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda:”Adapun  alasanmu bahwa engkau adalah wanita yang telah lanjut usia, maka  sesungguhnya aku lebih tua darimu dan tiadalah aib manakala dikatakan  dia telah menikah dengan orang yang lebih tua darinya. Mengenai alasanmu  bahwa engkau memiliki tanggungan anak-anak yatim, maka semua itu  menjadi tanggungan Allah dan Rasul-Nya. Adapun alasanmu bahwa engkau  adalah wanita pencemburu, maka aku akan berdo’a kepada Allah agar  menghilangkan sifat itu dari dirimu. Maka beliau pasrah dengan  Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam . Dia berkata:”Sungguh Allah  telah menggantikan bagiku seorang suami yang lebih baik dari Abu  Salamah, yakni Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam.</p>
<p>Maka jadilah Ummu Salamah  sebagai Ummul mukminin. Beliau hidup dalam rumah tangga nubuwwah yang  telah ditakdirkan untuknya dan merupakan suatu kedudukan yang beliau  harapkan. Beliau menjaga kasih sayang dan kesatuan hati bersama para  ummahatul mukminin.</p>
<p>Ummu Salamah adalah seorang  wanita yang cerdas dan matang dalam memahami persoalan dengan pemahaman  yang baik dan dapat mengambil keputusan dengan tepat pula. Hal itu  ditunjukkan pada peristiwa Hudaibiyah manakala Rasulullah Shallallaahu  ‘alaihi wa sallam memerintahkan para shahabatnya untuk menyembelih  qurban selepas terjadinya perjanjian dengan pihak Quraisy. Namun ketika  itu, para shahabat tidak mengerjakannya karena sifat manusiawi mereka  yang merasa kecewa dengan hasil perjanjian Hudaibiyah yang banyak  merugikan kaum muslimin. Berulangkali Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa  sallam memerintahkan mereka akan tetapi tetap saja tak seorangpun mau  mengerjakannya. Maka Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam masuk  menemui Ummu Salamah dalam keadaan sedih dan kecewa. Beliau ceritakan  kepada Ummu Salamah perihal kaum muslimin yang tidak mau mengerjakan  perintah beliau. Maka Ummu Salamah berkata:”Wahai Rasulullah apakah anda  menginginkan hal itu?. Jika demikian, maka silahkan anda keluar dan  jangan berkata sepatah katapun dengan mereka sehingga anda menyembelih  unta anda, kemudian panggillah tukang cukur anda untuk mencukur rambut  anda (tahallul).</p>
<p>Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi  wa sallam menerima usulan Ummu Salamah. Maka beliau berdiri dan keluar  tidak berkata sepatah katapun hingga beliau menyembelih untanya.  Kemudian beliau panggil tukang cukur beliau dan dicukurlah rambut  beliau. Manakala para shahabat melihat apa yang dikejakan oleh  Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam, maka mereka bangkit dan  menyembelih kurban mereka, kemudian sebagian mereka mencukur sebagian  yang lain secara bergantian. Hingga hampir-hampir sebagian membunuh  sebagian yang lain karena kecewa. Setelah Rasulullah Shallallaahu  ‘alaihi wa sallam menghadap Ar-Rafiiqul A’la, maka Ummul Mukminin, Ummu  Salamah senantiasa memperhatikan urusan kaum muslimin dan mengamati  peristiwa-peristiwa yang terjadi. Beliau selalu andil dengan  kecerdasannya dalam setiap persoalan untuk menjaga lurusnya umat dan  mencegah mereka dari penyimpangan, terlebih lagi terhadap para penguasa  dari para Khalifah maupun para pejabat. Beliau singkirkan segala  kejahatan dan kezhaliman terhadap kaum muslimin, beliau terangkan  kalimat yang haq dan tidak takut terhadap celaan dari orang yang suka  mencela dalam rangka melaksanakan perintah Allah. Tatkala tiba bulan  Dzulqa’dah tahun 59 setelah hijriyah, ruhnya menghadap Sang Pencipta  sedangkan umur beliau sudah mencapai 84 tahun. Beliau wafat setelah  memberikan contoh kepada wanita dalam hal kesetiaan, jihad dan  kesabaran.</p>
<p>Sumber: Mengenal Sahabiyah Nabi,Mahmud Al-Istanbuli&amp;Mustafa Asy-Syalabi,Pustaka Tibyan,Solo</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/shahabiah.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/shahabiah.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/shahabiah.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/shahabiah.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/shahabiah.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/shahabiah.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/shahabiah.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/shahabiah.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/shahabiah.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/shahabiah.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/shahabiah.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/shahabiah.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/shahabiah.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/shahabiah.wordpress.com/62/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=shahabiah.wordpress.com&amp;blog=15180232&amp;post=62&amp;subd=shahabiah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://shahabiah.wordpress.com/2010/08/15/ummu-salamah-radiyallahuanha/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/fcef25fed79197e5e90e53a4fbad9e3a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">shahabiah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://shahabiah.files.wordpress.com/2010/08/indexgddg.jpeg" medium="image">
			<media:title type="html">indexgddg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Juwairiyah binti Al-Harits bin Abi Dhirar:tawanan perang yang akhirnya dinikahi Rasulullah</title>
		<link>http://shahabiah.wordpress.com/2010/08/14/juwairiyah-binti-al-harits-bin-abi-dhirartawanan-perang-yang-akhirnya-dinikahi-rasulullah/</link>
		<comments>http://shahabiah.wordpress.com/2010/08/14/juwairiyah-binti-al-harits-bin-abi-dhirartawanan-perang-yang-akhirnya-dinikahi-rasulullah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Aug 2010 16:25:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Shahabiah Zafaraan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Juwairiyah binti Al-Harits bin Abi Dhirar]]></category>
		<category><![CDATA[ummahatul mukminin]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[istri rasulullah]]></category>
		<category><![CDATA[kisah teladan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://shahabiah.wordpress.com/?p=49</guid>
		<description><![CDATA[Beliau adalah Juwairiyah binti Al-Harits bin Abi Dhirar bin Al-Habib Al-Khuza’iyah Al-Mushthaliqiyah. Beliau adalah secantik-cantik wanita yang ditawan tatkala kaum muslimin mengalahkan Bani Mushthaliq pada saat perang Muraisi . Hasil undian Juwairiyah adalah bagian untuk Tsabit bin Qais bin Syamas atau anak pamannya, tatkala itu Juwairiyah berumur 20 tahun. Dan, akhirnya beliau selamat dari kehinaan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=shahabiah.wordpress.com&amp;blog=15180232&amp;post=49&amp;subd=shahabiah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beliau adalah Juwairiyah binti Al-Harits bin Abi Dhirar<br />
bin Al-Habib Al-Khuza’iyah Al-Mushthaliqiyah. Beliau adalah secantik-cantik<br />
wanita yang ditawan tatkala kaum muslimin mengalahkan Bani Mushthaliq pada saat perang Muraisi .</p>
<p><a href="http://shahabiah.files.wordpress.com/2010/08/imageshht.jpeg"><img class="alignleft size-full wp-image-54" title="imageshht" src="http://shahabiah.files.wordpress.com/2010/08/imageshht.jpeg?w=500" alt=""   /></a>Hasil undian Juwairiyah adalah bagian untuk Tsabit bin Qais bin Syamas atau anak pamannya, tatkala itu Juwairiyah berumur 20 tahun. Dan, akhirnya beliau selamat dari kehinaan sebagai tawanan/rampasan perang dan kerendahannya. Beliau menulis untuk Tsabit bi Qais (bahwa beliau hendak menebus dirinya),kemudian mendatangi Rasulullah shalallahu alaihi wassalam agar mau menolong untuk menebus dirinya.</p>
<p><span id="more-49"></span></p>
<p>Maka menjadi ibalah hati Nabi Shalallahu alaihi wassalam melihat kondisi seorang wanita yang mulanya seorang sayyidah merdeka yang mana dia memohon beliau untuk mengentaskan ujian yang menimpa dirinya. Maka beliau bertanya pada Juwairiyah,”Maukah engkau mendapatkan yang lebih baik dari halitu?” maka dia menjawab dengan sopan,”Apakah itu ya Rasulullah?” beliau menjawab,”Aku tebus dirimu kemudian aku nikahi dirimu!” maka tersiratlah pada wajahnya yang cantik suatu kebahagiaan, sedangkan dia hampir-hampir tidak perduli dengan kemerdekaan dia karena remehnya, beliau menjawab,”Mau ya, Rasulullah”.Maka Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda:”Aku telah melakukannya”</p>
<p>Aisyah Ummul Mukminin berkata:”Tersebarlah berita kepada manusia bahwaRasulullah shalallahu alaihi wassalam telah menikahi Juwairiyah binti Al-Harits bin Abi Dhirar. Maka orang-orang berkata:”Kerabat Rasulullah shalallahu alaihi wassalam!maka mereka melepaskan tawanan perang yang mereka bawa, maka sungguh dengan pernikahan beliau dengan Juwairiyah menjadi sebab dibebaskannya seratus keluarga dari Bani Mushthaliq, maka aku tidak pernah mengetahui seorang wanita yang lebih berkah bagi kaumnya daripada Juwairiyah”.</p>
<p>Dan Ummul Mukminin Aisyah menceritakan perihal pribadi Juwairiyah:”Juwairiyah adalah seorang wanita yang manis dan cantik, tiada seorangpun yang melihatnya melainkan akan jatuh hati kepadanya. Tatkala Juwairiyah meminta kepada<br />
Rasulullah untuk membebaskan dirinya, sedangkan demi Allah aku telah melihatnya melalui pintu kamarku, maka aku merasa cemburu karena saya menduga bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wassalam akan melihat sebagaimana yang aku lihat”(1)</p>
<p>Maka masuklah pengantin wanita, sayyidah Bani Mushthaliq kedalam rumah tangga nubuwwah. Pada mulanya nama beliau adalah Burrah, namun Rasulullah menggantinya<br />
dengan Juwairiyah karena khawatir dia dikatakan keluar dari biji gandum.(2)</p>
<p>Ibnu Hajar menyebutkan didalam Ishabah tentang kuatnya iman Juwairiyah<br />
radhiyallau anha. Beliau berkata :”Ayah Juwairiyah mendatangi Rasul dan<br />
berkata:”Sesungguhnya anakku tidak berhak ditawan, karena terlalu mulia dari hal itu. Maka Nabi Shalallahu alaihi wassalam bersabda:”Bagaimana pendapatmu seandainya anakmu disuruh memilih diantara kita, apakah anda setuju?”. ”Baiklah”, katanya. Kemudian ayahnya mendatangi Juwairiyah dan menyuruhnya untuk memilih dirinya dengan Rasulullah maka beliau menjawab,”Aku memilih Allah dan Rasul-Nya”.</p>
<p>Ibnu Hisyam meriwayatkan bahwa akhirnya ayah beliau bernama Al-Harits masuk islam bersama kedua putranya dan beberapa orang dari kaumnya. ummul Mukminin Juwairiyah wafat pada tahun 50 hijriyah, adapula yang mengatakan tahun 56 Hijriyah.(3)</p>
<p>Semoga Allah merahmati Ummul Mukminin Juwairiyah, karena pernikahannya dengan Rasulullah shalallahu alaihi wassalam membawa barakah dan kebaikan yang<br />
menyebabkan kaumnya, keluarganya dan orang-orang yang dicintainya berpindah dari memalinglkan ibadah selian Allah dan kesyirikan, menuju kekbebasan dan cahaya islam beserta kewibawaannya. hal itu merupakan pelajaran bagi mereka yang bertanya-tanya tentang hikmah Rasulullah shalallahu aliahi wassalam beristri lebih dari satu.</p>
<p>Footnote:<br />
1.As-Sirah Ibnu Hisyam II/293 dan Al-Ishabah VIII/43 dan<br />
Al-Istii’ab IV/1804.Hal ini telah disebutkan pula oleh As-Suhaili dalam<br />
penjelasannya terhadap as-Sirah beliau berkata:Adapun pandangan Nabi shalallahu<br />
alaihi wassalam kepada Juwairiyah sehingga beliau melihat kecantikannya, hal itu<br />
karena Juwairiyah adalah seorang budak, seandainya dia wanita merdeka, maka<br />
beliau tidak akan melihat kecantikannya…lagipula diperbolehkan melihat wanita<br />
manakala bermaksud untuk menikahinya.Telah disebutkan bahwa alaihis shalatu<br />
wassalam memberi rukhsah untuk memandang wanita manakala bermaksud untuk<br />
menikahinya”<br />
2. Diriwayatkan oleh Muslim dari hadits Ibnu Abbas no.2140 dan<br />
Ahmad dalam Al-Musnad VI/429<br />
3. Ath-Thabaqat Ibnu Sa’ad VIII/120</p>
<p>Dikutip dari:<br />
An-Nisau Haular Rasul Mengenal Shahabiyah Nabi shalallahu<br />
alaihi wassalam,hal:81-83 At-Tibyan,Solo,2001.</p>
<p>***<br />
Telah  kita ketahui bahwa setiap istri Nabi . itu memiliki suatu kelebihan.  Demikian juga halnya dengan Juwairiyah yang telah membawa berkah besar  bagi kaumnya, Banil-Musthaliq. Bagaimana tidak, setelah dia memeluk  Islam, Banil-Musthaliq mengikrarkan diri menjadi pengikut Nabi . Hal ini  pernah diungkapkan Aisyah, “Aku tidak mengetahui jika ada seorang  wanita yang lebih banyak berkahnya terhadap kaumnya daripada  Juwairiyah.”</p>
<p>Juwairiyah adalah putri seorang pemimpin  Bani-Musthaliq yang bernama al-Harits bin Abi Dhiraar yang sangat  memusuhi Islam. Rasulullah memerangi mereka sehingga banyak kalangan  mereka yang terbunuh dan wanita-wanitanya menjadi tawanan perang. Di  antara tawanan tersebut terdapat Juwairiyah yang kemudian memeluk Islam,  dan keislamannya itu merupakan awal kebaikan bagi kaumnya.</p>
<p>Kelahiran dan Masa Pertumbuhannya<br />
Juwairiyah  dilahirkan empat belas tahun sebelum Nabi hijrah ke Madinah. Semula  namanya adalah Burrah, yang kemudian diganti menjadi Juwairiyah. Nama  lengkapnya adalah Juwairiyah binti al-Harits bin Abi Dhiraar bin Habib  bin Aid bin Malik bin Judzaimah bin Musthaliq bin Khuzaah. Ayahnya,  al-Harits, adalah pemimpin kaumnya yang masih musyrik dan menyembah  berhala sehingga Juwairiyah dibesarkan dalam kondisi keluarga seperti  itu. Tentunya dia memiliki sifat dan kehormatan sebagai keluarga seorang  pemimpin. Dia adalah gadis cantik yang paling luas ilrnunya dan paling  baik budi pekertinya di antara kaumnya. Kemudian dia menikah dengan  seorang pemuda yang bernama Musafi’ bin Shafwan.</p>
<p>Berada dalam Tawanan Rasulullah<br />
Di  bawah komando al-Harits bin Abi Dhiraar, orang-orang munaflk berniat  menghancurkan kaum muslimin. Al-Harits sudah mengetahui kekalahan  orang-orang Quraisy yang berturut-turut oleh kaum muslimin. Al-Harits  beranggapan, jika pasukannya berhasil mengalahkan kaum muslimin, mereka  dapat menjadi penguasa suku-suku Arab setelah kekuasaan bangsa Quraisy.  Al-Harits menghasut pengikutnya untuk memerangi Rasulullah dan kaum  muslimin. Akan tetapi, kabar tentang persiapan penyerangan tersebut  terdengar oleh Rasulullah, sehingga beliau berinisiatif untuk mendahului  menyerang mereka. Dalam penyerangan tersebut, Aisyah r.a. turut bersama  Rasulullah, yang kemudian meriwayatkan pertemuan Rasulullah dengan  Juwairiyah setelah dia menjadi tawanan. Perang antara pasukan kaum  muslimin dengan Banil-Musthaliq pun pecah, dan akhirnya dimenangkan oleh  pasukan muslim. Pemimpin. mereka, al-Harist, melarikan diri, dan  putriinya, Juwainiyah, tertawan di tangan Tsabit bin Qais al-Anshari.  Juwairiyah mendatangi Rasulullah dan mengadukan kehinaan dan kemalangan  yang menimpanya, terutama tentang suaminya yang terbunuh dalam  peperangan.</p>
<p>Tentang Juwairiyah, Aisyah mengemukan cerita  sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Saad dalarn Thabaqatnya,  “Rasulullah menawan wanita-wanita Bani Musthaliq, kemudian beliau  menyisihkan seperlima dari antara mereka dan membagikannya kepada kaum  muslimin. Bagi penunggang kuda mendapat dua bagian, dan lelaki yang lain  mendapat satu bagian. Juwainiyah jatuh ke tangan Tsabit bin Qais bin  Samas al-Anshari. Sebelumnya, Juwairiyah menikah dengan anak pamannya,  yaitu Musafi bin Shafwan bin Malik bin Juzaimah, yang tewas dalam  pertempuran melawan kaum muslimin.</p>
<p>Ketika Rasulullah tengah  berkumpul denganku, Juwainiyah datang menanyakan tentang penjanjian  pembebasannya. Aku sangat membencinya ketika dia menemui beliau.  Kemudian dia berkata, ‘Ya Rasulullah, aku Juwainiyah binti al-Harits,  pemimpin kaumnya. Sekarang ini aku tengah berada dalam kekuasaan Tsabit  bin Qais. Dia membebaniku dengan sembilan keping emas, padahal aku  sangat menginginkan kebebasanku.’ Beliau bertanya, ‘Apakah engkau  menginginkan sesuatu yang lebih dari itu?’ Dia balik bertanya, ‘Apakah  gerangan itu?’ Beliau menjawab, ‘Aku penuhi permintaanmu dalam membayar  sembilan keping emas dan aku akan menikahimu.’ Dia menjawab, ‘Baiklah,  ya Rasulullah!” Beliau bersabda, ‘Aku akan melaksanakannya.’ Lalu  tersebarlah kabar itu, dan para sahabat Rasulullah . berkata, ‘Ipar-ipar  Rasulullah tidak layak menjadi budak-budak.’ Mereka membebaskan tawanan  Banil-Musthaliq yang jumlahnya hingga seratus keluarga karena  perkawinan Juwairiyah dengan Rasulullah. Aku tidak pernah menemukan  seorang wanita yang lebih banyak memiliki berkah daripada Juwairiyah.”</p>
<p>Selain  itu, Aisyah sangat memperhatikan kecantikan Juwairiyah, dan itulah di  antaranya yang menyebabkan Rasulullah menawarkan untuk menikahinya.  Aisyah sangat cemburu dengan keadaan seperti itu. Padahal Rasulullah .  berbuat baik kepada Juwairiyah bukan semata karena wajahnya yang cantik,  melainkan karena rasa belas kasih beliau kepadanya. Juwairiyah adalah wanita yang ditinggal mati suaminya dan saat itu dia telah menjadi tawanan rampasan perang kaum muslimin.</p>
<p>Mendengar  putrinya berada dalam tawanan kaum muslimin, al-Harits bin Abi Dhiraar  mengumpulkan puluhan unta dan dibawanya ke Madinah untuk menebus  putrinya. Sebelum sampai di Madinah dia berpendapat untuk tidak membawa  seluruh untanya, namun dia hanya membawa dua ekor unta yang terbaik,  yang kemudian dibawa ke al-Haqiq di bawah pengawasan para pengawalnya.  Lalu dia pergi ke Madinah dan menemui Rasulullah di masjid. Terdapat dua  riwayat yang menerangkan pertemuan al-Harits dengan Rasulullah. Dalam  riwayat pertama, seperti yang diungkapkan Ibnu Saad dalam Thabaqat-nya,  dikatakan bahwa Rasulullah menyerahkan keputusan kepada Juwairiyah.</p>
<p>Juwairiyah  berkata, “Aku telah memilih Rasulullah ..” Ayahnya berkata, “Demi  Allah, kau telah menghinakan kami.” Dalam riwayat kedua seperti yang  disebutkan Ibnu Hisyam bahwa al-Harits menemui Rasulullah dan berkata,  “Ya Muhammad, engkau telah menawan putriku. Ini adalah tebusan untuk  kebebasannya.” Rasulullah menjawab, “Di manakah kedua unta yang engkau  sembunyikan di al-Haqiq? Di tempat anu dan anu?” Al-Harits menjawab,  “Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah, dan engkau adalah utusanNya.  Tiada yang mengetahui hal itu selain Allah.” Al-Harits memeluk Islam dan  diikuti sebagian kaumnya. Rasulullah meminang Juwairiyah dengan mas  kawin 400 dirham.</p>
<p>Berada di Rumah Rasulullah<br />
Ketika Juwairiyah  menikah dengan Rasulullah, beliau mengubah namanya, yang asalnya Burrah  menjadi Juwairiyah, sebagaimana disebutkan dalam Thabaqat-nya Ibnu  Saad, “Nama Juwainiyah binti al-Harits merupakan perubahan dan Burrah.  Rasulullah . menggantinya menjadi Juwairiyah, karena khawatir disebut  bahwa beliau keluar dan rumah burrah.”</p>
<p>Juwairiyah telah memeluk  Islam dan keimanan di hatinya telah kuat. Semata-mata dia mengikhlaskan  diri untuk Allah dan Rasul-Nya. Ibnu Abbas banyak meriwayatkan shalat  dan ibadahnya, di antaranya, “Ketika itu Rasulullah hendak melakukan  shalat fajar dan keluar dan tempatnya. Setelah shalat fajar dan duduk  hingga matahani meninggi, beliau pulang, sementara Juwairiyah tetap  dalam shalatnya. Juwairiah berkata, ‘Aku tetap giat shalat setelahmu, ya  Rasulullah.’ Nabi bersabda, ‘Aku akan mengatakan sebuah kalimat  setelahmu. Jika engkau kenjakan, niscaya akan lebih berat dalarn  timbangan, ‘Maha Suci Allah, sebanyak yang Dia ciptakan. Maha Suci Allah  Penghias Arasy-Nya. Maha Suci Allah, unsur seluruh kalimat-Nya.”</p>
<p>Setelah  Rasulullah . meninggal dunia, Juwairiyah mengasingkan diri serta  memperbanyak ibadah dan bersedekah di jalan Allah dengan harta yang  diterimanya dari Baitul-Mal. Ketika terjadi fitnah besar berkaitan  dengan Aisyah, dia banyak berdiam diri, tidak berpihak ke mana pun.</p>
<p>Saat Wafatnya<br />
Juwairiyah  wafat pada masa kekhalifahan Mu’awiyah bin Abu Sufyan, pada usianya  yang keenam puluh. Dia dikuburkan di Baqi’, bersebelahan dengan kuburan  istri-istri Rasulullah yang lain. Semoga Allah rela kepadanya dan kepada  semua istri Rasulullah .</p>
<p>Semoga Allah memberikan kemuliaan kepadanya di akhirat dan ditempatkan bersama hamba-hamba yang saleh. Amin.</p>
<p>Sumber :<br />
- Buku Dzaujatur-Rasulullah, karya Amru Yusuf, Penerbit Darus-Sa’abu, Riyadh.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/shahabiah.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/shahabiah.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/shahabiah.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/shahabiah.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/shahabiah.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/shahabiah.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/shahabiah.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/shahabiah.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/shahabiah.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/shahabiah.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/shahabiah.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/shahabiah.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/shahabiah.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/shahabiah.wordpress.com/49/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=shahabiah.wordpress.com&amp;blog=15180232&amp;post=49&amp;subd=shahabiah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://shahabiah.wordpress.com/2010/08/14/juwairiyah-binti-al-harits-bin-abi-dhirartawanan-perang-yang-akhirnya-dinikahi-rasulullah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/fcef25fed79197e5e90e53a4fbad9e3a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">shahabiah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://shahabiah.files.wordpress.com/2010/08/imageshht.jpeg" medium="image">
			<media:title type="html">imageshht</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kisah Cinta Zainab Putri Rasulullah</title>
		<link>http://shahabiah.wordpress.com/2010/08/14/kisah-cinta-zainab-putri-rasulullah/</link>
		<comments>http://shahabiah.wordpress.com/2010/08/14/kisah-cinta-zainab-putri-rasulullah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Aug 2010 02:12:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Shahabiah Zafaraan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Zainab bintu Muhammad Rasullah]]></category>
		<category><![CDATA[kisah]]></category>
		<category><![CDATA[kisah cinta]]></category>
		<category><![CDATA[kisah teladan]]></category>
		<category><![CDATA[wanita mulia]]></category>
		<category><![CDATA[wanita teladan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://shahabiah.wordpress.com/?p=35</guid>
		<description><![CDATA[Dulu di kota Makkah, terdapat seorang pemuda terhormat di kalangan suku Quraisy. Ia terkenal dengan harta kekayaan yang melimpah, mempunyai usaha perniagaan, dan terkenal sebagai pemuda jujur serta memegang amanat. Pemuda itu ialah Abul ‘Ash bin Rabi’. Melihat kemuliaan pemuda ini, kekasih Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu Khadijah binti Khuwailid berkeinginan menjodohkan putrinya, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=shahabiah.wordpress.com&amp;blog=15180232&amp;post=35&amp;subd=shahabiah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dulu  di kota Makkah, terdapat seorang pemuda terhormat di kalangan suku  Quraisy. Ia terkenal dengan harta kekayaan yang melimpah, mempunyai  usaha perniagaan, dan terkenal sebagai pemuda jujur serta memegang  amanat. Pemuda itu ialah <strong>Abul ‘Ash bin Rabi’</strong>. Melihat kemuliaan pemuda ini, kekasih Rasulullah <strong>Muhammad</strong> <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam, </em>yaitu <strong>Khadijah binti Khuwailid </strong>berkeinginan menjodohkan putrinya, Zainab, dengan pemuda ini.  Nabi Muhammad pun menyetujui keinginan istrinya tersebut. Apalagi, Abul  ‘Ash bukan termasuk orang asing di sisi Nabi. Moyang Abul’ Ash bertemu  dengan moyang Nabi pada Abdu Manaf. Demikian pula, garis darah Abul Ash  dari jalur ibu bertemu dengan garis darah Zainab dari jalur ibu  (Khadijah) pada Khuwailid.</p>
<p><a href="http://shahabiah.files.wordpress.com/2010/08/indexhhh.jpeg"><img class="alignleft size-full wp-image-39" title="indexhhh" src="http://shahabiah.files.wordpress.com/2010/08/indexhhh.jpeg?w=500" alt=""   /></a></p>
<p>Pernikahan pun dilangsungkan. Di hari yang indah itu, Khadijah  memberikan kalung miliknya sebagai hadiah bagi putri terncintanya itu.  Maka, Zainab pun berpindah tangan. Ia meninggalkan rumah ibu dan ayahnya  menuju naungan dan belaian Abul Ash bin Rabi’ untuk membangun maligai  rumah tangga bersamanya. Ketika itu, sesungguhnya Abul Ash belum memeluk  Islam. Sementara itu, الله belum mengharamkan pernikahan wanita muslimah dengan laki-laki kafir.</p>
<p><span id="more-35"></span></p>
<p><strong>Bahtera pun Mulai Berguncang</strong></p>
<p><strong> </strong>Waktu pun terus berlalu, cahaya Islam mulai merasuk di hati penduduk Mekkah.</p>
<p>Namun sungguh sayang, Abul ‘Ash bin Rabi’ masih enggan menerima hidayah  Islam yang telah dipeluk istri tercintanya itu. Ia masih belum bisa  meninggalkan agama nenek moyangnya yang telah mengakar kuat di hatinya  walaupun di sisi hatinya yang lain, ia masih sangat mencintai Zainab  dengan kecintaan yang murni.</p>
<p>Zainab, dengan segala keinginan yang kuat, berupaya merayu suaminya  agar menerima hidayah Islam. Ia berupaya sebaik mungkin menerangkan  agama yang dibawa ayahnya kepada suaminya itu dengan tenang dan penuh  pengharapan. Dipilihnya kata-kata yang halus dan wajah yang lembut untuk  menarik hati Abul Ash. Ia juga berusaha sekuat mungkin memilih untaian  lisan yang indah dan tutur kata yang santun untuk meluluhkan hati sang  suami tercinta.</p>
<p>Namun, tidaklah ada yang bisa membalik hati manusia selain pencipta manusia itu sendiri, yaitu الله.  Zainab sangat bersedih karena laki-laki yang dicintainya itu sama  sekali tidak terketuk hatinya. Abul Ash hanya diam, dan tidak menanggapi  seruan istrinya dengan jawaban yang memuaskan. Seolah-olah, suara hati  sang istri tidaklah demikian penting dan berarti dalam hidupnya.</p>
<p>Ketika permusuhan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan kaum muslimin dengan orang-orang kafir Quraisy semakin memuncak,  orang-orang kafir tersebut mendorong para laki-laki yang mempunyai istri  mukminah agar menceraikannya. Benarlah, dua belahan hati Nabi kita yang  mulia, Ruqayyah dan Ummu Kultsum telah dicerai suaminya, lalu  diantarkan ke rumah Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Betapa bahagianya Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menerima kembali kedua putrinya. Justru kekhawatiranlah yang melanda bila keduanya masih hidup bersama laki-laki musyrik.</p>
<p>Kaum kafir Quraisy sebenarnya juga mendorong Abul ‘Ash agar mencerai  Zainab. Salah satu di antara mereka mengatakan, “Hai Abul ‘Ash! Cerailah  istrimu! Kembalikan dia ke rumah bapaknya!<strong><em> K</em><em>ami sanggup dan bersedia mengawinkanmu dengan siapa saja yang engkau sukai dari segudang wanita Quraisy yang cantik-cantik</em></strong></p>
<p>Akan tetapi, ternyata cintanya terlanjur begitu dalam kepada Zainab.  Baginya, tidak ada wanita Arab yang mampu menandingi kekasih tercintanya  tersebut. Oleh karena itu, Abul ‘Ash menjawab seruan orang kafir tadi, “<strong><em>Tidak! Aku tidak akan mencerainya. Aku tidak akan menggantinya dengan wanita manapun di seluruh dunia ini</em></strong>.”</p>
<p>Pada dasarnya, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> ingin seandainya Abul ‘Ash mencerai Zainab. Namun, apa kuasa beliau? Saat itu, Allah <strong>belum mengharamkan</strong> perkawinan wanita mukminah dengan pria musyrik. Oleh karena itu, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> tidak berhak memaksa Abul ‘Ash untuk mencerai istrinya.</p>
<p>Ketika terjadi perang Badr, Abul ‘Ash ikut berada dalam barisan kaum  musyrikin. Apa boleh buat, sekiranya ia tidak berkenan memerangi  mertuanya, ia tinggal bersama musyrikin tersebut di Makkah. Itulah yang  memaksanya ikut dalam barisan musuh-musuh Allah.</p>
<p>Maka, perang pun terjadi dengan membawa hasil berupa kekalahan telak,  kehinaan, dan rasa malu yang menimpa kaum kafir Quraisy. Di antara  mereka, ada yang tewas terbunuh di tangan kaum muslimin. Ada yang  tertawan dan ada pula yang berhasil meloloskan diri. Adapun Abul ‘Ash,  ia termasuk kelompok yang tertawan.</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mewajibkan uang tebusan yang harus dibayar bagi setiap tawanan yang ingin bebas. Tebusan yang beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> tetapkan, sebesar kedudukan dan kekayaan tawanan tersebut di kaumnya,  antara seribu hingga empat ribu dirham. Maka, berdatanganlah para utusan  dari Makkah dengan membawa uang untuk menebus karib kerabat mereka yang  tertawan….</p>
<p><strong>Rasulullah pun Turut Bersedih </strong></p>
<p>Zainab, belahan hati Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> yang begitu dalam cintanya kepada suaminya turut pula mengirim utusan  untuk menebus Abul ‘Ash bin Rabi’. Di antara uang tebusan itu, terdapat  sebuah kalung Zainab yang merupakan pemberian ibundanya, Khadijah binti  Khuwailid, sebagai hadiah di hari pernikahan Zainab dengan Abul ‘Ash.</p>
<p>Ketika Nabi kita yang mulia, Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> melihat kalung tersebut, tersentuhlah hati beliau. Wajah beliau berubah  menjadi sedih dengan kesedihan yang mendalam. Bagaimana tidak? Kalung  yang beliau lihat dulunya adalah milik istri pertamanya yang selalu  mendampingi beliau dalam keadaan susah dan senang. Wanita mana yang  mampu menandingi kesetiaan Khadijah di kala Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dicaci-maki orang-orang kafir. Khadijahlah yang menyelimuti nabi dan  menenangkan beliau ketika turun wahyu pertama kali. Dari wanita mulia  inilah Nabi memperoleh anak. Maka, wajarlah jikalau muncul perasaan  rindu di hati beliau.</p>
<p>Di sisi lain, kalung yang beliau lihat adalah kepunyaan putri yang  sangat beliau sayangi. Maka, hati mana yang tidak tersentuh, apalagi  dari seorang ayah kepada putri yang terpisah darinya? Oleh karena itu,  Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> berkata kepada para  shahabatnya, “Harta ini dikirimkan Zainab untuk menebus suaminya, Abul  ‘Ash. Sekiranya tuan-tuan setuju, saya harap tuan-tuan bebaskan tawanan  itu tanpa uang tebusan. Uang dan harta Zainab kirimkan kembali padanya.</p>
<p>Para shahabat Nabi yang mulia serta merta menyahut seruan beliau dengan berkata, “Baik ya Rasulullah! Kami setuju.”</p>
<p>Rasulullah Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> pun akhirnya membebaskan Abul ‘Ash ibn Rabi’ dengan memberi syarat agar ia segera mengantarkan Zainab kepada Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> setibanya di Makkah.</p>
<p>Benar, setibanya di Makkah, Abul ‘Ash segera memenuhi janji ayah  kekasih tercintanya itu. Ia memerintah Zainab agar segera mempersiapkan  diri untuk pergi ke Madinah. Abul ‘Ash pun turut menyiapkan perbekalan  dan</p>
<p>kendaraan untuk kepergian istrinya tersebut. Ia lalu menyuruh adiknya, ‘Amr ibn Rabi’<a href="http://alashree.wordpress.com/2009/02/20/kisah-cinta-abul-%e2%80%98ash-dengan-putri-nabi-muhammad/#_ftn1">[1]</a>, untuk mengantar Zainab dan menyerahkannya pada utusan Rasulullah yang sudah menunggu tidak jauh di luar kota Makkah.</p>
<p>‘Amr ibn Rabi’ menyambut perintah kakaknya itu. Serta merta ia  menyandang busur dan membawa sekantong anak panah, lalu dinaikkannya  Zainab ke <em>Haudaj</em>. Mereka pergi ke luar Makkah di tengah hari,  di depan muka kaum Quraisy. Melihat hal itu, orang-orang Quraisy marah,  dan berupaya menyusul keduanya, lalu mengancam dan menakut-nakuti  Zainab. Mereka mendapati Amr dan Zainab di <em>Dzi Thuwa</em>. Salah satu dari mereka yang pertama kali mampu menyusul keduanya adalah <strong>Habbar</strong> bin Aswad bin Muthallib bin Asad bin Abdul ‘Uzza bin Qushayyi dan <strong>Nafi’ </strong>bin Abdul Qais Az-Zuhri (ada yang mengatakan <strong>Nafi’</strong> bin Abdi ‘Amr).</p>
<p>Habbar yang datang dengan menghunus pedang sangat menggetarkan perasaan  Zainab yang berada di sekedupnya. Saat itu, ia sedang hamil. Gangguan  dan ancaman Habbar membuatnya jatuh terpelanting dari sekedupnya yang  mengakibatkan kandungannya gugur. Ini merupakan musibah berat yang  dihadapi Zainab karena gangguan mereka membuat beliau sering  sakit-sakitan yang akhirnya menjadi sebab kematian beliau. Oleh karena  itu, sang ayah, yaitu Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> pernah mengatakan kepada para shahabatnya,</p>
<p>“<em>Jika  kamu sekalian bertemu Habbar bin Aswad dan Nafi’ bin Amr, bakarlah  keduanya karena keduanya telah menyakiti Zainab, putri Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ia keluar ke Madinah hingga  akhirnya ia terus sakit-sakitan sampai meninggal dunia</em>.”</p>
<p>(As-Siyar II/247)</p>
<p>Akan tetapi, ‘Amr ibn Rabi’, dengan panah yang telah ia siapkan,  berkata keras kepada orang-orang Quraisy tersebut, “Siapa mendekat, aku  panah batang lehernya!”</p>
<p>Suasana menjadi tegang. Perkataan ‘Amr bukanlah main-main karena suku  Quraisy telah mengenalnya sebagai pemanah ulung yang tidak pernah  meleset bidikannya. Di tengah-tengah suasana seperti itu, berkatalah Abu  Sufyan ibn Harb, “Wahai anak saudaraku, letakkan panahmu! Kami akan  bicara denganmu.”</p>
<p>‘Amr pun meletakkan panahnya.</p>
<p>Abu Sufyan berkata lagi, “Perbuatanmu ini tidak betul hai ‘Amr. Engkau  membawa Zainab keluar dengan terang-terangan di hadapan orang banyak dan  di depan mata kami. Orang ‘Arab seluruhnya tahu akan kekalahan mereka  di <em>Badr</em> dan musibah yang ditimpakan bapak Zainab kepada kami.  Bila engkau membawa Zainab ke luar secara terang-terangan begini,  berarti engkau menghina seluruh kabilah ini sebagai penakut, lemah, dan  tidak berdaya. Alangkah hinanya itu!!! Oleh karena itu, bawalah Zainab  kembali kepada suaminya untuk beberapa hari. Setelah penduduk tahu kami  telah berhasil mencegah kepergiannya, engkau boleh membawanya diam-diam  dan sembunyi-sembunyi. Jangan di siang bolong seperti ini! Engkau boleh  mengantarkannya kepada bapaknya. Kami tidak mempunyai kepentingan  apa-apa untuk menahannya.”</p>
<p>‘Amr menyetujui saran Abu Sufyan. Dia mengantar Zainab kembali ke  rumahnya di Makkah. Selang beberapa hari kemudian, di tengah malam, ‘Amr  membawa Zainab ke luar kota dengan sembunyi-sembunyi lalu meyerahkannya  kepada utusan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dari  tangan ke tangan, sebagaimana pesan Abul ‘Ash. Dalam Majma’ Zawaid  disebutkan bahwa tatkala warga Makkah sudah tenang dan tidak lagi  membicarakan perihal Zainab, Amr keluar bersama Zainab di waktu malam,  lalu menyerahkannya kepada <strong>Zaid bin Haritsah</strong> dan temannya.</p>
<p>Akhirnya,  Abul Ash pun berpisah dengan istrinya. Dalam masa perpisahan ini, tiada  satupun yang sangat Zainab harapkan selain hidayah Islam merasuk kepada  kekasih yang sangat ia cintai itu. Zainab senantiasa memohon kepada  Allah agar Abul Ash segera memeluk agama Islam. Perpisahan ini demikian  lama, berlangsung beberapa tahun hingga menjelang <em>Fathu Makkah</em> (penaklukan kota Makkah).</p>
<p><strong>Awal Mula Pertemuan setelah Perpisahan yang Lama</strong></p>
<p>Abul Ash adalah seorang pedagang dan biasa berdagang ke negeri Syam.  Kegiatan perdagangan inilah yang dilakukannya setelah ia berpisah dengan  wanita yang sangat dicintainya itu. Suatu ketika, menjelang terjadinya <em>Fathu Makkah</em>,  dalam perjalanan pulang Abul Ash dari Syam ke Makkah, kafilahnya  dicegat pasukan patroli Rasulullah. Ketika itu, Abul Ash membawa seratus  onta yang penuh dengan muatan dan seratus tujuh pulu personil yang  menggiring unta-unta tersebut. Namun, Abul Ash masih</p>
<p>beruntung karena ia berhasil  lolos dari sergapan patroli Madinah. Kemudian, dengan sembunyi-sembunyi  ia menyusup ke kota Madinah di kala hari telah gelap. Ia berhasil  mendapati rumah Zainab, lalu minta perlindungan kepadanya. Zainab pun  memberi perlindungan kepada Abul Ash.</p>
<p>Setelah itu, ketika Nabi hendak menunaikan shalat shubuh dan beliau  sudah sudah berdiri di mihrab, lalu takbir dan takbirnya diikuti para  shahabat, Zainab berteriak dengan sekuat-kuatnya dari tempat khusus  wanita,</p>
<p>“<em>Hai manusia! Saya Zainab binti Muhammad. Abul Ash minta perlindungan kepada saya. Oleh karena itu, saya melindunginya.</em>“</p>
<p>Setelah Nabi usai melakasanakan shalat, Nabi berkata kepada para shahabatnya,</p>
<p>“<em>Apakah tuan-tuan mendengar suara Zainab?</em>“</p>
<p>Para shahabat menjawab, “<em>Kami mendengarnya wahai utusan Allah</em>“</p>
<p>Nabi berkata lagi,</p>
<p>“<em>Demi </em><em>الله </em><em> yang jiwaku dalam genggamannya. Saya tidak tahu apa-apa tentang hal ini, kecuali setelah mendengar teriakan Zainab</em>“</p>
<p>Kemudian, Nabi mendatangi rumah Zainab, kemudian berkata kepada putrinya tersebut,</p>
<p>“<em>Hormatilah Abul ‘Ash! Akan tetaapi, ketahuilah! Engkau tidak lagi halal baginya.</em>“</p>
<p>Setelah itu, Nabi memanggil pasukan patroli Madinah yang telah  menyergap kafilah dagang Abul Ash, lalu beliau berkata kepadaa mereka,</p>
<p>“<em>Sebagaimana  kalian ketahui, orang ini (Abul Ash) adalah family kami. Kalian telah  merampas hartanya. Jika kalian ingin berbuat baik, kembalikanlah  hartanya. Itulah yang kami sukai. Akan tetapi, jika kalian enggan  mengenbalikan, itu adalah hak kalian karena harta itu adalah rampasan  perang dibrikan </em><em>الله</em><em> kepada kalian. Kalian berhak mengambilnya.</em>“</p>
<p>Mendengar perkataan Nabi tersebut, para shahabat justru mengatakan,</p>
<p>“<em>Kami kembalikan wahai ututsan Allah…”</em></p>
<p>Mengetahui para shahabat nabi ingin mengembalikan hartanya, Abul Ash  mendatangi mereka untuk mengambil hartanya tersebut. Ketika Abul Ash  sampai di hadapan para shahabat Nabi, para shahabat berkata,</p>
<p>“<em>Wahai  Abul ‘Ash! Engkau adalah seorang bangsawan Quraisy. Engkau anak paman  ingakan serahkan harta ini semuanya kepadanu. Engkau akan dapat  menikmati harta penduduk Makkah yang Engkau bawa ini. Tinggallah bersama  kami di Madinah</em>“</p>
<p>Kalau kita lihat sepintas, tawaran para shahabat ini demikian  menguntungkan Abul Ash. Namun, lihatlah betapa tinggi dan luhur pekerti  serta kemormatan Abul Ash dalam sikap Abul Ash berikut ini:</p>
<p>Abul Ash menolak tawaran para shahabat seraya berkata,</p>
<p>“<em>Usul kalian sangat jelak dan tidak pantas</em><em>. Aku harus membayar hutang-hutangku segera</em>“</p>
<p>Lalu, Abu ‘Ash membawa kembali harta bendanya menuju Makkah. kemudian,  begitu ia sampai di Makkah, ia segera memabayarkan hutang-hutangnya  kepada setiap yang berhak menerimanya. Setelah itu, ia bekata kepada  penduduk Makkah,</p>
<p>“<em>Hai kaum Quraisy! Masih adakah yang belum menerima pembayaran dariku?</em>“</p>
<p>Penduduk Makkah serta merta menjawab seruan itu,</p>
<p>“<em>Tidak! Semoga </em><em>الله</em><em> membalasmu dengan yang lebih baik. Kami telah menerima pembayaran darimu secukupnya.</em>“<em> </em></p>
<p>Abul ‘Ash lalu berkata,</p>
<p>“<em>Sekarang ketahuilah, aku telah aku telah membyar hak kamu masing-masing secukupnya. </em><em>Maka, kini dengarkan! Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang disembah kecuali </em><em>الله</em><em> dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan </em><em>الله</em><em> . Demi </em><em>الله</em><em>,  tidak ada yang menghalangiku untuk menyatakan Islam kepada Muhammad  ketika aku berada di Madinah, kecuali kekhawatiranku kalau kalian  menyangka, aku masuk Islam karena hendak memakan harta kalian. Kini,  setelah </em><em>الله</em><em> membayarnya kepada kamu sekalian dan tanggung jawabku telah selesai, aku menyatakan masuk Islam.</em>”</p>
<p>Setelah itu, Abul ‘Ash keluar dari Makkah untuk menemui Rasulullah Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam.</em> Rasulullah pun menerima dan menyambut kedatangannya, serta menyerahkan kembali istrinya, Zainab ke dalam naungannya.</p>
<p>Di antara kemuliaan Abul Ash adalah apa yang disabdakan Nabi Muhammad berikut ini,</p>
<p>“<em>Dia berbicara kepadaku, aku mempercayainya. Dia berjanji kepadaku, dia memenuhi janjinya.</em>”</p>
<p>Namun, kebahagiaan Abul ‘Ash dalam merasakan kesejukan sang istri  tercinta setelah waktu perpisahan yang begitu panjang tidaklah  berlangsung lama. Ia dapati lagi perpisahan berikutnya yang tidak  mungkin lagi datang pertemuan berikutnya. Perpisahan itu ialah kepergian  Zainab meninggalkan dunia ini, tepatnya pada tahun 8 hijriah.</p>
<p>——————————————————-</p>
<p>CATATAN: Harap pembaca jangan mengopy artikel ini terlebih dahulu. <em>Qaddarullah</em>, sebelum artikel ini di<em>upload</em>,  beberapa referensi kitab yang sudah penulis susun dalam risalah khusus,  HILANG. Padahal, penulis berupaya menukilkan beberapa teks-teks Arab  yang merupakan sabda Nabi, pembicaraan tokoh-tokoh (Abul Ash, Zainab,  dan orang-orang Quraisy) beserta sumbernya agar pembaca dapat merujuknya  langsung pada kitab aslinya. Oleh karena itu, penulis memohon maaf yang  sebesar-besarnya apabila penulis belum mencantumkan kitab-kitab  rujukan. Penulis akan menyusunnya kembali atau mencari lagi risalah yang  hilang tersebut lalu diupload lagi dalam bentuk ARTIKEL REVISI. Artikel  yang belum direvisi ini sengaja penulis upload agar pemaca yang kiranya  menemukan kesalahan dalam artikel ini, dapat ikut mengeditnya atau  menambahkan dari referensi lain yang pembaca dapatkan.</p>
<hr size="1" /><a href="http://alashree.wordpress.com/2009/02/20/kisah-cinta-abul-%e2%80%98ash-dengan-putri-nabi-muhammad/#_ftnref1">[1]</a> Dalam referensi yang lain, penulis dapati bahwa saudara Abul ‘Ash yang mengantar Zainab adalah  <strong>Kinanah bin Rabi’</strong>. Insya Allah, penulis akan mengeceknya kembali dalam kitab biografi shahabat di <em>Ushudul Ghabah</em> atau <em>Al-Ishobah</em>.  Dan mana yang benar antara Kinanah atau Amr, akan penulis sampaikan  dalam artikel revisi. Bagi pembaca yang telah mengetahui mana yang benar  dari di antara kedua nama tersebut, harap segera menyampaikannya kepada  penulis.</p>
<p>sumber:</p>
<p>http://alashree.wordpress.com</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/shahabiah.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/shahabiah.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/shahabiah.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/shahabiah.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/shahabiah.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/shahabiah.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/shahabiah.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/shahabiah.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/shahabiah.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/shahabiah.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/shahabiah.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/shahabiah.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/shahabiah.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/shahabiah.wordpress.com/35/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=shahabiah.wordpress.com&amp;blog=15180232&amp;post=35&amp;subd=shahabiah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://shahabiah.wordpress.com/2010/08/14/kisah-cinta-zainab-putri-rasulullah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/fcef25fed79197e5e90e53a4fbad9e3a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">shahabiah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://shahabiah.files.wordpress.com/2010/08/indexhhh.jpeg" medium="image">
			<media:title type="html">indexhhh</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Zainab binti Jahsy:istri Rasulullah yang berasal dan kalangan kerabat</title>
		<link>http://shahabiah.wordpress.com/2010/08/14/zainab-binti-jahsyistri-rasulullah-yang-berasal-dan-kalangan-kerabat/</link>
		<comments>http://shahabiah.wordpress.com/2010/08/14/zainab-binti-jahsyistri-rasulullah-yang-berasal-dan-kalangan-kerabat/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Aug 2010 01:23:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Shahabiah Zafaraan</dc:creator>
				<category><![CDATA[ummahatul mukminin]]></category>
		<category><![CDATA[Zainab binti Jahsyi]]></category>
		<category><![CDATA[kisah teladan]]></category>
		<category><![CDATA[shahabiah]]></category>
		<category><![CDATA[siroh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://shahabiah.wordpress.com/?p=28</guid>
		<description><![CDATA[Pernikahan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam dengan Zainab binti Jahsy didasarkan pada perintah Allah sebagai jawaban terhadap tradisi jahiliah. Zainab binti Jahsy adalah istri Rasulullah yang berasal dan kalangan kerabat sendiri. Zainab adalah anak perempuan dan bibi Rasulullah, Umaimah binti Abdul Muththalib. Beliau sangat mencintai Zainab. Nasab dan Masa Pertumbuhannya Nama lengkap Zainab adalah Zainab binti [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=shahabiah.wordpress.com&amp;blog=15180232&amp;post=28&amp;subd=shahabiah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://shahabiah.files.wordpress.com/2010/08/img55730262.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-30" title="img55730262" src="http://shahabiah.files.wordpress.com/2010/08/img55730262.jpg?w=500" alt=""   /></a> Pernikahan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam  dengan Zainab binti Jahsy didasarkan pada perintah Allah sebagai  jawaban terhadap tradisi jahiliah. Zainab binti Jahsy adalah istri  Rasulullah yang berasal dan kalangan kerabat sendiri. Zainab adalah anak  perempuan dan bibi Rasulullah, Umaimah binti Abdul Muththalib. Beliau  sangat mencintai Zainab.</p>
<p><span id="more-28"></span></p>
<p><strong><em>Nasab dan Masa Pertumbuhannya</em></strong></p>
<p>Nama  lengkap Zainab adalah Zainab binti Jahsy bin Ri’ab bin Ya’mar bin  Sharah bin Murrah bin Kabir bin Gham bin Dauran bin Asad bin Khuzaimah.  Sebelum menikah dengan Rasulullah, namanya adalah Barrah, kemudian  diganti oleh Rasulullah menjadi Zainab setelah menikah dengan beliau.  Ibu dari Zainab bernama Umaimah binti Abdul-Muthalib bin Hasyim bin Abdi  Manaf bin Qushai. Zainab dilahirkan di Mekah dua puluh tahun sebelurn  kenabian. Ayahnya adalah Jahsy bin Ri’ab. Dia tergolong pernimpin  Quraisy yang dermawan dan berakhlak baik. Zainab yang cantik dibesarkan  di tengah keluarga yang terhormat, sehingga tidak heran jika orang-orang  Quraisy rnenyebutnya dengan perempuan Quraisy yang cantik.</p>
<p>Zainab  termasuk wanita pertarna yang memeluk Islam. Allah pun telah menerangi  hati ayah dan keluarganya sehingga memeluk Islam. Dia hijrah ke Madinah  bersama keluarganya. Ketika itu dia masih gadis walaupun usianya sudah  layak menikah.</p>
<p><strong><em> Pernikahannya dengan Zaid bin Haritsah</em></strong></p>
<p>Terdapat  beberapa ayat A1-Qur’an yang mernerintahkan Zainab dan Zaid  melangsungkan pernikahan. Zainab berasal dan golongan terhormat,  sedangkan Zaid bin Haritsah adalah budak Rasulullah yang sangat beliau  sayangi, sehingga kaum muslimin menyebutnya sebagai orang kesayangan  Rasulullah. Zaid berasal dari keluarga Arab yang kedua orang tuanya  beragama Nasrani. Ketika masih kecil, dia berpisah dengan kedua orang  tuanya karena diculik, kemudian dia dibeli oleh Hakam bin Hizam untuk  bibinya, Khadijah binti Khuwailid r.a., lalu dihadiahkannya kepada  Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam.</p>
<p>Ayah  Zaid, Haritsah bin Syarahil, senantiasa mencarinya hingga dia mendengar  bahwa Zaid berada di rumah Rasulullah. Ketika Rasulullah menyuruh Zaid  memilih antara tetap bersama beliau atau kembali pada orang tua dan  pamannya, Zaid berkata, “Aku tidak menginginkan mereka berdua, juga  tidak menginginkan orang lain yang engkau pilihkan untukku. Engkau  bagiku adalah ayah sekaligus paman.” Setelah itu, Rasulullah mengumumkan  pembebasan Zaid dan pengangkatannya sebagai anak. Ketika Islam datang,  Zaid adalah orang yang pertama kali memeluk Islam dari kalangan budak.  Dia senantiasa berada di dekat Nabi, terutama setelah dia rneninggalkan  Mekah, sehingga beliau sangat mencintainya, bahkan beliau pernah  bersabda tentang Zaid,</p>
<p><em>“Orang yang aku cintai adalah orang yang telah Allah dan aku beri nikmat. (HR. Ahmad)</em></p>
<p>Allah  telah memberikan nikmat kepada Zaid dengan keislamannya dan Nabi telah  memberinya nikmat dengan kebebasannya. Ketika Rasulullah hijrah ke  Madinah, beliau mempersaudarakan Zaid dengan Hamzah bin Abdul  Muththalib. Dalam banyak peperangan, Zaid selalu bersama Rasulullah, dan  tidak jarang pula dia ditunjuk untuk menjadi komandan pasukan. Tentang  Zaid, Aisyah pernah berkata, “Rasulullah tidak mengirimkan Zaid ke medan  perang kecuali selalu menjadikannya sebagai komandan pasukan,  Seandainya dia tetap hidup, beliau pasti menjadikannya sebagai pengganti  beliau.”</p>
<p>Masih  banyak riwayat yang menerangkan kedudukan Zaid di sisi Nabi Shallallahu  Alaihi Wassalam.. Sesampainya di Madinah beliau meminang Zainab binti  Jahsy untuk Zaid bin Haritsah. Semula Zainab membenci Zaid dan menentang  menikah dengannya, begitu juga dengan saudara laki-lakinya. Menurut  mereka, bagaimana mungkin seorang gadis cantik dan terhormat menikah  dengan seorang budak? Rasulullah menasihati mereka berdua dan  menerangkan kedudukan Zaid di hati beliau, sehingga turunlah ayat kepada  mereka:</p>
<p><em>“Dan  tidaklah patut bagi laki -laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi  perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan  suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan  mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka  sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.“ (Q.S. Al-Ahzab: 36)</em></p>
<p>Akhirnya  Zainab menikah dengan Zaid sebagai pelaksanaan atas perintah Allah,  meskipun sebenarnya Zainab tidak menyukai Zaid. Melalui pernikahan itu  Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam. ingin menunjukkan bahwa tidak ada  perbedaan di antara manusia kecuali dalam ketakwaan dan amal perbuatan  mereka yang baik. Pernikahan itu pun bertujuan untuk menghilangkan  tradisi jahiliah yang senang membanggakan diri dan keturunan. Akan  tetapi, Zainab tetap tidak dapat menerima pernikahan tersebut karena ada  perbedaan yang jauh di antara mereka berdua. Di depan Zaid, Zainab  selalu membangga-banggakan dirinya sehingga menyakiti hati Zaid. Zaid  menghadap Rasulullah untuk mengadukan perlakukan Zainab terhadap  dirinya. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. menyuruhnya untuk  bersabar, dan Zaid pun mengikuti nasihat beliau. Akan tetapi, dia  kembali menghadap Rasulullah dan menyatakan bahwa dirinya tidak mampu  lagi hidup bersama Zainab.</p>
<p>Mendengar  itu, beliau bersabda, “Pertahankan terus istrimu itu dan bertakwalah  kepada Allah.” Kemudian beliau mengingatkan bahwa pernikahan itu  merupakan perintah Allah. Beberapa saat kemudian turunlah ayat,  “Pertahankan terus istrimu dan bertakwalah kepada Allah.” Zaid berusaha  menenangkan din dan bersabar, namun tingkah laku Zainab sudah tidak  dapat dikendalikan, akhirnya terjadilah talak. Selanjutnya, Zainab  dinikahi Rasulullah.</p>
<p>Prinsip  dasar yang melatarbelakangi pernikahan Rasulullah dengan Zainab binti  Jahsy adalah untuk menghapuskan tradisi pengangkatan anak yang berlaku  pada zaman jahiliah. Artinya, Rasulullah ingin menjelaskan bahwa anak  angkat tidak sama dengan anak kandung, seperti halnya Zaid bin Haritsah  yang sebelum turun ayat Al-Qur’an telah diangkat sebagai anak oleh  beliau. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,</p>
<p><em>“Panggillah  mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak  mereka,’ itulah yang lebih adil pada sisi Allah, dan jika kamu tidak  mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggillah mereka sebagai)  saudara-saudara seagama dan maula-maulamu.” (QS. Al-Ahzab:5)</em></p>
<p>Karena  itu, seseorang tidak berhak mengakui hubungan darah dan meminta hak  waris dan orang tua angkat (bukan kandung). Karena itulah Rasulullah  menikahi Zainab setelah bercerai dengan Zaid yang sudah dianggap oleh  orang banyak sebagai anak Muhammad. Allah telah menurunkan wahyu agar  Zaid menceraikan istrinya kemudian dinikahi oleh Rasulullah. Pada  mulanya Rasulullab tidak memperhatikan perintah tersebut, bahkan meminta  Zaid mempertahankan istrinya. Allah memberikan peringatan sekali lagi  dalam ayat:</p>
<p><em>“Dan  (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah  melimpahkan nikmat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi nikmat  kepadanya, ‘Tahanlah terus istrimu dan bertakwalah kepada Allah, ‘sedang  kamu menyembunyikan dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan  kamu takut kepada manusia, sedang Allah- lah yang lebih berhak untuk  kamu takuti. Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap  istrinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak  ada keberatan bagi orang mukmin untuk (mengawini) istri-istri anak- anak  angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan  keperluan daripada istrinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti  terjadi.“ (QS. Al-Ahzab:37)</em></p>
<p>Ayat  di atas merupakan perintah Allah agar Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam.  menikahi Zainab dengan tujuan meluruskan pemahaman keliru tentang  kedudukan anak angkat.</p>
<p><strong><em> Menjadi Ummul-Mukminin</em></strong></p>
<p>Rasulullah  Shallallahu Alaihi Wassalam. mengutus seseorang untuk mengabari Zainab  tentang perintah Allah tersebut. Betapa gembiranya hati Zainab mendengar  berita tersebut, dan pesta pernikahan pun segera dilaksanakan serta  dihadiri warga Madinah.</p>
<p>Zainab  mulai memasuki rurnah tangga Rasulullah dengan dasar wahyu Allah.  Dialah satu-satunya istri Nabi yang berasal dan kerabat dekatnya.  Rasulullah tidak perlu meminta izin jika memasuki rumah Zainab sedangkan  kepada istri-istri lainnya beliau selalu meminta izin. Kebiasaan  seperti itu ternyata menimbulkan kecemburuan di hati istri Rasul  lainnya.</p>
<p>Orang-orang  munafik yang tidak senang dengan perkembangan Islam membesar-besarkan  fitnah bahwa Rasulullah telah menikahi istri anaknya sendiri. Karena  itu, turunlah ayat yang berbunyi,</p>
<p><em>“Muhammad  itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu,  tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi…. “ (Qs. Al-Ahzab:  40)</em></p>
<p>Zainab  berkata kepada Nabi, “Aku adalah istrimu yang terbesar haknya atasmu,  aku utusan yang terbaik di antara mereka, dan aku pula kerabat paling  dekat di antara mereka. Allah menikahkanku denganmu atas perintah dan  langit, dan Jibril yang membawa perintah tersebut. Aku adalah anak  bibimu. Engkau tidak memiliki hubungan kerabat dengan mereka seperti  halnya denganku.” Zainab sangat mencintai Rasulullah dan merasakan  hidupnya sangat bahagia. Akan tetapi, dia sangat pencemburu terhadap  istri Rasul lainnya, sehingga Rasulullah pernah tidak tidur bersamanya  selama dua atau tiga bulan sebagai hukuman atas perkataannya yang  menyakitkan hati Shafiyyah binti Huyay bin Akhtab wanita Yahudiyah itu.</p>
<p>Zainab  bertangan terampil, menyamak kulit dan menjualnya, juga mengerjakan  kerajinan sulaman, dan hasilnya diinfakkan di jalan Allah.</p>
<p><strong><em> Wafatnya</em></strong></p>
<p>Zainab  binti Jahsy adalah istri Rasulullah yang pertama kali wafat menyusul  beliau, yaitu pada tahun kedua puluh hijrah, pada masa kekhalifahan Umar  bin Khattab, dalarn usianya yang ke-53, dan dimakamkan di Baqi. Dalarn  sebuah riwayat dikatakan bahwa Zainab berkata menjelang ajalnya, “Aku  telah rnenyiapkan kain kafanku, tetapi Umar akan mengirim untukku kain  kafan, maka bersedekahlah dengan salah satunya. Jika kalian dapat  bersedekah dengan sernua hak-hakku, kerjakanlah dari sisi yang lain.”  Sernasa hidupnya, Zainab banyak mengeluarkan sedekah di jalan Allah.</p>
<p>Tentang  Zainab, Aisyah berkata, “Semoga Allah mengasihi Zainab. Dia banyak  menyamaiku dalarn kedudukannya di hati Rasulullah. Aku belum pernah  melihat wanita yang lebih baik agamanya daripada Zainab. Dia sangat  bertakwa kepada Allah, perkataannya paling jujur, paling suka menyambung  tali silaturahmi, paling banyak bersedekah, banyak mengorbankan diri  dalam bekerja untuk dapat bersedekah, dan selalu mendekatkan diri kepada  Allah. Selain Saudah, dia yang memiliki tabiat yang keras.”</p>
<p>Semoga  Allah memberikan kemuliaan kepadanya (Sayyidah Zainab Binti Jahsy) di  akhirat dan ditempatkan bersama hamba-hamba yang saleh. Amin.</p>
<p>Sumber: Buku Dzaujatur-Rasulullah , karya Amru Yusuf, Penerbit Darus-Sa’abu, Riyadh</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/shahabiah.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/shahabiah.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/shahabiah.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/shahabiah.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/shahabiah.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/shahabiah.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/shahabiah.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/shahabiah.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/shahabiah.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/shahabiah.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/shahabiah.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/shahabiah.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/shahabiah.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/shahabiah.wordpress.com/28/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=shahabiah.wordpress.com&amp;blog=15180232&amp;post=28&amp;subd=shahabiah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://shahabiah.wordpress.com/2010/08/14/zainab-binti-jahsyistri-rasulullah-yang-berasal-dan-kalangan-kerabat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/fcef25fed79197e5e90e53a4fbad9e3a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">shahabiah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://shahabiah.files.wordpress.com/2010/08/img55730262.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">img55730262</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Khadijah Bintu Khuwailid</title>
		<link>http://shahabiah.wordpress.com/2010/08/13/khadijah-bintu-khuwailid/</link>
		<comments>http://shahabiah.wordpress.com/2010/08/13/khadijah-bintu-khuwailid/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Aug 2010 11:39:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Shahabiah Zafaraan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Khadijah bintu Khuwailid]]></category>
		<category><![CDATA[ummahatul mukminin]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[istri rasulullah]]></category>
		<category><![CDATA[kisah shahabiah]]></category>
		<category><![CDATA[kisah teladan]]></category>
		<category><![CDATA[siroh]]></category>
		<category><![CDATA[wanita teladan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://shahabiah.wordpress.com/?p=3</guid>
		<description><![CDATA[Khadijah bintu Khuwailid: Penopang Duka Khairul Anam Penulis: Ummu ‘Abdirrahman Anisah bintu ‘Imran Siapakah yang menyangka saat itu, keharuman pribadinya kelak akan merebak di sepanjang sejarah Islam di setiap dada kaum muslimin? Siapakah yang menyangka, bahwa wanita yang mulia ini akan mendapatkan sebuah keutamaan yang besar yang telah ditetapkan Allah baginya? Siapakah yang menyangka, wanita [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=shahabiah.wordpress.com&amp;blog=15180232&amp;post=3&amp;subd=shahabiah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Khadijah bintu Khuwailid: Penopang Duka Khairul Anam</strong><br />
Penulis: Ummu ‘Abdirrahman Anisah bintu ‘Imran</p>
<p><a href="http://shahabiah.files.wordpress.com/2010/08/imagesmk.jpeg"><img class="aligncenter size-full wp-image-47" title="imagesmk" src="http://shahabiah.files.wordpress.com/2010/08/imagesmk.jpeg?w=500" alt=""   /></a></p>
<p>Siapakah yang menyangka saat itu, keharuman pribadinya kelak akan merebak di sepanjang sejarah Islam di setiap dada kaum muslimin? Siapakah yang menyangka, bahwa wanita yang mulia ini akan mendapatkan sebuah keutamaan yang besar yang telah ditetapkan Allah baginya? Siapakah yang menyangka, wanita cantik jelita ini akan mendampingi manusia yang paling mulia dalam rentang awal perjalanan dakwahnya? Siapakah yang menyangka saat itu…?</p>
<p><span id="more-3"></span></p>
<p>Muslimin manakah yang tak pernah mendengar sebutan namanya? Khadijah bintu Khuwailid bin Asad bin ‘Abdil ‘Uzza bin Qushay Al-Qurasyiyah Al-Asadiyah radhiyallahu‘anha yang tercatat sebagai istri Rasulullah Shallallahu `alaihi Wasalam sekaligus wanita pertama yang membenarkan pengangkatan Muhammad Shallallahu `alaihi Wasalam sebagai nabi dan beriman kepada Allah dan Rasul-Nya Shallallahu `alaihi Wasalam.</p>
<p>Sebelumnya dia dikenal sebagai seorang wanita yang menjaga kehormatan dirinya sehingga melekatlah sebutan ath-thaahirah pada dirinya. Dia seorang janda dari suaminya yang terdahulu, Abu Halah bin Zararah bin an-Nabbasy bin ‘Ady at-Tamimi, kemudian menikah dengan ‘Atiq bin ‘A`idz bin ‘Abdillah bin ‘Umar bin Makhzum. Saat dia kembali menjanda, seluruh pemuka Quraisy mengangankan agar dapat menyuntingnya.</p>
<p>Sebagaimana umumnya Quraisy yang hidup sebagai pedagang, Khadijah radhiyallahu‘anha adalah wanita pedagang yang mulia dan banyak harta. Tiada yang mengira, ternyata pekerjaannya itu akan mengantarkan pertemuannya dengan manusia yang paling mulia, Rasulullah Shallallahu `alaihi Wasalam.</p>
<p>Ia memberikan tawaran kepada seorang pemuda bernama Muhammad Shallallahu `alaihi Wasalam untuk membawa hartanya ke Syam, disertai budaknya yang bernama Maisarah. Perdagangan yang dibawa oleh Muhammad Shallallahu `alaihi Wasalam itu memberikan keuntungan yang berlipat. Tak hanya itu, Maisarah pun membawa buah tutur yang mengesankan tentang diri Muhammad Shallallahu `alaihi Wasalam.</p>
<p>Penuturan Maisarah membekas dalam hati Khadijah radhiyallahu`anha. Dia pun terkesan pada kejujuran, amanah, dan kebaikan akhlak Rasulullah Shallallahu `alaihi Wasalam. Tersimpan keinginan yang kuat dalam dirinya untuk memperoleh kebaikan itu, hingga diutuslah seseorang untuk menjumpai beliau dan menyampaikan hasratnya. Dia tawarkan dirinya untuk dipersunting Muhammad Shallallahu `alaihi Wasalam, seorang pemuda yang saat itu berusia dua puluh lima tahun. Gayung pun bersambut.</p>
<p>Namun, ayah Khadijah enggan untuk menikahkannya. Khadijah, wanita yang cerdas itu tak tinggal diam. Ia tak ingin terluput dari kebaikan yang telah bergayut dalam angannya. Dibuatnya makanan dan minuman, diundangnya ayah beserta teman-temannya dari kalangan Quraisy. Mereka pun makan dan minum hingga mabuk. Saat itulah Khadijah mengemukakan kepada ayahnya, “Sesungguhnya Muhammad bin ‘Abdillah telah mengkhitbahku, maka nikahkanlah aku dengannya.” Dinikahkanlah Khadijah dengan Muhammad Shallallahu `alaihi Wasalam, dan segera Khadijah memakaikan wewangian dan perhiasan pada diri ayahnya, sebagaimana kebiasaan mereka pada saat itu.</p>
<p>Tatkala sadar dari mabuknya, ayah Khadijah mendapati dirinya mengenakan wewangian dan perhiasan. Ia bertanya keheranan, “Mengapa aku? Apa ini?” Khadijah berkata kepada ayahnya, “Engkau telah menikahkanku dengan Muhammad bin ‘Abdillah.” Ayahnya pun berang, “Apakah aku akan menikahkanmu dengan anak yatim Abu Thalib? Tidak, demi umurku!” Khadijah menjawab, “Apakah engkau tidak malu, engkau ingin menampakkan kebodohanmu di hadapan orang-orang Quraisy dengan menyatakan kepada mereka bahwa engkau saat itu menikahkanku dalam keadaan mabuk?” Tak henti-henti Khadijah berucap demikian hingga ayahnya ridha.<br />
Wanita jelita itu, Khadijah radhiyallahu‘anha, mendapati kembali belahan hatinya dalam usia empat puluh tahun. Tergurat peristiwa ini dalam sejarah lima belas tahun sebelum Muhammad Shallallahu `alaihi Wasalam diangkat sebagai nabi.</p>
<p>Allah Subhanahu wa Ta`ala telah menentukan Khadijah radhiyallahu`anha mendampingi seorang nabi. Awal mula wahyu turun kepada Rasulullah Shallallahu `alaihi Wasalam berupa mimpi yang baik yang datang dengan jelas seperti munculnya cahaya subuh. Kemudian Allah jadikan beliau Shallallahu `alaihi Wasalam gemar menyendiri di gua Hira’, ber-tahannuts beberapa malam di sana. Lalu biasanya beliau kembali sejenak kepada keluarganya untuk menyiapkan bekal. Demikian yang terus berlangsung, hingga datanglah al-haq, dibawa oleh seorang malaikat.</p>
<p>Peristiwa ini sangat mengguncang hati Rasulullah Shallallahu `alaihi Wasalam. Bergegas-gegas beliau kembali menemui Khadijah radhiyallahu`anha dalam keadaan takut dan berkata, “Selimuti aku, selimuti aku!” Diselimutilah Rasulullah Shallallahu `alaihi Wasalam hingga beliau merasa tenang dan hilang rasa takutnya. Kemudian mulailah beliau mengisahkan apa yang terjadi pada dirinya. Beliau mengatakan kepada Khadijah, “Aku khawatir terjadi sesuatu pada diriku.”</p>
<p>Mengalirlah tutur kata penuh kebaikan dari lisan Khadijah radhiyallahu`anha, membiaskan ketenangan dalam dada suaminya, “Tidak, demi Allah. Allah tidak akan merendahkanmu selama-lamanya. Sesungguhnya engkau adalah seorang yang suka menyambung kekerabatan, menanggung beban orang yang kesusahan, memberi harta pada orang yang tidak memiliki, menjamu tamu dan membantu orang yang membela kebenaran.”</p>
<p>Lalu Khadijah radhiyallahu`anha membawa suaminya menemui Waraqah bin Naufal bin Asad bin ‘Abdil ‘Uzza, anak paman Khadijah radhiyallahu`anha, seorang yang beragama Nashrani pada masa itu dan telah menulis al-Kitab dalam bahasa Ibrani. Dia adalah seorang laki-laki yang lanjut usia dan telah buta. Khadijah radhiyallahu`anha berkata padanya, “Wahai anak pamanku, dengarkanlah penuturan anak saudaramu ini.” Waraqah pun bertanya, “Wahai anak saudaraku, apa yang engkau lihat?”</p>
<p>Rasulullah Shallallahu `alaihi Wasalam menuturkan pada Waraqah apa yang beliau lihat. Setelah itu, Waraqah mengatakan, “Itu adalah Namus yang Allah turunkan kepada Musa. Aduhai kiranya aku masih muda pada saat itu! Aduhai kiranya aku masih hidup ketika kaummu mengusirmu!” Mendengar itu, Rasulullah Shallallahu `alaihi Wasalam bertanya, “Apakah mereka akan mengusirku?” Waraqah menjawab, “Ya. Tidak ada seorang pun yang membawa seperti yang engkau bawa kecuali pasti dimusuhi. Kalau aku menemui masa itu, sungguh-sungguh aku akan menolongmu.” Namun tak lama kemudian, Waraqah meninggal.</p>
<p>Inilah kiprah pertama Khadijah bintu Khuwailid radhiyallahu`anha semenjak masa nubuwah. Dia pulalah orang pertama yang shalat bersama Rasulullah Shallallahu `alaihi Wasalam dan ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu`anha. Terus mengalir dukungan dan pertolongan Khadijah radhiyallahu`anha kepada Rasulullah Shallallahu `alaihi Wasalam dalam menghadapi kaumnya. Setiap kali beliau mendengar sesuatu yang tidak beliau sukai dari kaumnya, beliau menjumpai Khadijah radhiyallahu`anha. Lalu Khadijah pun menguatkan hati beliau, meringankan beban yang beliau rasakan dari manusia.</p>
<p>Tak hanya itu kebaikan Khadijah radhiyallahu`anha. Dia berikan apa yang dimiliki kepada suami yang dicintainya. Bahkan ketika Rasulullah Shallallahu `alaihi Wasalam menampakkan rasa senangnya pada Zaid bin Haritsah, budak yang berada di bawah kepemilikannya, Khadijah pun menghibahkan budak itu kepada suaminya. Inilah yang mengantarkan Zaid memperoleh kemuliaan menjadi salah satu orang yang terdahulu beriman.</p>
<p>Dialah Khadijah bintu Khuwailid radhiyallahu`anha. Kemuliaan itu telah diraihnya semenjak ia masih ada di muka dunia. Tatkala Jibril `Alaihis Salam datang kepada Rasulullah Shallallahu `alaihi Wasalam dan mengatakan, “Wahai Rasulullah, ini dia Khadijah. Dia akan datang membawa bejana berisi makanan atau minuman. Bila ia datang padamu, sampaikanlah salam padanya dari Rabbnya dan dariku, dan sampaikan pula kabar gembira tentang rumah di dalam surga dari mutiara yang berlubang, yang tak ada keributan di dalamnya, dan tidak pula keletihan.”</p>
<p>Tiba pungkasnya masa Khadijah radhiyallahu`anha mendampingi suaminya yang mulia. Khadijah radhiyallahu`anha kembali kepada Rabbnya `Azza wa Jalla, tak lama berselang setelah meninggalnya Abu Thalib, paman Rasulullah Shallallahu `alaihi Wasalam. Tahun itu menjadi tahun berduka bagi Rasulullah Shallallahu `alaihi Wasalam. Kaum musyrikin pun semakin berani mengganggu beliau sampai akhirnya Allah perintahkan beliau untuk meninggalkan Makkah menuju negeri hijrah, Madinah, tiga tahun setelah itu.</p>
<p>Khadijah bintu Khuwailid radhiyallahu`anha. Kemuliaannya, kebaikannya dan kesetiaannya senantiasa dikenang oleh Rasulullah Shallallahu `alaihi Wasalam hingga merebaklah kecemburuan ‘Aisyah radhiyallahu`anha, “Bukankah dia itu hanya seorang wanita tua yang Allah telah mengganti bagimu dengan yang lebih baik darinya?” Perkataan itu membuat Rasulullah Shallallahu `alaihi Wasalam marah, “Tidak, demi Allah. Tidaklah Allah mengganti dengan seseorang yang lebih baik darinya. Dia beriman ketika manusia mengkufuriku, dia membenarkan aku ketika manusia mendustakanku, dia memberikan hartanya padaku saat manusia menahan hartanya dariku, dan Allah memberikan aku anak darinya yang tidak diberikan dari selainnya.”</p>
<p>Khadijah bintu Khuwailid radhiyallahu`anha. Kemuliaan itu telah dijanjikan melalui lisan mulia Rasulullah Shallallahu `alaihi Wasalam, “Wanita ahli surga yang paling utama adalah Khadijah bintu Khuwailid, Fathimah bintu Muhammad Shallallahu `alaihi Wasalam, Maryam bintu ‘Imran, dan Asiyah bintu Muzahim istri Fir’aun.” Semoga Allah meridhainya.<br />
Wallahu ta`ala a’lamu bish-shawab.</p>
<p>(Hadiah untuk putriku tersayang, Khadijah bintu Abi Ishaq, untuk suamiku tercinta dan untuk istri-istri suamiku yang mulia)</p>
<p>(Disusun oleh Ummu ‘Abdirrahman Anisah bintu ‘Imran)</p>
<p>DAFTAR PUSTAKA:<br />
Al-Ishabah, Al-Imam Ibnu Hajar Al-‘Asqalani<br />
Mukhtashar Sirah ar-Rasul, Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab<br />
Shahih Al-Bukhari, Al-Imam Al-Bukhari<br />
Shahih As-Sirah An-Nabawiyah, Asy-Syaikh Ibrahim Al-‘Aly<br />
Siyar A’lamin Nubala’, Al-Imam Adz-Dzahabi</p>
<p>Sumber: http://asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&amp;id_online=8<br />
***<br />
<strong>Inilah Cinta dan Kesetiaan !<br />
Oleh:Ummu Raihanah</strong><br />
Pada dirinya yang mulia sumber  teladan bagi setiap manusia yang berusaha menggapai ridha-Nya. Terpesona pada kehidupannya yang tak akan pernah habis dan puas di reguk oleh hamba-hambaNya yang merindukan surga-Nya.Sampai masalah kehidupan pribadinya pun begitu indah mempesona. Ia memberi teladan bagi para suami tentang arti cinta dan kesetiaan pada pasangannya yang sesungguhnya. Cinta itu tak kan pernah lekang oleh ruang dan waktu yang di lewati manusia. Walau sang belahan jiwa tercinta telah keharibaan-Nya. Tapi cinta itu tetap membara di dalam dadanya yang suci dan mulia. Bila ia teringat pada sang kekasihnya tercinta yang telah tiada, bibirnya yang mulia tak kan jemu senantiasa menyebut namanya ,memujinya dan memintakan ampunan untuknya. Adakah para suami istri berhasrat untuk meneladani cinta dan kesetiaannya?</p>
<p>Duhai, para suami,…junjunganmu memberikan contoh yang sangat istimewa dan mulia. Tentang kisah cinta dan kesetiaannya yang telah disaksikan oleh istri-istrinya yang lain dan para sahabatnya yang mulia. Generasi seterusnya dan para ulamapun membukukannya dalam tulisan mereka. Sehingga kisah ini bukanlah dongengan ataupun khayalan semata. Akan tetapi ia nyata adanya dan bagi orang yang ingin menirunya tentu pahala menantinya. Tidakkah hatimu tergerak untuk mewujudkannya?</p>
<p>Rasulmu tercinta yang amat sangat mencintai umatnya adalah sangat menghargai jasa istrinya. Bukti penghargaan beliau ini diwujudkan dengan tidak menikahnya beliau dengan wanita lain ketika Khadijah radiyallahu anha masih hidup mendampinginya. Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari jalan Az-Zuhri dari Urwah radiyallahu anhu bahwa Aisyah radiyallahu anha berkata:</p>
<p>“Nabi Shalallahu alaihi wassalam tidak menikahi wanita lain sampai khadijah wafat”1</p>
<p>Hal ini tidak diperselisihkan di kalangan ahli ilmu dan sejarawan yang menunjukkan betapa agungnya kedudukan khadijah radiyallahu anha dalam hati beliau, tidakkah engkau memikirkannya?</p>
<p>Wahai para istri,…mengapa sangat agung kedudukan Khadijah radiyallahu anha dalam hati beliau shalallahu alaihi wassalam?Karena ia telah memberikan pengorbanan dan jasa yang sangat besar dalam kehidupan suaminya tercinta.Ia tak kenal  lelah dan letih begitu setia mendampingi  Rasulullah shalallahu alaihi wassalam dalam berdakwah mengenalkan islam pada masyarakat Quraisy waktu itu, sehingga sang suami mendapat berbagai cobaan, ujian dan kesulitan dalam hidupnya. Ia korbankan harta bendanya untuk sang suami tercinta di jalan dakwahnya, memberikan dukungan, ketenangan dan kasih sayang yang melimpah ruah dalam rumah tangganya.Mendidik anak-anak beliau sehingga menjadi penyejuk mata bagi keduanya.Inilah sosok istri teladan yang patut  bagi setiap muslimah untuk mencontohnya dan mempersembahkannya untuk suami tercinta sehingga rumah tangga setiap muslim menjadi kokoh dan kuat bangunannya.Wajarlah bila Allah Azza wa jalla memberikan kabar gembira atas jasa-jasa beliau ini berupa istana di surga.Dari Abu Hurairah radiyallahu anhu bahwa suatu ketika malaikat Jibril mendatangi Rasulullah shalallahu alaihi wassalam dia berkata :</p>
<p>”Wahai Rasulullah, itu Khadijah telah datang membawa makanan atau minuman. Kalau sudah tiba, sampaikan salam kepadanya dari Allah dan dariku, dan berilah kabar gembira bahwa telah di sediakan untuknya sebuah istana di surga yang terbuat dari intan permata dan di istana tersebut tidak ada keributan maupun keletihan”2</p>
<p>Selain itu atas jasa besar Khadijah radiyallahu anha yang sangat tulus dalam memperjuangkan islam akhirnya beliaupun berhak menyandang gelar sebagai wanita yang terbaik pada umat ini. Dari Ali bin Abu Thalib Radiyallahu anhu bahwa Rasulullah Shalalahu alaihi wassalam bersabda:</p>
<p>“Wanita mereka yang terbaik adalah Maryam (yakni kepada umat yang didalamnya terdapat Maryam)dan wanita umat ini yang terbaik adalah Khadijah “3</p>
<p>Bukankah Allah sangat cepat hisabnya wahai saudariku,…Tidaklah Dia membalas kebaikan melainkan dengan kebaikan  bahkan yang berlipat ganda, dan tidakkah kita ingin meraihnya?</p>
<p>Untuk para suami yang berusaha membahagiakan sang istri tercinta,…walau Khadijah radiyallahu anha  telah tiada penghormatan beliau padanya tetap seperti di masa hidupnya . Beliau senantiasa memberikan hadiah pada kerabat dan kawan-kawan istrinya sebagai bukti nyata cinta beliau bukan hanya isapan jempol belaka.Sehingga perbuatan beliau ini membuat Aisyah radiyallahu anha sangat cemburu, Aisyah berkata :</p>
<p>“Aku tidak pernah cemburu kepada satupun diantara istri-istri Rasulullah shalallahu alaihi wassalam seperti cemburuku kepada Khadijah. Aku tidak melihatnya, akan tetapi Rasulullah sering menyebut namanya. Terkadang beliau menyembelih  kambing, lalu memotong-motongnya, kemudian membagi-bagikannya kepada kawan-kawan Khadijah.Pernah aku berkata pada beliau, ‘Seolah-olah tidak ada perempuan lain di dunia ini selain Khadijah?” Beliau menjawab : “Dia dulu begini dan begitu. Dan darinya pula aku punya anak”4</p>
<p>Tentang perkataan Aisyah”…akan tetapi Rasulullah sering sekali menyebut namanya” Ibnu Hajar berkata bahwan dalam riwayat Abdullah al-Bahiyy dari Aisyah sebagaimana di sebutkan dalam Kitab Ath-Thabrani “beliau menyebut nama Khadijah, tidak bosan-bosan memujinya dan beristighfar untuknya”5</p>
<p>Tentang perkataan Rasulullah Shalalahu alaihi wassalam : “Dia dahulu begini dan begitu” Ibnu Hajar berkata bahwa maksudnya dia adalah wanita mulia, cerdas dan sejenisnya.6</p>
<p>Dalam kitab Al-Musnad Imam Ahmad menyebutkan riwayat Masruq dari Aisyah bahwa Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam bersabda:</p>
<p>“Dia beriman kepadaku ketika orang-orang ingkar, membenarkanku ketika orang-orang mendustakanku, membantuku dengan hartanya ketika orang-orang tidak mau memberi bantuan, dan Allah Subhanahu wa ta’ala memberiku anak darinya ketika Dia tidak memberiku anak dari wanita lain”7.</p>
<p>Imam Nawawi berkata  : “Hadits-hadits ini merupakan dalil kesetiaan, penjagaan cinta kasih, dan penghormatan kepada pasangan hidupnya baik semasa hidup maupun setelah mati, serta penghormatan kepada para kenalan teman hidup tersebut”.8.</p>
<p>Jasa istrinya selalu beliau kenang sepanjang masa, sepanjang perjalanan hidupnya. Beliau begitu setia, santun, memiliki pergaulan yang baik dengan istrinya, menjaga kehormatan hidup istrinya baik di saat hidup maupun setelah tiada serta memuliakan kerabat dan teman-temannya.Cintanya tak pernah lekang di makan usia bahkan beliau tetap setia mencintainya ,senantiasa menyebut namanya. Betapa indahnya!</p>
<p>Aisyah berkata bahwa Haalah binti Khuwailid saudara perempuan Khadijah meminta izin bertemu Rasulullah Shalallahu alihi wassalam. Saat itu beliau teringat akan cara minta izinnya Khadijah yaitu cara minta ijin Haalah yang mirip dengan Khadijah. Beliaupun terkenang dan terkejut dengan berkata “ Ya, Allah itu Haalah!” Aisyah yang melihat sikap beliau ini menjadi sangat cemburu. Aku berkata pada beliau :”Untuk apa engkau mengingat-ingat perempuan tua yang sudah tanggal giginya (ompong) dan sudah lama mati, padahal Allah telah memberimu ganti yang lebih baik darinya”9</p>
<p>Tidakkah engkau melihat kecemburuan Aisyah? Cemburu pada wanita yang telah tiada? Rasulullah tidak pernah melupakannya, melupakan gerak-gerik istrinya di masa hidupnya semua terekam indah dalam ingatan beliau. Hingga Aisyahpun tak kuasa menahan kecemburuannya.Adakah yang mau merenungkannya?</p>
<p>Pada Rasulullah suri tauladan yang menawan, semoga dengan membaca kisah cinta dan kesetiaannya hatimu akan tertawan. Alangkah indah dan manisnya hidup dalam cinta dan kesetiaan.Sehingga tenanglah hati para istri mengarungi biduk rumah tangga yang penuh onak dan duri-duri kehidupan. Islamlah solusi kehidupan bagi para pasangan. Di dalamnya akan kita dapati jalan keluar yang kita butuhkan.  Wahai para suami,…apalagi yang engkau pikirkan? Jika manusia yang paling mulia di atas bumi ini telah mengajarkanmu arti cinta dan kesetiaan. Tidakkah ingin engkau persembahkan kepada pasangan hidupmu yang telah Allah halalkan? Dan tentu para istripun akan menambah pengabdian dan ketaatan mereka padamu karena inilah yang mereka harapkan! Wallahu ‘alam bish-shawwab.</p>
<p>Artikel ini telah di muraja’ah oleh : Ustadz Khalid Samhudi Lc dan Ustadz Muhammad Elvy Syam Lc.</p>
<p>Sumber Rujukan :<br />
1.Fathul Baari Syarah Shahihul Bukhari jilid 7  Kitabul Manaqib Al-Anshariy, Bab Tazwiijun Nabi Shalallahu alaihi wassalam Khadijata wa fadhliha radiyallahu anha, di tahkik oleh Syaikh Abdullah bin Baaz, daarul Fikr, Lebanon.</p>
<p>2.Ringkasan Shahih Muslim, Imam Al-Mundziri ,Bab Keutamaan Khadijah Radiyallahu anha Ummul Mukminin, Istri Nabi Shalallahu alaihi wassalam hal:  976-978, Pustaka Amani,Jakarta<br />
Catatan kaki:</p>
<p>1. Fathul Baari 7:517 [↩]<br />
2. HR. Bukhari no.3820 dan Muslim no.1671 [↩]<br />
3. HR.Bukhari no.3815 Fathul Baari 7/512 dan Muslim no.1670 [↩]<br />
4. HR. Bukhari no 3818 [↩]<br />
5. Fathul Baari :7/516 [↩]<br />
6. Fathul Baari : 7/516 [↩]<br />
7. fathul Baari 7/516 [↩]<br />
8. Fathul Baari, 7/517 [↩]<br />
9. HR.Bukhari no.3821 Muslim no.1674 [↩]<br />
***</p>
<h1>Cinta Sepanjang Masa</h1>
<p>Ia adalah wanita yang terus hidup dalam hati suaminya sampaipun ia telah meninggal dunia. Tahun-tahun yang terus berganti tidak dapat mengikis kecintaan sang suami padanya. Panjangnya masa tidak dapat menghapus kenangan bersamanya di hati sang suami. Bahkan sang suami terus mengenangnya dan bertutur tentang andilnya dalam ujian, kesulitan dan musibah yang dihadapi. Sang suami terus mencintainya dengan kecintaan yang mendatangkan rasa cemburu dari istri yang lain, yang dinikahi sepeninggalnya. (Mazin bin Abdul Karim Al Farih  dalam kitabnya Al Usratu bilaa Masyaakil)</p>
<p>Suatu hari istri beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lain (yakni ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha) berkata, “Aku tidak pernah cemburu kepada seorang pun dari istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti cemburuku pada Khadijah, padahal aku tidak pernah melihatnya, akan tetapi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu menyebutnya.” (HR. Bukhari)</p>
<p>Ya, dialah Khadijah bintu Khuwailid bin Asad bin ‘Abdul ‘Uzza bin Qushai. Dialah wanita yang pertama kali dinikahi oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bersamanya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membina rumah tangga harmonis yang terbimbing dengan wahyu di Makkah. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menikah dengan wanita lain sehingga dia meninggal dunia.</p>
<p>Saat menikah, Khadijah radhiyallahu ‘anha berusia 40 tahun sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berusia 25 tahun. Saat itu ia merupakan wanita yang paling terpandang, cantik dan sekaligus kaya. Ia menikah dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tak lain karena mulianya sifat beliau, karena tingginya kecerdasan dan indahnya kejujuran beliau. Padahal saat itu sudah banyak para pemuka dan pemimpin kaum yang hendak menikahinya.</p>
<p>Ia adalah wanita terbaik sepanjang masa. Ia selalu memberi semangat dan keleluasaan pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mencari kebenaran. Ia sendiri yang menyiapkan bekal untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saat beliau menyendiri dan beribadah di gua Hira’. Seorang pun tidak akan lupa perkataannya yang masyhur yang menjadikan Nabi merasakan tenang setelah terguncang dan merasa bahagia setelah bersedih hati ketika turun wahyu pada kali yang pertama, “Demi Allah, Allah tidak akan menghinakanmu selama-lamanya. Karena sungguh engkau suka menyambung silaturahmi, menanggung kebutuhan orang yang lemah, menutup kebutuhan orang yang tidak punya, menjamu dan memuliakan tamu dan engkau menolong setiap upaya menegakkan kebenaran.” (HR. Muttafaqun ‘alaih) (Mazin bin Abdul Karim Al Farih  dalam kitabnya Al Usratu bilaa Masyaakil)</p>
<p>Pun, saat suaminya menerima wahyu yang kedua berisi perintah untuk mulai berjuang mendakwahkan agama Allah dan mengajak pada tauhid, ia adalah wanita pertama yang percaya bahwa suaminya adalah utusan Allah dan kemudian menyatakan keislamannya tanpa ragu-ragu dan bimbang sedikit pun juga.</p>
<p>Khadijah termasuk salah satu nikmat yang Allah anugerahkan pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia mendampingi beliau selama seperempat abad, menyayangi beliau di kala resah, melindungi beliau pada saat-saat yang kritis, menolong beliau dalam menyebarkan risalah, mendampingi beliau dalam menjalankan jihad yang berat, juga rela menyerahkan diri dan hartanya pada beliau. (Syaikh Shafiyurrahman Al Mubarakfury di dalam Sirah Nabawiyah)</p>
<p>Suatu kali ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah beliau menyebut-nyebut Khadijah, “Seakan-akan di dunia ini tidak ada wanita lain selain Khadijah?!” Maka beliau berkata kepada ‘Aisyah, “Khadijah itu begini dan begini.” (HR. Bukhari)</p>
<p>Dalam riwayat Ahmad pada Musnad-nya disebutkan bahwa yang dimaksud dengan “begini dan begini” adalah sabda beliau, “Ia beriman kepadaku ketika semua orang kufur, ia membenarkan aku ketika semua orang mendustakanku, ia melapangkan aku dengan hartanya ketika semua orang mengharamkan (menghalangi) aku dan Allah memberiku rezeki berupa anak darinya.” (Mazin bin Abdul Karim Al Farih  dalam kitabnya Al Usratu bilaa Masyaakil)</p>
<p>Karenanya saudariku muslimah, jika engkau ingin hidup dalam hati suamimu maka sertailah dia dalam mencintai dan menegakkan agama Allah, sertailah dia dalam suka dan dukanya. Jadilah engkau seperti Khadijah hingga engkau kelak mendapatkan apa yang ia dapatkan. Sebagaimana yang diriwayatkan dalam Shahih Bukhari, Jibril mendatangi nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata, “Wahai Rasulullah, inilah Khadijah yang datang sambil membawa bejana yang di dalamnya ada lauk atau makanan atau minuman. Jika dia datang, sampaikan salam kepadanya dari Rabb-nya, dan sampaikan kabar kepadanya tentang sebuah rumah di surga, yang di dalamnya tidak ada suara hiruk pikuk dan keletihan.”</p>
<p>Saudariku muslimah, maukah engkau menjadi Khadijah yang berikutnya?</p>
<p>Maraji:</p>
<p>1. Rumah Tangga tanpa Problema (terjemahan dari Al Usratu bilaa Masyaakil) karya Mazin bin Abdul Karim Al Farih<br />
2. Sirah Nabawiyah (terj) karya Syaikh Shafiyurrahman Al Mubarakfury<br />
3. Al Quran dan Terjemahnya</p>
<p>***</p>
<p>Penyusun: Ummu Abdirrahman<br />
Muroja’ah: ustadz Abu Salman<br />
Artikel www.muslimah.or.id</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/shahabiah.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/shahabiah.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/shahabiah.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/shahabiah.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/shahabiah.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/shahabiah.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/shahabiah.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/shahabiah.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/shahabiah.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/shahabiah.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/shahabiah.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/shahabiah.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/shahabiah.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/shahabiah.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=shahabiah.wordpress.com&amp;blog=15180232&amp;post=3&amp;subd=shahabiah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://shahabiah.wordpress.com/2010/08/13/khadijah-bintu-khuwailid/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/fcef25fed79197e5e90e53a4fbad9e3a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">shahabiah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://shahabiah.files.wordpress.com/2010/08/imagesmk.jpeg" medium="image">
			<media:title type="html">imagesmk</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
